KEMARIN
Oleh : Raniar Abbas
Jum’at , 11 Januari 2013
Kadang, aku hanya dapat tersenyum saat mengingat aku dan dia tertawa dan
bercanda layaknya dua sejoli yang sedang bahagia tanpa masalah sedikit pun. Aku
hanya tidak mengerti mengapa Tuhan menciptakan suatu perasaan yang begitu sulit
untuk aku definisikan. Aku sering menangis saat semua orang tidak melihatku. Aku
tak ingin melihatnya sedih dan kusam, aku tak ingin membuatnya kecewa sedikit
pun. Meskipun itu hal yang sulit, aku akan berusaha membuatnya bahagia. Tetapi
bukan begini caranya. Ia tak akan pernah tahu bagaimana saat airmataku seperti
meleleh saat setahun ini aku tak pernah meneteskan airmata. Aku hanya sepenggal
cerita yang tak akan mungkin menjadi sejarah untuknya. “Bahagia itu saat aku dan kamu
menjadi kita” ucap Karrel setahun yang lalu. Aku bingung. Mengapa ia begitu
lekat dalam pikiranku. Meskipun kejadian setahun yang lalu itu hanya membuatku
dilema. Bahkan saat ini aku tak dapat melihat bagaimana senyumku sendiri. Entah
apa yang terjadi, semenjak Karrel pergi meninggalkanku jauh, aku berubah. Aku
menjadi seorang yang sibuk dan sangat sibuk dalam duniaku, menulis. Begitu
hebatnya Tuhan menciptakan suatu hal yang benar-benar tidak dapat aku lupakan.
Kenangan
itu, selalu aku bayangkan dalam hati, dalam kata, dalam tangis, dalam senyum,
dan dalam luka. Semuanya indah, namun tak seindah tahun lalu saat pertama kali
aku melihatnya di sini. Di sebuah toko buku langgananku. Aku sering bersamanya
disini setiap pulang sekolah. Kini semuanya terasa berbeda, buku-buku yang
kupilih seakan layu dengan tiada arti tanpanya di sini. Dan kini, aku kembali
bertemu dengannya, wajahnya tampak lebih tenang dibalik dewasanya. Dia sedang
melihatku, namun sebuah senyum itu belum aku lihat dari bibirnya. Dia seperti
kecewa saat mengingat semua hal bersamaku. Hal istimewa, tapi tak sempurna. Aku
sempat membuatnya kecewa, aku memutuskan sebuah hubungan yang saat itu genap
berusia tiga tahun dikarenakan kepindahannya. Entah bagaimana rasa kecewa itu
muncul darinya. aku tak pernah tahu, mungkin lebih mengecewakan dariku yang
mengharapkan senyumnya muncul untukku saat ini. Ia pergi, ia keluar
meninggalkan toko ini. Mungkin ia muak denganku yang selalu tak yakin dengan
perasaannya. Yang aku kenal ia adalah seorang lelaki yang tidak pernah serius
dalam menjalin hubungan. Oleh sebab itu, aku tak ingin menjadi wanita
selanjutnya yang akan menghabiskan sisa waktu dan perasaanku untuknya. Entah
berapa wanita yang pernah mampir di hatinya. Sepuluh, dua puluh, tiga puluh
atau bahkan lebih. Seingatku, setelah ia mengakhiri semua hubungannya dengan
wanita-wanita itu, ia tak pernah terdengar dekat dengan siapapun, kecuali
denganku.
“Ini buat lo!” suara lelaki yang tak
asing di telingaku. Tanpa sepengetahuanku, ia kembali memasuki toko dengan
memberikan seikat bunga untukku. Senyum itu kembali merekah dari bibirnya. Ia
tampan, bahkan tampan sekali. Aku masih tak percaya dengan keajaiban Tuhan ini.
Aku diam mematung dan tak berdaya dengan apa yang ia lakukan.
“Thanks.” Jawabku singkat dan mencium
harum bunga itu. Ia masih di depanku, ia masih memberikan senyum itu padaku.
“Besok,
gue mau pindah. Bukan cuma kuliah gue yang pindah, tapi rumah dan keluarga
semua pindah ke Makkasar.” Ucanya dengan suara mengecil.
“Bukannya
lo baru pulang dari Bandung?”
“Iya”
Ia menghela napas. Karrel sengaja memilih kuliah di Bandung ketimbang di
Jakarta. Ia menjalani kuliahnya di sebuah universitas terbaik di kota kembang
itu, sedangkan keluarganya menetap di Jakarta. Dan sekarang, ia lantang
menyampaikan pernyataan yang membuatku semakin takut kehilangannya lagi. Jika
memang esok ia berpisah denganku untuk yang kedua kalinya setelah lulus SMA,
aku ingin ia mengatakan lagi apa yang seharusnya ia tanyakan padaku setahun
lalu. “Ayoo ungkapkan lagi apa yang menjadi hakmu, Karrel!” batinku.
“Makasih
untuk semuanya, maafin gue kalau selama ini gue selalu ganggu lo. Dan gue
janji, mulai sekarang, gue nggak akan ganggu hidup lo lagi.” Ia pergi
meninggalkanku dan seikat bunga mawar merah yang ia beri padaku. Aku yakin ia pasti
akan kembali lagi untuk mengungkapkan perasaannya padaku, seperti ia kembali
memberiku bunga ini. Namun, kali ini ia benar-benar pergi meninggalkanku.
Seakan tak percaya adanya harapan yang tumbuh dalam hidupku, aku kembali
meneteskan airmata. Aku hanya ingin ia tahu perasaanku saat ini. Sebuah langkah
kaki Kini kembali berhenti di hadapanku. Isak tangisku semakin menjadi saat
lelaki itu mengulurkan tangannya untukku.
“Bil,
gue harap lo nggak pernah kecewa dengan keputusan gue. Thanks.” Ia kembali dan itulah kata-kata terakhirnya untukku
sebelum meninggalkanku ke Makkasar. Ia seperti masih ingin dekat denganku,
namun aku terlalu acuh padanya. Ia tak ingin membuatku terganggu dengan
kehadirannya. Dan hingga saat ini, aku bingung dengan perasaanku sendiri.
Kadang aku tak tahu arti diriku untuknya, kadang pula aku merasa kami berteman,
kadang lebih dari teman, dan kadang juga aku bukan siapa-siapa untuknya.
Perasaan apa ini? Setahuku cinta tidak begini.
Setahun berlalu, pagi hari aku
mendapat kabar dari keluarga Karrel di Makkasar jika Karrel kecelakaan dan saat
ini ia koma. Aku hampir lupa dengan semuanya, dengan annyversary, dengan
valentine, dengan bunga mawar dan coklat.
Mungkin semua hal itu sudah tidak penting lagi untukku. Yang terpenting saat
ini adalah aku harus menjadi orang yang bena-benar merasakan perasaan Karrel.
Apakah ia masih mencintaiku? Aku tidak perduli dengan segalanya. Aku sempat
kehilangan seseorang yang aku suka, aku sempat menolak cinta Gilang, temanku belum
lama ini hnaya untuk menjaga hatiku untuk Karrel, aku sempat kehilangan
semuanya yang berharga dalam hidupku, dan saat ini aku benar-benar kehilangan
Karrel. Ia meninggal Dunia di usia 20 tahun, dan aku hanya ingin Karrel tahu
betapa hebatnya ia dengan segala kekurangannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar