Selasa, 18 Desember 2012

^GORESAN TINTA RAMADHANU^



Suara parau yang menggebu itu adalah menandakan awal bulan suci kali ini. Aku terus teringat bagaimana pertama kali aku merayakan bulan suci ini dengannya. Setahun yang lalu aku tak seperti ini, menyambut bulan ini dengan hening dan perasaan tak menentu. Karena setahun yang lalu aku selalu memukul-mukul si kulit kerbau di masjid komplek rumahku bersama Dhanu.
 "Indah, ayo puasanya dibatalin dulu. Buka puasa buka lebih awal itu bagus." Nasihat ibuku. Aku pun bergegas menegak segelas air putih dan kolak buatan ibu, kemudian bergegas sholat. Kemudian kulanjutkan menyantap masakan ibu yang kupuji sebagai masakan paling nikmat di dunia. Ibu sempat menanyakan kabar Dhanu tetanggaku dulu yang sangat dekat denganku. Aku tak dapat berucap apapun, karena saat ini Dhanu adalah kekasihku yang jauh dari tempatku berada saat ini. Kami dipisahkan oleh jarak yang sempit untuk menembus hati ibu agar mengizinkanku berpacaran dengannya.  Setapak demi setapak kulalui tanpa restu ibu bersamanya. Namun, masa inilah yang memisahkan kami berdua, saat Ramadhan datang.

Siang hari, suara ketukan pintu terdengar sangat indah dari ruang tamu, "Assalamualaikum .. " suara tamu itu.
"Waalaikumsalam," aku buka pintunya dan begitu terkejutnya aku saat seseorang datang bersama motor scootermaticnya.
"Hi Indah" ucapnya. Aku masih tak percaya dan menatap matanya.
"Dhanu .. apa kabar nak?"  sambar ibu menghampiri.
"Alhamdulillah baik tante. Ia pun memulai langkahnya untuk masuki rumah baruku. Ia duduk manis dengan kemeja kotak-kotaknya seperti mengharapkan sesuatu dariku. Mulutku benar-benar terkunci. Aku duduk di sebelahnya "Sekarang tinggal dimana Dhan?" tanyaku setengah sadar
"Masi yang dulu Ndah. Gimana kuliah kamu?"  
"Baik kok, kamu sendiri?"  
"Baik juga, tapi nggak sebaik waktu ada kamu" kali ini Dhanu membuatku terbang menuju Syurga. Tak biasanya ia seperti ini.
“Dhan, kamu ngapain ke sini?" tanyaku membuat senyumnya melebar
“Tadi habis dari rumah teman, dan sekalian mampir ke sini. Nggak apa-apa kan Ndah?”    
“Owh, iya nggak apa-apa si, tapi aku takut kalau ibu marah”  
“Tenang aja Ndah, aku ke sini kan niatnya baik,?”   
“Memang kamu mau apa ke sini?” tanyaku khawatir ibu mengetahui hubungan kami.  “Buka bareng temen-temen SMA kita dulu yuk?" ajaknya.
"Boleh, dimana?"  
"Gimana kalau di panti asuhan Aisyah. itu loh, panti asuhan yang dulu sekolah kita pernah kunjungi" Dhanu berusaha mengingatkanku. Aku pun menyetujui ajakan Dhanu ke tempat yang katanya sangat special untuknya, dimana saat Ramadhan tahun lalu sekolahku mengadakan bakti sosial di sana. Ajakannya tak mungkin dapat kutolak, keesokan harinya aku mempersiapkan barang-barang yang akan kubawa untuk anak-anak yatim di sana. Begitu pun Dhanu, ia mempersiapkan segala sesuatunya untuk esok.
           Sesampainya di tempat, "Ndah, kamu masih ingat tempat ini kan?" tanyanya. aku menganggukan kepala.
"Dulu aku pernah bilang ke kamu di sini adalah tempat specialku. Kamu tahu kenapa tempat ini special banget buat  aku?” ingin sekali aku jawab tahu dan aku berikan alasan “Karena pertama kalinya kamu menyatakan cinta ke aku” namun aku urungkan dan aku ingin dia yang mengatakan itu lagi padaku.
“Karena ...” Ucapnya tak diteruskan. Dan aku sangat menunggu kata-kata selanjutnya. “Yuk kita masuk ke dalam!” ajaknya tak meneruskan kata-kata yang hampir membuatku galau. Di sini kami berbagi bersama anak-anak yang kurang beruntung dengan cara bercerita tentang kisah-kisah Rasulullah, kisah-kisah khalifah-khalifah pada masa lampau, dan terakhir Dhanu membuatku tersipu dengan menceritakan kisahnya saat pertama kali bertemu denganku dan mengungkapkan perasaannya padaku di sini. Semua anak yatim itu pun tertawa bukan kepalang dan mengejekku. Tapi saat itu aku benar-benar merasa istimewa karena Dhanu selalu memuji kebaikanku pada anak-anak yatim itu. setelah selesai membatalkan puasa, Dhanu mengajak semuanya untuk Sholat berjamaah terlebih dahulu.
“Siapa yang jadi imam?” tanya Eva teman lamaku.
“Karena bapak-bapak di panti asuhan ini nggak ada, gimana kalau lo aja Dhan?” saran Reza, temanku yang lucu.
“Ide bagus tuh!” sambungku tersenyum padanya yang sedang membenarkan peci. Lalu ia pun mengambil posisi untuk imam, benar-benar suara yang sangat bagus untuk kudengar, Dhanu begitu fasih mengumandangkan ayat-ayat Al-qur’an. Kami tidak langsung beranjak untuk menuruti lapar, tetapi kami berdoa terlebih dahulu, dan berlanjut buka bersama. Tatapannya kali ini begitu tajam, ia menghampiriku yang sedang duduk bersandar di dinding panti.
“Ini surat buat kamu” ia memberiku sebingkis surat untukku. Lalu ku baca, betapa terkejutnya aku membaca surat itu,
“Ikut aku!” ucapnya mengajakku disebuah ruangan yang  sepertinya sangat jarang dijamah. Yang kulihat hanya ada seorang pengasuh wanita yang sedang menyuapi gadis cantik yang duduk di kursi roda.
“Siapa itu Dhan?” tanyaku kaku. Dhanu tak memperdulikan pertanyaanku, lalu ia mendekat ke arah gadis remaja itu  
“Farah, ini kak Dhanu. Kak Dhanu kangen sekali dengan Farah, sebelum kak Dhanu pergi, kak Dhanu punya teman yang akan menggantikan kak Dhanu untuk Farah,” ucap Dhanu lirih seperti bersujud pada gadis yang ia sebut Farah itu. Aku pun menghampirinya dan mengusap pundaknya.
“Dhanu ..” ucapku lirih dan masih menggenggam surat darinya yang berisi keterangan bahwa Dhanu terserang kanker otak stadium empat. Aku tak kuasa menitikan air mata.
”Farah adalah adik aku, dia tuli, Buta, dan bisu. Dia sengaja dibuang ke sini sama mama papa. Karena mereka malu mempunyai anak seperti Farah, tapi sekarang, Allah sudah balas semuanya dengan kebangkrutan usaha mereka dan mereka juga akan kehilanganku untuk  selamanya Ndah, itu sebabnya aku ajak kamu ke sini.” Jelas Dhanu membuat tetesan airmataku semakin deras. Kini aku mengerti arti sebuah kepedulian yang tak pernah berbalas meski sakit sekali pun. Aku  tahu bagaimana ibu menyayangiku. Ibu tak pernah mengizinkan aku dengan Dhanu karena ini. Ibu tak ingin melihatku kacau dan merasa kehilangan Dhanu. Tapi semuanya telah berlalu, Dhanu meninggalkanku. Sedangkan Farah, kembali pada orangtuanya. Begitu sempurnanyakah arti bulan ini untukku? Sepanjang tahun saat aku berjumpa dengan bulan ini selalu ada kisah yang harus aku tuangkan dalam lembar kertas Dhanu. Dan ini adalah sebuah goresan tinta Ramadhanu. Tinta terakhir Dhanu “Saya akan beritahu semuanya pada seorang gadis yang sangat saya sayangi jika tiba waktunya napas saya akan berhenti”. Gadis itu adalah aku.

Created by: Hasniar Rahmawati
[Sabtu, 29 september 2012]

Tidak ada komentar: