Jumat, 26 April 2013

^DENI OH DENNY^


                         DENI OH DENNY
Oleh : Raniar Abbas
Selasa, 01 Januari 2013

Hari berlalu begitu cepat, dan dalam sejarah, menunggu adalah hal yang sangat  membosankan bagi siapa pun. Sama sepertiku yang saat ini sedang menunggu Reni, sahabatku untuk pulang bersama. Aku tak pernah melepaskan pandanganku ke arah Reni yang sedang berduaan bersama Deni, kekasihnya. Tetapi kali ini aku tidak sengaja melepaskan pandanganku untuk seseorang yang sedang duduk tenang di sudut lapangan futsal kampus, mungkin ia sedang menunggu seseorang yang ia cari, aku tidak tahu siapa yang ia tunggu, yang jelas saat ini aku sedang menunggunya untuk menengok ke arahku. Aku coba berhitung 1,2,3, dan seterusnya dalam hati, jika dalam hitungan lima ia menengok ke arahku, khayalanku ia adalah jodohku. Dengan isengnya aku tertawa sendiri saat hitungan kelima ia melihatku dengan anehnya. “Dia jodoh gue ... hahaha” aku bersorak dalam hati. Dan kufokuskan kembali dengan apa yang kunanti, Reni. Setelah menunggu cukup lama, Reni menghampiriku dan memberitahuku bahwa hari ini ia tak jadi pulang bersamaku. Sungguh menyebalkan. Aku melangkahkan kaki menuju halte untuk menunggu bus. Dan tanpa disangka leleki itu datang menghampiriku yang sudah berkeringat karena terlalu lama menunggu Reni. Ia sedang berdiri di sampingku, hanya satu kata yang bisa aku ucapkan saat ini “perfect”.
“Lagi nunggu taxi ya?” tanyanya padaku. 
“Iya.” Jawabku tak sadar dan lidahku seperti tak mau berkata bukan. Padahal mana mungkin gadis miskin sepertiku ini pulang sekolah naik taxi, lebih baik ongkos argonya aku belikan cemilan untuk nonton film A Little Thing Called Love– First Love di laptopku nanti malam.
“Pulang kemana? Di Bumi Taman Indah?” tanyanya lagi.
“Iya” jawabku berbohong, padahal aku tidak pulang ke arah yang ia maksud.
 “Ok. Gue duluan!” ia pergi meninggalkanku untuk masuk ke dalam taxi biru yang telah ia pesan. Aku bengong dengan mulut menganga yang hampir kemasukan lalat melihatnya masuk dalam taxi itu. Aku masih tak percaya mengapa aku harus berbohong demi suatu hal yang aku tak tahu realitanya. Bumi Taman Indah yang ia maksud pun aku tak tahu. Mimpi apa aku semalam? Saat aku terbodohi oleh penampilan lelaki yang cool seperti tadi?. Aku tak percaya dengan ucapanku tadi. Hari yang menyebalkan.
            Tepat jam 19:00 WIB, waktunya menonton. Saat sedang asik menonton film A Little Thing Called Love – First Love romantis itu, tiba-tiba handphoneku berbunyi.
“Yosi, kamu tahu nggak si, setelah Deni nganterin aku pulang, terus ternyata dia jalan sama Gea. Bukan nganterin bokapnya ke kantor. Deni udah bohongin aku!” curhat Reni meringik di telephone. Dengan headset yang menyantol di kedua telingaku, dan tatapan ke arah laptop, aku fokus menonton film itu. Entahlah, sampai saat ini aku tidak suka dengan laki-laki. Pertemuan bersama laki-laki perfect tadi pun terasa sangat biasa. Tak ada yang  special sedikit pun. Banyak sekali hal-hal yang harus aku lakukan untuk membuatku tenang, ketimbang harus memikirkan laki-laki yang nantinya akan membatku sakit hati. Semenjak ayah menceraikan ibu untuk menikahi wanita lain, aku sangat membenci laki-laki.
“Hallo, ih Yosi! Kamu dengerin aku nggak si? Dari tadi cuma em .. emm aja!” Reni yang bawel mulai kubuat bete.
“Iya iya, habisnya lo itu setiap nelphone gue, selalu ngomongin Deni. Kan udah gue bilang, si Deni itu playboy!” Tut tut tut tut ... telephone terputus. Reni selalu tidak terima jika Deni kusebut sebagai playboy. Deni memang pandai berbohong. Buktinya saja, belum lama putus dengan Hesty anak sekolah yang alaynya kelewatan, ia sudah berani mendekati Reni. Dan saat ini, saat ia sedang menjalin hubungan bersama Reni,  dengan beraninya sedang dikabarkan dekat dengan Asya, Diya, Mawar, Resi dan masih banyak lagi wanita-wanita limited editions yang ia simpan. “Sorry, pulsa aku habis” BBM dari Reni. Selalu itu yang menjadi alasan mengapa telephonenya terputus, apakah ia saat ini sedang galau segalau provider-nya yang mengaku anti galau itu? Aku tak mengerti.
Tak lama setelah telphone Yosi terputus, tiba-tiba ada yang mengentuk pintu. Acara nonton yang sudah kusulap sedemikian rupa menyerupai bioskop, terpaksa harus terganggu oleh suara ketukan pintu. Aku harap itu adalah ayah. Karena sudah tiga bulan ia tidak menemuiku. Ketika aku keluar rumah, betapa terkejutnya aku. Seseorang itu adalah Deni, playboy sekolah yang sok cool padahal nggak cool.
“Hey Yosi!” sapanya, cowok yang mengaku mirip Edward Cullen di film Twilight ini sedang menatapku penuh cinta.
“Kedatangan gue ke sini untuk minta maaf sama lo, lo mau kan maafin gue?”
“Maaf buat apa?” tanyaku cuek.
“Buat yang kemarin. Waktu lo nggak jadi pulang sama Reni” ucapnya.
“Owh, iya nggak apa-apa kok, kalem.”
“Ok, thanks ya Yos. Gue balik dulu. Sampai ketemu besok ya!” huh, hanya membuang-buang waktu saja jika hanya ingin mengatakan itu. Memang darah playboy-lah yang sekarang sedang mengalir di tubuhnya. Rasanya ingin sekali aku menendang playboy itu dari tadi. Aku frustasi menghadapi cowok yang sok kalem di depan semua wanita itu pandai sekali menyembunyikan darah playboy-nya. Benar-benar tidak punya hati. Aku heran, mengapa Reni begitu mencintai orang yang sungguh menjengkelkan itu? Apakah itu yang namanya cinta? Meski pun sakit luar biasa, namun tetap sok tegar. Oh no! Aku tidak mau menjadi orang seperti itu.
            “Nih CD-nya. Filmnya keren, asik, romantis. Thanks ya?” aku mengembalikan CD film  A Little Thing Called Love– Firs Love milik Reni.
“Semalem aku baru putus!” kata Reni lesu.
“Deni selingkuh Yos. Dia cuma manfaatin aku buat semua tugasnya. Dan aku benci Deni!” aku sudah tidak kaget lagi dengan seorang Deni yang playboy-nya sampai ubun-ubun itu hanya mempermainkan Reni. Pantas saja semalam ia sok manis di depanku. Ketika aku sedang mengelus-elus bahu Reni, tiba-tiba lelaki halte kemarin lewat di hadapanku.
“Ya udahlah, sekarang kan lo tahu Deni kayak gitu. Ambil hikmahnya aja” aku pura-pura menasihati Reni saat lelaki itu lewat tepat di sampingku. Padahal, mana mungkin aku bicara seperti itu untuk membiarkan Deni kelayapan di kampus?. Yang ada, semua perempuan di kampusku jadi korban penipuannya. Tapi, kenapa aku seperti ini ya? aku jadi menyukai lelaki halte yang baru saja lewat di hadapanku.
“Aku benci laki-laki!” teriak Reni sambil menangis.
“Tapi, sekarang gue lagi suka sama laki-laki Ren! upzz, keceplosan!” ucapku. Reni bengong tak percaya jika aku mulai menyukai laki-laki. Selama ini aku sulit sekali untuk  suka pada laki-laki. Reni langsung mengusap airmatanya, dan menatapku seperti tak percaya.
“Kamu serius suka sama seseorang?” tanyanya memegang kedua bahuku. Aku menggerakkan kedua alisku ke atas.
“Yeee ... Horee! Akhirnya temanku yang tomboy ini suka juga sama cowok!” sontaknya membuat seisi kampus merinding.
“Ssst jangan berisik, ntar gue ceritain semuanya sama lo!” Bisikku. Aku jadi aneh sendiri, kenapa Reni sangat ceria sekali mendengar aku suka pada seseorang. Tapi, ya sudahlah. Semoga proses pendekatanku berjalan lancar.
            Keesokan harinya di rumahku. “Aku nggak nyangka, sahabatku sendiri yang buat aku sakit hati kayak gini!” ucap Reni yang tiba-tiba bicara seperti orang marah saat aku bukakan pintu untuknya.
“Lo kenapa Ren?” tanyaku masih tak sadar.
“Kenapa? kamu pasti kaget kan kalau yang datang ke sini bukan Deni, tapi aku? Eh udahlah Yos, aku udah tahu semua kok. 3 hari lalu Deni datang ke rumah kamu kan? dia bawa cokelat dan bunga buat kamu. Terus maksud kamu apa si? Mau ngrebut Deni dari aku?”
“Astaga Reni, Deni emang dateng ke sini, itu pun cuma minta maaf karena waktu kita mau pulang bareng gue lama nunggu lo. Tapi dia nggak bawa apa-apa. Itu cuma akal-akalannya Deni biar persahabatan kita bubar Ren. Percaya sama gue!”
“Deni yang bilang sama aku. Lagian juga ngapain kamu nggak bilang sama aku kalau Deni ke rumah kamu?”
“Lo masih percaya omongannya Deni? Lo tahu kan, Deni itu cowok penghianat yang cuma mainin perasaan cewe Ren! Kenapa si, lo nggak pernah percaya sama gue? Bahkan lo udah putus sama Deni pun, lo masih nggak percaya sama gue?”
“Aku akan percaya sama kamu kalau aku udah liat sendiri apa yang sebenarnya terjadi antara kamu, dan Deni. Thanks!” Reni pun pergi meninggalkanku di depan suramnya suasana akibat Deni. Aku benar-benar muak dengan playboy satu itu. Rasanya aku ingin sekali membanting handphonenya yang banyak itu satu-satu. Agar tidak ada lagi playboylisme terjadi.
            “Yosi?” panggil seorang laki-laki tampan padaku. Ia adalah lelaki halte. Kenapa perasaanku tak biasa seperti ini? aku bingung. Dan setelah cengar-cengir sendiri, aku baru menyadari ternyata dia tahu namaku. Tahu darimana dia? Astaga!.
“Gue tahu nama lo dari anak Manajemen, kata mereka dulu waktu sekolah lo suka malak anak kelas lain kalau istirahat. Emangnya bener ya?” pernyataan yang mengejutkan. Apa ini? jangan sampai ia tahu kalau dulu aku pernah di Drop Out karena suka malak teman-temanku di sekolah. Tahu darimana dia?
“Deni yang bilang gitu sama gue. Kebetulan dia satu kelas sama gue.”
“Owh, jadi lo adalah temennya Deni?” aku mulai naik darah.
“Ia, oh iya katanya lo temen SMPnya ya?”
“Iya. Udah lah gue mau balik. Udah sore juga. Bye!” aku mulai ilfill dengan tingkah lelaki tadi, aku langsung berpikiran bahwa ia sam asaja dengan Deni yang playboy-nya susah disembuhin. Apa maksud Deni menceritakan perihal yang membuatku malu di hadapan pangeran itu? Aku benci Deni!. Malam ini, aku terasa sepi. Ternyata satu hari tanpa sms atau Bbm Reni berpengaruh sekali untukku. Dan, kini ketukan pintu kembali lagi terjadi. Tapi, kali ini aku berharap itu adalah Reni. Segera aku membukakan pintu. Setelah aku bukakan, betapa terkejutnya aku melihat pangeran tampan itu membawa seikat bunga untukku. Ia menembakku. Rasanya ingin teriak, tapi kondisi tidak memungkinkan. Ini sungguh hal yang sangat aku nantikan. Fix, aku menerima cintanya. Secepat itukah? Iya, cepat. Aku memang mencintainya. Pertama kalinya ditembak laki-laki, dan pertama kalinya punya pacar, serta pertama kalinya tahu nama pacar itu adalah hal yang jarang terjadi. Namanya adalah Denny. Denny Irawan Putra. Tapi kenapa namanya sama dengan Deni playboy? Huh.
            Pagi hari, aku dijemput dengan sepeda motor scooter matic-nya.  Aku sangat bahagia. Dan sepertinya hari ini aku harus berterimakasih pada Deni playboy. Berkat ceritanya, aku bisa mempunyai kekasih untuk pertama kalinya. Yes, for the first time.
Hay Deni?? Thanks banget ya lo udah ceritain semua cerita gue waktu SMP sama Denny ganteng!” laporku seceria mungkin pada Deni playboy usai ia ekskul futsal.
“Maksud lo apaan si Yos?” Reni menyambar dengan melepaskan tanganku yang masih menempel di pundak Deni.
“Iya Ren, gue makasih banget sama  mantan kekasih lo ini, karena berkat dia gue jadian sama Denny.”
“Denny Irawan Putra, maksud lo??” Reni terkejut bukan kepalang. Dan langsung mengacak-acak rambutku.
“Lo jadian sama Denny?!” Deni Playboy juga terkejut.
“Iya, Denny udah cerita semuanya sama gue. Dia suka sama gue dari awal kita ketemu. Dan, dia suka sama cewe yang udah taubat nggak malakin uang jajan temennya semasa SMP. Yaitu gue!. Dan gue tahu banget, tujuan lo cerita semuanya ke Denny tentang badungnya gue dulu, itu karena biar Denny benci sama gue kan? ngaku!” kataku mulai mengepal tangan yang siap menerobos wajah Deni yang sok Cool.
“Oh jadi gitu ya ternyata? Ihss, sekarang lo harus minta maaf sama Yosi! Cepetan!” bentak Reni yang mulai tahu sosok Deni.
“Iya udah, maafin gue ya, Yos? gue cuma kesel aja sama Denny yang sok kecakepan.”
“Eh Den, si Denny emang cakep kali!” balasku.
“Ya lo juga cakep si Den, tapi kalau hati lo baik, pasti cakepnya pol-polan. Seriusan!” ucap Reni yang benar-benar tidak bisa move on dari Deni.
“Emm, Yos. Sorry ya kemarin-kemarin aku udah salah paham sama kamu. Aku kira kamu lagi PDKT sama Deni” tambah Reni.
“Appa?? Gue PDKT sama Yosi? Nggak akan lah, masa iya gue punya cewe yang macho-nya ngalahin gue?” sambung Deni lagi-lagi sok Cool.
“IIIHHHHHZZzZZzzzZ !!!!!!!” teriakku dan Reni yang menarik-narik kaos olahraganya karena kesal.
Semuanya berakhir dengan indah, namun masih ada yang kurang, yaitu Reni kembali menjomblo karena tidak tahan dengan ke-playboy-an. Dan, sampai saat ini, Deni masih mendapat gelar sebagai playboy yang playboy-nya mencapai batas kewajaran. Bagaimana pun, Terimaksih lagi Deni. 



Tidak ada komentar: