Oleh
: Hasniar Rahmawati
Sabtu,
22 Desember 2012
Sedetik pun aku tak pernah melepaskan
pandanganku pada seorang cowok macho berotot baja itu. Setiap pagi dan sore,
aku selalu melihatnya men-dribble
bola basket di halaman rumahnya yang berada tepat di depan rumahku. Sepertinya
ia tak kenal dengan sengatan matahari yang akan membuatnya hitam dan jelek.
Semangatnya sungguh luar biasa. Aku bisa tersenyum hanya dengan melihatnya
latihan.
“Kak,
lagi ngintip siapa lo?” Deri, adikku yang mulai beranjak dewasa mengalihkan
pandanganku. Bocah kelas satu SMA itu sudah menggangguku. Sungguh menyebalkan.
“Lo
ngapain ikut campur urusan gue? Udah sana berangkat!” bentakku.
“Gimana
gue mau berangkat les, uang jajan gue kan ada di lo.” Balasnya sambil
mengancingkan kemejanya.
“Sial!
Ternyata masih ingat juga ini brondong!” batinku menggerutu.
Akhirnya,
terpaksa aku keluarkan selembar uang bergambar Tuanku Imam Bondjol dari saku Hotpant-ku.
“Yaaa
... segini mana cukup? Buat beli es cendol juga cuma dapet seperempat gelas!”
ulasnya lagi.
