Aku
tak pernah tahu bagaimana Tuhan akan menyabut nyawaku suatu saat nanti. Aku
juga tak akan pernah tahu jika suatu saat nanti Tuhan akan membiarkanku
sendiri. Yang aku tahu, Tuhan selalu menunjukkanku bagaimana memaknai hidup.
Bagiku Tuhan sangat sempurna. Dengan mengayuh sepeda sportku, aku terus mencari pemandangan yang indah untuk menjadi
objek lukisanku. Pikiranku kini hanya tertuju pada satu titik, yaitu pemandangan
alam yang sangat indah. Hamparan perkebunan teh yang hijau dan matahari yang
mulai tenggelam dengan senyumku membuat dunia terasa nyaman dan indah. Aku
segera menyiapkan segala peralatan lukisku. Dengan sigap aku keluarkan kanvas,
kuas, dan peralatan lainnya dalam ranselku. “Cekkkrriiikkk!” suara itu
terdengar dari telingaku yang tak akan tuli. Kulihat, dengan santainya seorang
lelaki sedang memotretku dari jauh
dengan kamera canggihnya. Spontan, aku segera menutupi wajah imutku dengan topi
sampai tak terlihat lagi olehnya.
“Thanks ya, Mbak!” teriak lelaki itu dan
meninggalkanku.
