Hari
itu menjadi hari yang sangat membahagiakan untuk Faris. Ia dapat melihat dan
berbincang-bincang dengan Daisy yang hampir tiga tahun tidak bertemu. Diacara
reuni akbar SMPnya itu orang yang pertama Faris cari adalah Daisy, seseorang
yang dari kelas satu SMP telah memenuhi otak sarafnya. Faris tetap
dikenal sebagai seorang pemuda yang baik dan apa adanya oleh teman, sahabat,
guru-gurunya bahkan orang yang paling special,
yaitu Daisy. Kesederhanaannya membuat semua orang kagum saat mengetahui
kehidupan Faris yang sebenarnya serba tercukupi. Saat Faris ditunjuk menjadi
salah-satu pengisi acara reuni akbar SMPnya tersebut, ia sempat ragu dan merasa
tak pede. Namun saat ia tak sengaja melihat ke arah Daisy, Daisy
tersenyum dan dengan senyuman Daisylah yang mampu membuat Faris menyetujui
permintaan teman-teman panitianya agar Faris mau menunjukan kepiawaiannya
memainkan biola. Entah apa yang terjadi, saat itulah senyum Daisy mulai merekah
kembali diiringi nada harmoni dari biola Faris. Tatapan Daisy begitu nyata dan
benar-benar hidup saat melihatnya bermain biola. Tepat diharmoni terakhir,
Daisylah orang pertama yang bertepuk tangan dan diikuti yang lain. Faris pun
semakin yakin bahwa Daisy sadar telah menyukainya.
“Hi Faris, tadi lo keren banget,” puji
Daisy saat bersama teman-temannya. Faris terkejut dan sontak merelakan minuman
favorit yang ia pegang habis diminum Beni, sepupunya yang juga alumni SMP
Al-Azhar.
“Thanks ya Daisy. Gimana kabar lo?” balas
Faris gugup.
“Baik
kok. Selamat ya sudah terpilih menjadi ketua osis disekolah lo?”
“Emm
... iya Daisy, thanks” Faris
tersenyum.
Karena
menyadari kedekatan Faris dan Daisy, semua teman-temannya yang sedang bersama
Faris pun pergi meninggalkan mereka berdua. Saat itu Faris tidak menyangka
kalau Daisy masih mengingatnya, terlebih saat Daisy menyinggung perasaannya
yang telah kacau empat tahun yang lalu. Faris mulai menata dan berharap kembali
akan meyakinkan pada Daisy bahwa ia masih menyukainya. Tak banyak yang Faris
katakan pada Daisy saat itu, hanya sedikit kata-kata yang menyadarkan Daisy
dari mimpinya. Begitupun Daisy, tak banyak kata yang terucap dari mulutnya
selain senyuman-senyuman yang akan menghidupkan harapan Faris kembali.
Malam hening menyapa Faris dengan sebuah harapan. Ia selalu berpikir apa yang
harus ia lakukan jika suatu saat Daisy menghilang lagi dari hidupnya. Sebab,
sudah tiga kalinya Daisy menghilang, kembali, menghilang dan terus seperti itu.
Daisy bak bayangan yang begitu mudah menghilang dan menghantui hidupnya, lalu
menghilang lagi tanpa sebab yang jelas. Empat bulan lalu, begitu senangnya
Faris disapa oleh Daisy walau hanya melalui sebuah pesan singkat yang terdiri
dari tiga kata. Terlebih saat itu begitu besar perhatian yang Daisy berikan
untuknya melebihi perhatian sang ibu. Namun, semua itu sirna saat bbm
Daisy non-aktif. Dan kini Daisy kembali hadir, dan meramaikan kondisi
Faris yang saat ini butuh sebuah perhatian yang jarang ia ungkapkan.
Sore
hari di sekolah
Faris
bersiap menjalankan ekskul
taekwondonya. Dengan seragam lengkap taekwondo , ia bersemangat melakukan
gerakan demi gerakan yang diajarkan oleh pelatih.
“Perasaan
gue, hari ini lo semangat banget Ris, ada angin apa nih?” tanya Adlan,
sahabatnya. Namun Faris yang terkenal pendiam dan lugu itu hanya tersenyum dan
mengusap wajahnya yang berkringat. Adlan terus memperhatikan Faris yang aneh.
“Owh,
gue tahu, gue tahu! haha” kata Adlan lagi sambil menepuk pundak Faris.
“Tahu
apa lo?” Faris mulai salah tingkah.
“Kasih
tahu enggak yaaa..??” ejek Adlan ala anak layangan.
“Udah
lah, balik yuk!” ulas Faris seakan meloloskan diri dari pembicaraan. Adlan
terus tertawa dan menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya yang aneh.
Handphonenya
selalu ia kantungi di kemejanya, namun kali ini tak biasanya Faris menggenggam
handphonenya, itu terjadi karena ia sangat menunggu bbm dari Daisy.
Begitu berharganyakan Daisy untuk Faris? sepertinya iya. Kali ini Daisy
berhasil membulatkan harapan Faris kembali yang sempat redup. Sebab, Daisy
menyetujui ajakan Faris untuk nonton film yang ia tunggu-tunggu. Dengan seragam
sekolah berbeda yang masih melekat ditubuh mereka, mereka terus melangkah
menyusuri keramaian XXI yang akan
menayangkan film TAKEN perdana. Karena saking ramainya dan Daisy sering
tertinggal oleh langkah Faris yang cepat, secara spontan Faris pun menggandeng
tangan Daisy yang sejak lima tahun ia sukai. Tangan Daisy begitu halus dan
dingin, entah apa yang ada dalam benak Daisy saat Faris menggandeng tangannya.
Yang Faris tahu Daisy tersenyum malu saat ia menggandeng tangannya. Mereka
menonton bersama. Kedekatan itu terus berlanjut. Namun apa yang membuat Faris
tidak mengungkapkan perasaannya? Faris adalah sosok lelaki yang tidak mudah
mengungkapkan perasaaannya secara gamblang. Ia tidak ingin main-main dalam
menjalin suatu hubungan. Apalagi dengan Daisy, seorang wanita yang ideal dan type Faris, yang Faris harapkan suatu saat akan menjadi ibu untuk
anak-anaknya.
“Udah tahu Daisy sering hilang-hilangan, kenapa lo masih enggak nembak dia
juga?” Adlan membuka percakapan saat menunggu bel masuk seusai istirahat.
“Belum
waktunya Dlan,” tegas Faris
“Terus
kalau Daisy hilang lagi gimana?”
“Ya
jangan sampai gitu lagi lah Dlan.”
“Makanya
lo cepetan tembak dia, apa perlu gue tembakin?” Adlan geregetan
“Tenang
Dlan, gue kenal Daisy bukan sebulan dua bulan.”
“Ya
sudah lah terserah lo. Owh iya Ris, minggu depan datang ya ke birthday
partynya Sari IPS 2. Anak paduan suara.”
“Gue
enggak diundang.”
“Semua
anak Paduan suara diundang, pokoknya lo harus datang!” paksa Adlan
Bel
masukpun berbunyi dan semua siswa berhamburan meninggalkan kantin.
Satu,
dua, tiga sampai dengan empat hari ini Daisy tidak menghubungi Faris, bahkan bbm
Farispun hanya diread dan tidak
dibalasnya. Apa yang terjadi pada Daisy? Faris sempat pupus dan benar-benar kacau,
melebihi kekacauan kemacetan Jakarta. Hatinya mulai beku dan tak dapat
dicairkan lagi. Daisy benar-benar menghilang. Diacara pesta ulang tahun Sari,
tak sedikit wanita yang mengagumi kesederhanaan Faris. Terlebih saat Faris
memainkan biolanya. Setelah acara inti selesai, Adlan memperkenalkan teman bimbel sekaligus sahabat SMP Sari pada
Faris.
“Ris,
kenalin teman bimbel gue. Namanya
Gita. Gita ini Faris” ucap Adlan. Faris dan Gitapun saling berjabat tangan dan
saling menyebutkn nama. Dari semua perbincangannya bersama Gita, Faris merasa
Gita selalu memujinya melalui kata-katanya yang membuat Faris mengingat
seseorang, Daisy. Dan di situlah Faris menemukan setitik perhatian untuknya.
Tiga bulan berlalu, Daisy sudah tidak pernah menampakkan perhatian yang
biasanya ia berikan pada Faris. Secara perlahan, Faris melupakan Daisy, yang ia
butuhkan hanyalah sebuah keseriusan dan perhatian, bukanlah kekecewaan. Justru
kini, Gitalah yang sering memberikan perhatian padanya. Hingga mampu membuatnya
melupakan Daisy.
“Udah
enggak usah galau lagi. Lupain Daisy. Ini sudah saatnya lo move on!”
nasihat Adlan padanya.
“Apa
si maunya cewe! Gue bingung.”
Balas Faris sambil membanting buku.
“Makanya,
gue bilang juga apa Ris! Lo gak buruan nembak dia sih!, coba kalau dulu lo
nembak, dia pasti tahu perasaan lo ke dia. Sekarang Daisy sudah enggak
ada kabar lagi kan?”
“Tapi
mustahil Daisy enggak tahu kalau gue suka sama dia!”
“Ya
tapi kenapa dia pergi?” Faris tidak dapat menjawab pertanyaan yang sampai saat
ini masih membuatnya bingung. Faris pun berpikir seribu kali jika suatu saat
Daisy datang memintanya kembali. Jawaban apa yang akan ia berikan agar tidak
membuat Daisy kecewa? Entahlah, hanya Faris yang tahu. Dua bulan kemudian,
harapan itu pupus saat Daisy datang lagi padanya. Sebab, saat Faris akan
memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada Daisy, ternyata Daisy
telah mempunyai kekasih. Betapa hancurnya perasaan Faris, namun dengan sekuat
tenaga, Faris terus menegarkan dirinya dan merapikan kembali perasaannya yang
telah hancur karena Daisy. Disaat semuanya telah tenang tanpa Daisy, dan hanya
ada sisa-sisa luka Faris, Gita datang dengan mengungkapkan perasaannya pada
Faris. Wajahnya tampak sangat bahagia saat mengungkapkan perasaannya pada Faris
yang masih heran dengan tingkah Gita yang memberanikan diri. Dan saat itu
bumipun terasa bermusim semi saat Faris menerima ungkapan Gita yang
berbeda keyakinan dengannya. Semua berjalan lancar. Anehnya hubungan mereka pun
terbilang apik.
Rupanya waktu tak pernah berhenti, perpisahan sekolah mulai terasa dipenghujung
masa terindah menjadi manusia. Kebimbangan Faris kembali muncul saat menentukan
akan kemana ia melanjutkan studynya.
Ia belum juga menemukan pilihan yang cocok untuk menentukan masa depannya.
Hingga pengumuman Ujian Nasional diumumkan dan Faris mendapat nilai yang baik pun,
Faris belum juga mantap dengan pilihan studynya,
ditambah lagi dengan kegalauan tidak ada kecocokan dengan study pilihan sang ibu. Terlebih pikirannya tertuju pada hal yang
sangat ia benci saat harus dibanding-bandingkan dengan kakaknya yang
mengantungi beasiswa di Universitas favorit
itu. Saat semua perguruan tinggi menutup pintu untuk pendaftarannya, hanya ada
satu-satunya perguruan tinggi negri di provinsi keramat itulah yang masih
membukakan pintu untuk langkahnya yang gontai. Dan akhirnya Faris pun menjalani
study di Universitas tersebut.
“Hey
Dlan, apa kabar lo?” tanya Faris saat berkunjung di kediaman Adlan.
“Baik
Ris, lo gimana?”
“Gue
lagi enggak baik,”
“Kapan
baiknya lo? Enggak baik melulu dari dulu.”
“Haha,
owh iya kuliah dimana lo sekarang?”
“Gue
kuliah di sini-sini aja Ris, katanya lo di sebrang ya? Sebrang balik batu,
hahaha. Gue satu kampus sama Daisy loh. Masih ingat enggak lo sama dia?”
Farispun
terkejut dan beralih memikirkan Daisy. Ternyata pikirannya belum habis tentang
Daisy.
“Katanya
lo mau kuliah di kampus gue? Kok jadinya di sana?” tanya Adlan lagi.
“Gue
disana juga cuma buat sementara Dlan, ngisi waktu luang, nanti juga gue daftar
kok dikampus lo.”
“Owh
gitu? Ok gue tunggu deh!”
Perkuliahanpun
mulai berjalan, namun persahabatan dan perhatianlah yang membuat Faris bertahan
di kampus yang dianggapnya sementara itu. Dan perhatian Gita sebagai
kekasihnyapun masih terus mengalir, meskipun berstatus Long Distance
Relationship. apalagi sekarang Faris sebagai anak kostan. Namun, seiring
berjalannya waktu, tanpa Faris sadari ia merasa ada keganjalan dalam hubungan
mereka. Apakah karena Gita berbeda keyakinan? Entahlah, pikirnya cinta tak
pernah mengenal perbedaan. Namun, kini hubungan mereka kandas. Saat ini, hanya
ada harapan yang benar-benar tidak dapat hilang dari otaknya, yaitu kembali
pada Daisy. Daisy ibarat sebuah tali untuk layangannya, tak dapat terbang
melihat indahnya dunia jika tanpanya.
Satu semester berlalu, keinginannya untuk mendaftarkan diri di Universitas
ternama itupun semakin kuat. Ia harus berhasil mengalahkan prestasi kakaknya
yang sangat luar biasa di Universitas itu. Terlebih, ada Daisy disana. Namun,
sangat disayangkan Faris tidak lolos dengan jurusan yang ia inginkan. Iapun tak
kehabisan ide untuk terus mencoba. Namun, ditengah perjalanannya menuju
Universitas tersebut, Faris mendapat kabar bahwa Daisy telah mempunyai kekasih
baru yang mungkin lebih baik darinya. Dan saat pengumuman keduanya berhasil,
Faris tidak mengambilnya karena Daisy. Benar-benar tidak mudah untuk melupakan
Daisy, perjuangannya runtuh, dan harapan itupun telah pudar. Perasaannya kosong
dan layu. Waktupun terus berjalan, saat Faris mulai menyukai wanita lain, Daisy
datang kembali untuk memberikan ucapan ulang tahunnya yang ke-19 dengan membawa
sebingkis kado untuknya. Semua hal yang akan ia lupakan, kembali datang dan
memaksanya untuk mengingat semua tentang Daisy. Tak ada lagi yang harus ia
jelaskan tentang Daisy, Daisy adalah wanita yang saat ini ingin ia benci, yang
ingin ia lupakan namun tak pernah ia buang. Sesempurna itukah hati
seorang Faris?. Kini ia hanya menunggu dan berusaha untuk sebuah masa depan dan
harapan baru yang akan menyambutnya dengan hangat. Mungkin, tawa dan senyum
dari teman,sahabat,dan keluargalah yang mampu mengobati hatinya yang tak
berbentuk karena Daisy.
To
Daisy : “I have tried to love you, but you never noticed”
Created by : Hasniar Rahmawati
[Minggu, 14 Oktober 2012]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar