Suara
parau yang menggebu itu adalah menandakan awal bulan suci kali ini. Aku terus
teringat bagaimana pertama kali aku merayakan bulan suci ini dengannya. Setahun
yang lalu aku tak seperti ini, menyambut bulan ini dengan hening dan perasaan
tak menentu. Karena setahun yang lalu aku selalu memukul-mukul si kulit kerbau
di masjid komplek rumahku bersama Dhanu.
"Indah, ayo puasanya dibatalin dulu. Buka
puasa buka lebih awal itu bagus." Nasihat ibuku. Aku pun bergegas menegak
segelas air putih dan kolak buatan ibu, kemudian bergegas sholat. Kemudian
kulanjutkan menyantap masakan ibu yang kupuji sebagai masakan paling nikmat di dunia.
Ibu sempat menanyakan kabar Dhanu tetanggaku dulu yang sangat dekat denganku.
Aku tak dapat berucap apapun, karena saat ini Dhanu adalah kekasihku yang jauh
dari tempatku berada saat ini. Kami dipisahkan oleh jarak yang sempit untuk
menembus hati ibu agar mengizinkanku berpacaran dengannya. Setapak demi setapak kulalui tanpa restu ibu
bersamanya. Namun, masa inilah yang memisahkan kami berdua, saat Ramadhan
datang.
Siang
hari, suara ketukan pintu terdengar sangat indah dari ruang tamu, "Assalamualaikum
.. " suara tamu itu.
"Waalaikumsalam,"
aku buka pintunya dan begitu terkejutnya aku saat seseorang datang bersama
motor scootermaticnya.
"Hi
Indah" ucapnya. Aku masih tak percaya dan menatap matanya.
"Dhanu
.. apa kabar nak?" sambar ibu
menghampiri.
"Alhamdulillah
baik tante. Ia pun memulai langkahnya untuk masuki rumah baruku. Ia duduk manis
dengan kemeja kotak-kotaknya seperti mengharapkan sesuatu dariku. Mulutku
benar-benar terkunci. Aku duduk di sebelahnya "Sekarang tinggal dimana
Dhan?" tanyaku setengah sadar
"Masi
yang dulu Ndah. Gimana kuliah kamu?"
"Baik
kok, kamu sendiri?"
"Baik
juga, tapi nggak sebaik waktu ada kamu" kali ini Dhanu membuatku terbang
menuju Syurga. Tak biasanya ia
seperti ini.
“Dhan, kamu
ngapain ke sini?" tanyaku membuat senyumnya melebar
“Tadi habis
dari rumah teman, dan sekalian mampir ke sini. Nggak apa-apa kan Ndah?”
“Owh, iya nggak
apa-apa si, tapi aku takut kalau ibu marah”
“Tenang aja
Ndah, aku ke sini kan niatnya baik,?”
“Memang
kamu mau apa ke sini?” tanyaku khawatir ibu mengetahui hubungan kami. “Buka bareng temen-temen SMA kita dulu yuk?"
ajaknya.
"Boleh,
dimana?"
"Gimana
kalau di panti asuhan Aisyah. itu loh, panti asuhan yang dulu sekolah kita pernah
kunjungi" Dhanu berusaha mengingatkanku. Aku pun menyetujui ajakan Dhanu
ke tempat yang katanya sangat special
untuknya, dimana saat Ramadhan tahun lalu sekolahku mengadakan bakti sosial di sana.
Ajakannya tak mungkin dapat kutolak, keesokan harinya aku mempersiapkan
barang-barang yang akan kubawa untuk anak-anak yatim di sana. Begitu pun Dhanu,
ia mempersiapkan segala sesuatunya untuk esok.
Sesampainya di tempat, "Ndah,
kamu masih ingat tempat ini kan?" tanyanya. aku menganggukan kepala.
"Dulu
aku pernah bilang ke kamu di sini adalah tempat specialku. Kamu tahu kenapa tempat ini special banget buat aku?” ingin
sekali aku jawab tahu dan aku berikan alasan “Karena pertama kalinya kamu
menyatakan cinta ke aku” namun aku urungkan dan aku ingin dia yang mengatakan
itu lagi padaku.
“Karena ...”
Ucapnya tak diteruskan. Dan aku sangat menunggu kata-kata selanjutnya. “Yuk kita
masuk ke dalam!” ajaknya tak meneruskan kata-kata yang hampir membuatku galau.
Di sini kami berbagi bersama anak-anak yang kurang beruntung dengan cara
bercerita tentang kisah-kisah Rasulullah, kisah-kisah khalifah-khalifah pada
masa lampau, dan terakhir Dhanu membuatku tersipu dengan menceritakan kisahnya
saat pertama kali bertemu denganku dan mengungkapkan perasaannya padaku di sini.
Semua anak yatim itu pun tertawa bukan kepalang dan mengejekku. Tapi saat itu
aku benar-benar merasa istimewa karena Dhanu selalu memuji kebaikanku pada
anak-anak yatim itu. setelah selesai membatalkan puasa, Dhanu mengajak semuanya
untuk Sholat berjamaah terlebih dahulu.
“Siapa yang
jadi imam?” tanya Eva teman lamaku.
“Karena
bapak-bapak di panti asuhan ini nggak ada, gimana kalau lo aja Dhan?” saran
Reza, temanku yang lucu.
“Ide bagus
tuh!” sambungku tersenyum padanya yang sedang membenarkan peci. Lalu ia pun
mengambil posisi untuk imam, benar-benar suara yang sangat bagus untuk kudengar,
Dhanu begitu fasih mengumandangkan ayat-ayat Al-qur’an. Kami tidak langsung beranjak untuk menuruti lapar, tetapi
kami berdoa terlebih dahulu, dan berlanjut buka bersama. Tatapannya kali ini
begitu tajam, ia menghampiriku yang sedang duduk bersandar di dinding panti.
“Ini surat
buat kamu” ia memberiku sebingkis surat untukku. Lalu ku baca, betapa
terkejutnya aku membaca surat itu,
“Ikut aku!”
ucapnya mengajakku disebuah ruangan yang
sepertinya sangat jarang dijamah. Yang kulihat hanya ada seorang
pengasuh wanita yang sedang menyuapi gadis cantik yang duduk di kursi roda.
“Siapa itu
Dhan?” tanyaku kaku. Dhanu tak memperdulikan pertanyaanku, lalu ia mendekat ke arah
gadis remaja itu
“Farah, ini
kak Dhanu. Kak Dhanu kangen sekali dengan Farah, sebelum kak Dhanu pergi, kak
Dhanu punya teman yang akan menggantikan kak Dhanu untuk Farah,” ucap Dhanu
lirih seperti bersujud pada gadis yang ia sebut Farah itu. Aku pun
menghampirinya dan mengusap pundaknya.
“Dhanu ..”
ucapku lirih dan masih menggenggam surat darinya yang berisi keterangan bahwa
Dhanu terserang kanker otak stadium empat. Aku tak kuasa menitikan air mata.
”Farah
adalah adik aku, dia tuli, Buta, dan bisu. Dia sengaja dibuang ke sini sama
mama papa. Karena mereka malu mempunyai anak seperti Farah, tapi sekarang, Allah
sudah balas semuanya dengan kebangkrutan usaha mereka dan mereka juga akan
kehilanganku untuk selamanya Ndah, itu
sebabnya aku ajak kamu ke sini.” Jelas Dhanu membuat tetesan airmataku semakin
deras. Kini aku mengerti arti sebuah kepedulian yang tak pernah berbalas meski
sakit sekali pun. Aku tahu bagaimana ibu
menyayangiku. Ibu tak pernah mengizinkan aku dengan Dhanu karena ini. Ibu tak
ingin melihatku kacau dan merasa kehilangan Dhanu. Tapi semuanya telah berlalu,
Dhanu meninggalkanku. Sedangkan Farah, kembali pada orangtuanya. Begitu
sempurnanyakah arti bulan ini untukku? Sepanjang tahun saat aku berjumpa dengan
bulan ini selalu ada kisah yang harus aku tuangkan dalam lembar kertas Dhanu.
Dan ini adalah sebuah goresan tinta Ramadhanu. Tinta terakhir Dhanu “Saya akan
beritahu semuanya pada seorang gadis yang sangat saya sayangi jika tiba
waktunya napas saya akan berhenti”. Gadis itu adalah aku.
Created by: Hasniar Rahmawati
[Sabtu, 29 september 2012]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar