Senin, 28 Februari 2011

^AKU KEHILANGAN RIZKY^


Baru saja aku turun dari angkot yang selalu mengantarku ke sekolah aku sudah disambut dengan senyuman seorang Rizky, lelaki berusia tujuh belas tahun yang selalu ada dalam mimpiku. Dia begitu tampan hari ini. Rasanya sayang sekali jika hari ini dia harus berpanas-panasan di tengah lapangan untuk menjadi pemimpin upacara sebagai perwakilan kelasnya. Aku cemburu dengan matahari yang baru terbit dari bumi disambut dengan indahnya hati seorang Rizky, terlebih matahari akan lebih puas memandangnya setiap hari. Aku segera memposisikan diri di barisan paling depan dari rombongan kelasku. “Siaaaaap grakkk!!”, aba-aba dari suara terindah yang pernah kudengar mengiringi jalannya upacara hari ini. Saat ini dia sedang berdiri tepat di hadapanku, hingga sesering mungkin aku harus merapikan seragam, rambut, dan mengelapi keringatku dengan tisu yang selalu bertempat tinggal di kantong kemejaku. Hari ini aku benar-benar tak ingin kalah dengan matahari yang puas memandang Rizky, dan yang kulihat keringat yang mulai berjatuhan dari keningnya membuatnya semakin tak ingin lepas untuk kupandang, terlebih saat walikelasnya naik ke atas mimbar untuk sambutan, ia pun berbalik dan membelakangiku dan sangat jelas terasa begitu hebat matahari memandangnya hingga keringat berani membasahi kemeja putih berdasi yang kuharap dapat kucuci sepulang sekolah nanti. Tak kusangka, pagi ini mengawali hari yang istimewa untukku.