EH, LO!
Oleh : Raniar Abbas
Sabtu, 15 september 2012
Hari ini menjadi hari yang sangat sepi dan
membosankan untukku. Hanya ada sepetak kamar kostan yang menjadi satu-satunya
tempat favorit-ku. Hari minggu semua
penghuni kostan meninggalkan tempat yang dengan terpaksa menjadi tempat favorit mereka. Tetapi saat aku sedang
asik menggalau di kamarku ini, tak sengaja dari jendela aku melihat seorang lelaki
tampan yang membawa tumpukan barang dari sebuah kamar kost putra di seberang
kostanku. Ia terlihat kesulitan saat mengunci pintu kamarnya karena barang yang
ia bawa terlalu banyak. Tak kusadari aku pun menertawakannya seperti orang
bodoh. Tetapi saat ia berhasil mengunci pintu kamarnya ia melihat kearahku dan
dan tersenyum. Aku tak dapat menertawakannya lagi, aku diam dan membiarkannya
pergi membawa tumpukan barang itu. Lalu aku menutup kembali jendela kamar
dengan perasaan malu dan bersalah. Sebagai penghuni baru kostan ini, tak
seharusnya aku menertawakan seseorang yang sedang kesulitan seperti pertama aku
mengisi ruangan ini, dengan sulitnya aku membawa barang bawaan dari lantai satu
ke lantai tiga kostan. Aku terus berpikir sambil memakan beberapa cemilan yang seminggu
lalu kudapat dari mama saat aku pulang ke rumah. Tak lama kemudian, terdengar
ketukan pintu dan memanggil-manggil namaku, lalu dengan siap siaga aku pun
membukakan pintu.
“Ini
neng ada surat dari anak kost sebelah” jawab ibu kost memberi selembar kertas
padaku.
“Owh,
eemm iya terimakasih ya, Bu?” ku ambil surat dan ibu kost pergi. Dengan rasa
penasaran aku pun membuka surat itu dan ...
“74, Putra” hanya berisi sebuah angka dan praktis
membuatku tak mengerti dengan kata-kata itu. Sebuah tulisan tangan sangat buruk
yang pernah kulihat. Kulipat kembali kertas itu dan kulempar di sembarang
tempat. Aku tidak perduli dengan kertas yang hanya memakan daya imajinasiku
saja itu, setelah lama aku berdiam rasanya tak mungkin sekali penghuni kostan
sebelah memberiku selembar kertas yang kuanggap kurang kerjaan itu. Dan ini
membuatku penasaran, kalau memang itu dari teman kostan, rasanya tidak mungkin,
karena semua penghuni kostan sedang pulang kampung. Tak biasanya aku dibuat
kacau dan penasaran begitu hebatnya, lalu beberapa menit kemudian pikiranku
tertuju pada pria yang belum lama kulihat di kostan putra. Dan saat aku melihat
kostan itu, ternyata benar. Angka 74 adalah nomor kamar kostannya. Lalu apa
maksudnya pria itu mengirimkan nomor kamarnya padaku?. Kutenangkan kembali
pikiranku sejenak dengan menghempaskan tubuhku di kasur. Namun, bukan
ketenangan yang kudapat, melainkan sebuah rasa penasaran yang luar biasa.
Hari senin menyambutku dengan sebuah
perasaan baru akibat menggalau terlalu lama. Setibanya di kampus, tak sengaja
aku melihat lelaki tampan itu sedang bersama teman-temannya “Ternyata dia
kuliah di sini juga?” batinku melintir tak karuan. Ingin sekali aku menanyakan
perihal surat aneh itu padanya, tetapi kakiku begitu berat untuk melangkah. Aku
pun masuk kelas dan duduk di kursi besi ala anak kampus.
“Hi
Diandra, kenapa lo? galau terus” tanya Julia teman akrabku.
“Jul,
ada yang buat gue penasaran nih!” curhat pun dimulai.
“Apa?
cerita dong!” lalu kuceritakan semua
yang terjadi kemarin. Julia terkejut dan ...
“Bahaya,
this is danger Diandra ! lo harus
hati-hati !”
“Lo
apaan si ! apanya yang bahaya?” aku bingung melihat Julia panik.
“Kalau
memang cowo itu ngasih nomor kamarnya ke lo, itu artinya cowo itu lelaki hidung
belang, Ndra!”
“Kok
lelaki hidung belang si? Apa hubungannya?” aku masih tak mengerti.
“Itu
artinya lo diundang buat jadi cewe yang nggak bener sama dia!” bisik Julia mata
dengan mulutku melebar. Aku mulai ketakutan dan berpikiran yang tidak-tidak
tentang lelaki misterius itu.
“Nggak
mungkin Jul, soalnya cowo itu nggak ada tampang cabulnya sama sekali, orangnya
itu kayak pendiam, Kalem deh”
“Aduh
Diandra, please deh! jangan jadi cewe
bego. Ya mungkin aja dia itu lagi ngikutin trend
biar dibilang cool , gaul, dan
kece ala-ala boyband gitu deh!”
“Ok
deh! Kalau gitu gue harus cari tahu tentang cowo itu. Karena ini menyangkut
harga diri gue Jul. Lo harus bantu gue.”
“Iya
sip deh!” Galau mulai menerpa saat dosen mulai datang untuk siap memberi materi
tentang Piutang Dagang. Namun, aku
harus menjadi mahasiswa yang profesional. Meskipun aku dilanda penasaran dan
ketakutan yang amat dalam, namun aku harus tetap fokus pada semua mata kuliah
hari ini.
Keesokan harinya, saat embun masih
berkabut di bumi, dengan santainya sebuah sepeda fixie melintas mendahului sepedaku saat akan mencari sarapan di
depan komplek kostan. Dan pengemudinya pun memakai kemeja yang sama seperti lelaki
misterius itu. Dengan pedenya aku pun menggowes sepedaku lebih kencang untuk
mengetahui siapa pengemudi sepeda fixie
biru itu. Dan saat sepedaku berdekatan dengannya, ia seperti melirikku kemudian
ia menggowes sepedanya lebih kencang, hingga membuatku terkejut dan meyakini
bahwa lelaki itu adalah target yang kucari. Saat waktu memberiku kesempatan
lima menit untuk menuju kampus, pria itu kembali berperan dalam gugupku. Saat
itu aku sedang mengunci pintu kamarku dari luar, tiba-tiba ada yang melempar
selembar kertas yang bertuliskan “Telat ya? :p” masih dengan tuisan jelek itu.
Dan kekesalanku memuncak saat kulihat ke arah lelaki itu, namun bukan ialah
yang menulis untukku, rasanya tak mungkin sekali lelaki setampan Jacob Twylight itu tulisannya seburuk ini.
Dari jauh, ia melihatku dan tersenyum. Kali ini, aku benar-benar terpesona. Dan
kalaupun ia yan menuliskan tulisan-tulisan buruk itu untukku, tak apalah,
bagaimana pun ia tetap mempesona.
Dan untuk yang kesekian kalinya aku bertemu
dengannya di kampus. Kali ini ia mendekatiku dan ia mengulurkan tangan untuk
berjabat tangan denganku. Tangankupun dengan sigap menerima jabatan tangannya.
“Vega!”
ucapnya lantang.
“Diandra!”
balasku.
“Emm
sorry ya kemarin-kemarin temen-temen gue iseng banget. Yang nulis itu adalah
temen gue.” Jelasnya membuatku shock.
“Ohh
jadi ini yang lo maksud lelaki misterius itu Diandra?” tiba-tiba Julia muncul
dengan wedges 30 cm-nya.
“Ia”
jawabku bodoh.
“Dia
temen lo Jul?” tanya Vega seperti shock jika aku teman Julia.
“Ia
Veg, ini temen gue yang sering gue ceritain sama lo. Dia jarang mandi, jarang
ganti baju, dan super jorok!” tegas Julia membuat harga diriku melorot.
Sepontan aku membungkam mulut Julia dengan tanganku.
“Hahahaha,
nggak apa-apa kali, woles. Tapi, lain kali harus rajin-rajin mandi ya biar
tambah cantik” nasihatnya kali ini membuatku melayang ke langit ke lima.
Sedangkan Julia tertawa lepas melihatku yang terlihat bodoh di depan lelaki
setampan Vega.
Sepulangnya dari kuliah, Julia menceritakan
semuanya tentang Vega padaku. Ternyata Vega adalah sahabatnya dari SMA. Dan
yang lebih kurang kerjaannya lagi, Julia iseng menceritakan semua kebiasaan
burukku pada Vega. Sungguh menyebalkan. Mengingat surat yang beberapa waktu
lalu kulempar di sembarang tempat yang menyebalkan itu, Julia memintaku untuk
mencarinya lagi. Dan akhirnya kutemukan di kolong lemari yang tidak pernah
kusapu. Dan kuperlihatkan isi dan tulisan surat itu pada Julia. Dan betapa terkejutnya
Julia melihat tulisan jelek itu. Ia berteriak “AAAAAA!!! INI TULISAN TOKEK!!”
“Siapa
tokek???” tanyaku.
“Panggilan
sayang gue ke Riko” jawab Julia membuatku JLEB. “Sekian dan Gue tetap
MENJOMBLO!” said me.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar