Sabtu, 12 Maret 2016

SAHABAT KECILKU



Semua tugas telah aku tuntaskan siang tadi sepulang kuliah. Kini aku bisa bersantai ria menikmati hangatnya teh buatan Mama di kamarku yang bernuansa Hello Kity. Posisiku kali ini adalah tiduran santai sembari melihat satu persatu album kenangan. Aku membuka satu persatu lembar album itu yang berisikan foto-fotoku dulu hingga sekarang. Setelah cukup lama membulak-balik lembar demi lembar album, kini tanganku terhenti dan mataku fokus pada satu titik. Fotoku dengan seorang anak laki-laki sedang bersepeda di depan rumah.
Entah kenapa aku tertawa sekencang mungkin. Sudah lama sekali aku tidak melihat tetanggaku yang satu itu. Dulu, badannya gendut dan sering diejeki oleh teman-temannya dengan sebutan karung gandum. Ke manakah gerangan? Namanya Dion, tepatnya M. Dion Nitikusuma. Ia adalah tetangga sekaligus sahabat masa kecilku, dan sekarang sudah pindah ke  Jakarta. Kami berpisah saat usia kami 9 tahun. Entah bagaimana ia saat ini. Aku sudah kehilangan kontaknya, tapi sepertinya Mama masih menyimpan nomer orangtuanya. Ah, rindu sekali rasanya dengan sahabatku itu. Kulihat rumah mewah di depan sana, kugeser gorden dan aku duduk di tepian kasur sambil mendekap foto itu begitu hangat. Aku bergegas menuju Mama dan Papa yang sedang asyik menonton film di ruang keluarga.