DENI OH DENNY
Oleh : Raniar Abbas
Selasa, 01 Januari 2013
Hari berlalu begitu cepat, dan dalam sejarah, menunggu
adalah hal yang sangat membosankan bagi
siapa pun. Sama sepertiku yang saat ini sedang menunggu Reni, sahabatku untuk
pulang bersama. Aku tak pernah melepaskan pandanganku ke arah Reni yang sedang
berduaan bersama Deni, kekasihnya. Tetapi kali ini aku tidak sengaja melepaskan
pandanganku untuk seseorang yang sedang duduk tenang di sudut lapangan futsal kampus,
mungkin ia sedang menunggu seseorang yang ia cari, aku tidak tahu siapa yang ia
tunggu, yang jelas saat ini aku sedang menunggunya untuk menengok ke arahku.
Aku coba berhitung 1,2,3, dan seterusnya dalam hati, jika dalam hitungan lima
ia menengok ke arahku, khayalanku ia adalah jodohku. Dengan isengnya aku
tertawa sendiri saat hitungan kelima ia melihatku dengan anehnya. “Dia jodoh
gue ... hahaha” aku bersorak dalam hati. Dan kufokuskan kembali dengan apa yang
kunanti, Reni. Setelah menunggu cukup lama, Reni menghampiriku dan memberitahuku
bahwa hari ini ia tak jadi pulang bersamaku. Sungguh menyebalkan. Aku melangkahkan
kaki menuju halte untuk menunggu bus. Dan tanpa disangka leleki itu datang
menghampiriku yang sudah berkeringat karena terlalu lama menunggu Reni. Ia sedang
berdiri di sampingku, hanya satu kata yang bisa aku ucapkan saat ini “perfect”.