Semua tugas
telah aku tuntaskan siang tadi
sepulang kuliah.
Kini aku bisa bersantai
ria menikmati hangatnya teh
buatan Mama di kamarku yang bernuansa Hello Kity.
Posisiku kali ini adalah tiduran santai
sembari melihat satu persatu album kenangan. Aku membuka satu persatu lembar
album itu yang berisikan foto-fotoku dulu hingga sekarang. Setelah cukup lama
membulak-balik lembar demi lembar album, kini tanganku terhenti dan mataku
fokus pada satu titik. Fotoku dengan seorang anak laki-laki sedang bersepeda di
depan rumah.
Entah kenapa aku
tertawa sekencang mungkin. Sudah lama sekali aku tidak melihat tetanggaku yang
satu itu. Dulu, badannya gendut dan sering diejeki oleh teman-temannya dengan sebutan karung gandum.
Ke manakah
gerangan? Namanya Dion, tepatnya
M. Dion Nitikusuma. Ia
adalah tetangga sekaligus sahabat masa
kecilku, dan sekarang sudah
pindah ke Jakarta. Kami berpisah
saat usia kami 9 tahun. Entah
bagaimana ia saat ini. Aku sudah kehilangan kontaknya, tapi sepertinya Mama
masih menyimpan nomer orangtuanya. Ah,
rindu sekali rasanya dengan sahabatku
itu. Kulihat rumah mewah di depan sana, kugeser gorden dan aku duduk di tepian
kasur sambil mendekap foto itu begitu
hangat. Aku bergegas menuju Mama dan Papa yang
sedang asyik menonton film di ruang keluarga.