Kamis, 25 Oktober 2012

^TO DAISY^


Hari itu menjadi hari yang sangat membahagiakan untuk Faris. Ia dapat melihat dan berbincang-bincang dengan Daisy yang hampir tiga tahun tidak bertemu. Diacara reuni akbar SMPnya itu orang yang pertama Faris cari adalah Daisy, seseorang yang dari kelas satu SMP telah memenuhi otak sarafnya.  Faris tetap dikenal sebagai seorang pemuda yang baik dan apa adanya oleh teman, sahabat, guru-gurunya bahkan orang yang paling special, yaitu Daisy. Kesederhanaannya membuat semua orang kagum saat mengetahui kehidupan Faris yang sebenarnya serba tercukupi. Saat Faris ditunjuk menjadi salah-satu pengisi acara reuni akbar SMPnya tersebut, ia sempat ragu dan merasa tak pede. Namun saat ia tak sengaja melihat ke arah Daisy, Daisy tersenyum dan dengan senyuman Daisylah yang mampu membuat Faris menyetujui permintaan teman-teman panitianya agar Faris mau menunjukan kepiawaiannya memainkan biola. Entah apa yang terjadi, saat itulah senyum Daisy mulai merekah kembali diiringi nada harmoni dari biola Faris. Tatapan Daisy begitu nyata dan benar-benar hidup saat melihatnya bermain biola. Tepat diharmoni terakhir, Daisylah orang pertama yang bertepuk tangan dan diikuti yang lain. Faris pun semakin yakin bahwa Daisy sadar telah menyukainya.

 “Hi Faris, tadi lo keren banget,” puji Daisy saat bersama teman-temannya. Faris terkejut dan sontak merelakan minuman favorit yang ia pegang habis diminum Beni, sepupunya yang juga alumni SMP Al-Azhar.
Thanks ya Daisy. Gimana kabar lo?” balas Faris gugup.
“Baik kok. Selamat ya sudah terpilih menjadi ketua osis disekolah lo?”
“Emm ... iya Daisy, thanks” Faris tersenyum.
Karena menyadari kedekatan Faris dan Daisy, semua teman-temannya yang sedang bersama Faris pun pergi meninggalkan mereka berdua. Saat itu Faris tidak menyangka kalau Daisy masih mengingatnya, terlebih saat Daisy menyinggung perasaannya yang telah kacau empat tahun yang lalu. Faris mulai menata dan berharap kembali akan meyakinkan pada Daisy bahwa ia masih menyukainya. Tak banyak yang Faris katakan pada Daisy saat itu, hanya sedikit kata-kata yang menyadarkan Daisy dari mimpinya. Begitupun Daisy, tak banyak kata yang terucap dari mulutnya selain senyuman-senyuman yang akan menghidupkan harapan Faris kembali.
            Malam hening menyapa Faris dengan sebuah harapan. Ia selalu berpikir apa yang harus ia lakukan jika suatu saat Daisy menghilang lagi dari hidupnya. Sebab, sudah tiga kalinya Daisy menghilang, kembali, menghilang dan terus seperti itu. Daisy bak bayangan yang begitu mudah menghilang dan menghantui hidupnya, lalu menghilang lagi tanpa sebab yang jelas. Empat bulan lalu, begitu senangnya Faris disapa oleh Daisy walau hanya melalui sebuah pesan singkat yang terdiri dari tiga kata. Terlebih saat itu begitu besar perhatian yang Daisy berikan untuknya melebihi perhatian sang ibu. Namun, semua itu sirna saat bbm Daisy non-aktif. Dan kini Daisy kembali hadir, dan meramaikan kondisi Faris yang saat ini butuh sebuah perhatian yang jarang ia ungkapkan.
Sore hari di sekolah
Faris bersiap menjalankan ekskul taekwondonya. Dengan seragam lengkap taekwondo  , ia bersemangat melakukan gerakan demi gerakan yang diajarkan oleh pelatih.
“Perasaan gue, hari ini lo semangat banget Ris, ada angin apa nih?” tanya Adlan, sahabatnya. Namun Faris yang terkenal pendiam dan lugu itu hanya tersenyum dan mengusap wajahnya yang berkringat. Adlan terus memperhatikan Faris yang aneh.
“Owh, gue tahu, gue tahu! haha” kata Adlan lagi sambil menepuk pundak Faris.
“Tahu apa lo?” Faris mulai salah tingkah.
“Kasih tahu enggak yaaa..??” ejek Adlan ala anak layangan.
“Udah lah, balik yuk!” ulas Faris seakan meloloskan diri dari pembicaraan. Adlan terus tertawa dan menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya yang aneh.
Handphonenya selalu ia kantungi di kemejanya, namun kali ini tak biasanya Faris menggenggam handphonenya, itu terjadi karena ia sangat menunggu bbm dari Daisy. Begitu berharganyakan Daisy untuk Faris? sepertinya iya. Kali ini Daisy berhasil membulatkan harapan Faris kembali yang sempat redup. Sebab, Daisy menyetujui ajakan Faris untuk nonton film yang ia tunggu-tunggu. Dengan seragam sekolah berbeda yang masih melekat ditubuh mereka, mereka terus melangkah menyusuri keramaian XXI yang akan menayangkan film TAKEN perdana. Karena saking ramainya dan Daisy sering tertinggal oleh langkah Faris yang cepat, secara spontan Faris pun menggandeng tangan Daisy yang sejak lima tahun ia sukai. Tangan Daisy begitu halus dan dingin, entah apa yang ada dalam benak Daisy saat Faris menggandeng tangannya. Yang Faris tahu Daisy tersenyum malu saat ia menggandeng tangannya. Mereka menonton bersama. Kedekatan itu terus berlanjut. Namun apa yang membuat Faris tidak mengungkapkan perasaannya? Faris adalah sosok lelaki yang tidak mudah mengungkapkan perasaaannya secara gamblang. Ia tidak ingin main-main dalam menjalin suatu hubungan. Apalagi dengan Daisy, seorang wanita yang ideal dan type Faris, yang Faris harapkan suatu saat akan menjadi ibu untuk anak-anaknya.
            “Udah tahu Daisy sering hilang-hilangan, kenapa lo masih enggak nembak dia juga?” Adlan membuka percakapan saat menunggu bel masuk seusai istirahat.
“Belum waktunya Dlan,” tegas Faris
“Terus kalau Daisy hilang lagi gimana?”
“Ya jangan sampai gitu lagi lah Dlan.”
“Makanya lo cepetan tembak dia, apa perlu gue tembakin?” Adlan geregetan
“Tenang Dlan, gue kenal Daisy bukan sebulan dua bulan.”
“Ya sudah lah terserah lo. Owh iya Ris, minggu depan datang ya ke birthday partynya Sari IPS 2. Anak paduan suara.”
“Gue enggak diundang.”
“Semua anak Paduan suara diundang, pokoknya lo harus datang!” paksa Adlan
Bel masukpun berbunyi dan semua siswa berhamburan meninggalkan kantin.
Satu, dua, tiga sampai dengan empat hari ini Daisy tidak menghubungi Faris, bahkan bbm Farispun hanya diread dan tidak dibalasnya. Apa yang terjadi pada Daisy? Faris sempat pupus dan benar-benar kacau, melebihi kekacauan kemacetan Jakarta. Hatinya mulai beku dan tak dapat dicairkan lagi. Daisy benar-benar menghilang. Diacara pesta ulang tahun Sari, tak sedikit wanita yang mengagumi kesederhanaan Faris. Terlebih saat Faris memainkan biolanya. Setelah acara inti selesai, Adlan memperkenalkan teman bimbel sekaligus sahabat SMP Sari pada Faris.
“Ris, kenalin teman bimbel gue. Namanya Gita. Gita ini Faris” ucap Adlan. Faris dan Gitapun saling berjabat tangan dan saling menyebutkn nama. Dari semua perbincangannya bersama Gita, Faris merasa Gita selalu memujinya melalui kata-katanya yang membuat Faris mengingat seseorang, Daisy. Dan di situlah Faris menemukan setitik perhatian untuknya.
            Tiga bulan berlalu, Daisy sudah tidak pernah menampakkan perhatian yang biasanya ia berikan pada Faris. Secara perlahan, Faris melupakan Daisy, yang ia butuhkan hanyalah sebuah keseriusan dan perhatian, bukanlah kekecewaan. Justru kini, Gitalah yang sering memberikan perhatian padanya. Hingga mampu membuatnya melupakan Daisy.
“Udah enggak usah galau lagi. Lupain Daisy. Ini sudah saatnya lo move on!” nasihat Adlan padanya.
“Apa si maunya cewe! Gue bingung.”  Balas Faris sambil membanting buku.
“Makanya, gue bilang juga apa Ris! Lo gak buruan nembak dia sih!, coba kalau dulu lo nembak, dia pasti  tahu perasaan lo ke dia. Sekarang Daisy sudah enggak ada kabar lagi kan?”
“Tapi mustahil Daisy enggak tahu kalau gue suka sama dia!”
“Ya tapi kenapa dia pergi?” Faris tidak dapat menjawab pertanyaan yang sampai saat ini masih membuatnya bingung. Faris pun berpikir seribu kali jika suatu saat Daisy datang memintanya kembali. Jawaban apa yang akan ia berikan agar tidak membuat Daisy kecewa? Entahlah, hanya Faris yang tahu. Dua bulan kemudian, harapan itu pupus saat Daisy datang lagi padanya. Sebab, saat Faris akan memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada Daisy, ternyata Daisy telah mempunyai kekasih. Betapa hancurnya perasaan Faris, namun dengan sekuat tenaga, Faris terus menegarkan dirinya dan merapikan kembali perasaannya yang telah hancur karena Daisy. Disaat semuanya telah tenang tanpa Daisy, dan hanya ada sisa-sisa luka Faris, Gita datang dengan mengungkapkan perasaannya pada Faris. Wajahnya tampak sangat bahagia saat mengungkapkan perasaannya pada Faris yang masih heran dengan tingkah Gita yang memberanikan diri. Dan saat itu bumipun terasa bermusim semi saat Faris menerima ungkapan  Gita yang berbeda keyakinan dengannya. Semua berjalan lancar. Anehnya hubungan mereka pun terbilang apik.
            Rupanya waktu tak pernah berhenti, perpisahan sekolah mulai terasa dipenghujung masa terindah menjadi manusia. Kebimbangan Faris kembali muncul saat menentukan akan kemana ia melanjutkan studynya. Ia belum juga menemukan pilihan yang cocok untuk menentukan masa depannya. Hingga pengumuman Ujian Nasional diumumkan dan Faris mendapat nilai yang baik pun, Faris belum juga mantap dengan pilihan studynya, ditambah lagi dengan kegalauan tidak ada kecocokan dengan study pilihan sang ibu. Terlebih pikirannya tertuju pada hal yang sangat ia benci saat harus dibanding-bandingkan dengan kakaknya yang mengantungi beasiswa di Universitas favorit itu. Saat semua perguruan tinggi menutup pintu untuk pendaftarannya, hanya ada satu-satunya perguruan tinggi negri di provinsi keramat itulah yang masih membukakan pintu untuk langkahnya yang gontai. Dan akhirnya Faris pun menjalani study di Universitas tersebut.
“Hey Dlan, apa kabar lo?” tanya Faris saat berkunjung di kediaman Adlan.
“Baik Ris, lo gimana?”
“Gue lagi enggak baik,”
“Kapan baiknya lo? Enggak baik melulu dari dulu.”
“Haha, owh iya kuliah dimana lo sekarang?”
“Gue kuliah di sini-sini aja Ris, katanya lo di sebrang ya? Sebrang balik batu, hahaha. Gue satu kampus sama Daisy loh. Masih ingat enggak lo sama dia?”
Farispun terkejut dan beralih memikirkan Daisy. Ternyata pikirannya belum habis tentang Daisy.
“Katanya lo mau kuliah di kampus gue? Kok jadinya di sana?” tanya Adlan lagi.
“Gue disana juga cuma buat sementara Dlan, ngisi waktu luang, nanti juga gue daftar kok dikampus lo.”  
“Owh gitu? Ok gue tunggu deh!”
Perkuliahanpun mulai berjalan, namun persahabatan dan perhatianlah yang membuat Faris bertahan di kampus yang dianggapnya sementara itu. Dan perhatian Gita sebagai kekasihnyapun masih terus mengalir, meskipun berstatus Long Distance Relationship. apalagi sekarang Faris sebagai anak kostan. Namun, seiring berjalannya waktu, tanpa Faris sadari ia merasa ada keganjalan dalam hubungan mereka. Apakah karena Gita berbeda keyakinan? Entahlah, pikirnya cinta tak pernah mengenal perbedaan. Namun, kini hubungan mereka kandas. Saat ini, hanya ada harapan yang benar-benar tidak dapat hilang dari otaknya, yaitu kembali pada Daisy. Daisy ibarat sebuah tali untuk layangannya, tak dapat terbang melihat indahnya dunia jika tanpanya.
            Satu semester berlalu, keinginannya untuk mendaftarkan diri di Universitas ternama itupun semakin kuat. Ia harus berhasil mengalahkan prestasi kakaknya yang sangat luar biasa di Universitas itu. Terlebih, ada Daisy disana. Namun, sangat disayangkan Faris tidak lolos dengan jurusan yang ia inginkan. Iapun tak kehabisan ide untuk terus mencoba. Namun, ditengah perjalanannya menuju Universitas tersebut, Faris mendapat kabar bahwa Daisy telah mempunyai kekasih baru yang mungkin lebih baik darinya. Dan saat pengumuman keduanya berhasil, Faris tidak mengambilnya karena Daisy. Benar-benar tidak mudah untuk melupakan Daisy, perjuangannya runtuh, dan harapan itupun telah pudar. Perasaannya kosong dan layu. Waktupun terus berjalan, saat Faris mulai menyukai wanita lain, Daisy datang kembali untuk memberikan ucapan ulang tahunnya yang ke-19 dengan membawa sebingkis kado untuknya. Semua hal yang akan ia lupakan, kembali datang dan memaksanya untuk mengingat semua tentang Daisy. Tak ada lagi yang harus ia jelaskan tentang Daisy, Daisy adalah wanita yang saat ini ingin ia benci, yang ingin ia lupakan namun tak pernah ia buang. Sesempurna itukah  hati seorang Faris?. Kini ia hanya menunggu dan berusaha untuk sebuah masa depan dan harapan baru yang akan menyambutnya dengan hangat. Mungkin, tawa dan senyum dari teman,sahabat,dan keluargalah yang mampu mengobati hatinya yang tak berbentuk karena Daisy. 
To Daisy : I have tried to love you, but you never noticed”

                                                                           Created by : Hasniar Rahmawati
                                                                              [Minggu, 14 Oktober 2012]


Tidak ada komentar: