Baru saja aku turun dari angkot yang selalu mengantarku ke sekolah aku sudah disambut dengan senyuman seorang Rizky, lelaki berusia tujuh belas tahun yang selalu ada dalam
mimpiku. Dia begitu tampan hari ini. Rasanya sayang sekali jika hari ini dia
harus berpanas-panasan di tengah
lapangan untuk menjadi pemimpin upacara sebagai perwakilan kelasnya. Aku
cemburu dengan matahari yang baru terbit dari bumi disambut dengan indahnya
hati seorang Rizky, terlebih
matahari akan lebih puas memandangnya setiap hari. Aku segera memposisikan diri
di barisan paling depan dari rombongan kelasku. “Siaaaaap grakkk!!”, aba-aba dari suara terindah yang pernah kudengar mengiringi
jalannya upacara hari ini. Saat ini dia sedang berdiri tepat di hadapanku, hingga
sesering mungkin aku harus merapikan seragam, rambut, dan
mengelapi keringatku dengan tisu yang selalu bertempat tinggal di kantong kemejaku. Hari ini aku benar-benar tak ingin kalah dengan matahari
yang puas memandang Rizky, dan
yang kulihat keringat yang mulai berjatuhan dari keningnya membuatnya semakin
tak ingin lepas untuk kupandang, terlebih saat walikelasnya naik ke atas mimbar untuk sambutan, ia pun
berbalik dan membelakangiku dan sangat jelas terasa begitu hebat matahari
memandangnya hingga keringat berani membasahi kemeja putih berdasi yang kuharap
dapat kucuci sepulang sekolah nanti. Tak kusangka, pagi ini mengawali hari yang istimewa untukku.
Senin, 28 Februari 2011
Langganan:
Komentar (Atom)
