Jumat, 28 Oktober 2011

^YANG KU TAHU SAAT INI ADALAH BAHAGIA^

Ketika aku menangis aku tahu aku sedang menikmati hidup. Aku tak mungkin bisa tahu bagaimana perihnya cinta, aku tak akan tahu indahnya suatu perasaan jika aku tak mencintainya. Di sekolah ini, aku bertemu dengan Marga, sosok cowok idaman yang menghantuiku tiga bulan yang lalu. Marga berdiri di depanku dengan tatapan seakan penuh tanya “Apa dia suka padaku?” harapku. Aku terus menatap matanya yang indah layaknya wanita konyol yang ingin mendapatkan cinta dari lelaki yang kusebut pangeran.
”Marisa??” aku tersontak, seketika aku melepaskan tatapanku.
”Lo kenapa ada di sini?” tanyanya membuatku gugup.
“Guee .. ee .. e ..” aku tak dapat berucap.
 “Ini kan ruang ganti cowok” selanya hingga membuatku malu.
 “Owh ... iya, gue lupa kenapa gue ada di sini ya? Hehe ..” aku berbalik badan dan gigit jari, padahal niatku akan memberinya sapu tangan yang kubuat sendiri.
“Marisa?!!” panggilnya lagi padaku, spontan aku kembali membalikkan badanku.
“Iyaa??” dengan polosnya aku menjawab panggilannya.

Senin, 28 Februari 2011

^AKU KEHILANGAN RIZKY^


Baru saja aku turun dari angkot yang selalu mengantarku ke sekolah aku sudah disambut dengan senyuman seorang Rizky, lelaki berusia tujuh belas tahun yang selalu ada dalam mimpiku. Dia begitu tampan hari ini. Rasanya sayang sekali jika hari ini dia harus berpanas-panasan di tengah lapangan untuk menjadi pemimpin upacara sebagai perwakilan kelasnya. Aku cemburu dengan matahari yang baru terbit dari bumi disambut dengan indahnya hati seorang Rizky, terlebih matahari akan lebih puas memandangnya setiap hari. Aku segera memposisikan diri di barisan paling depan dari rombongan kelasku. “Siaaaaap grakkk!!”, aba-aba dari suara terindah yang pernah kudengar mengiringi jalannya upacara hari ini. Saat ini dia sedang berdiri tepat di hadapanku, hingga sesering mungkin aku harus merapikan seragam, rambut, dan mengelapi keringatku dengan tisu yang selalu bertempat tinggal di kantong kemejaku. Hari ini aku benar-benar tak ingin kalah dengan matahari yang puas memandang Rizky, dan yang kulihat keringat yang mulai berjatuhan dari keningnya membuatnya semakin tak ingin lepas untuk kupandang, terlebih saat walikelasnya naik ke atas mimbar untuk sambutan, ia pun berbalik dan membelakangiku dan sangat jelas terasa begitu hebat matahari memandangnya hingga keringat berani membasahi kemeja putih berdasi yang kuharap dapat kucuci sepulang sekolah nanti. Tak kusangka, pagi ini mengawali hari yang istimewa untukku.