Ketika aku menangis aku tahu aku sedang menikmati hidup. Aku
tak mungkin bisa tahu bagaimana perihnya cinta, aku tak akan tahu indahnya suatu perasaan jika aku tak
mencintainya. Di sekolah ini, aku bertemu dengan Marga, sosok cowok idaman yang menghantuiku tiga bulan yang lalu. Marga berdiri di depanku dengan tatapan seakan penuh tanya
“Apa dia suka padaku?” harapku. Aku terus menatap matanya yang indah layaknya wanita konyol
yang ingin mendapatkan cinta dari lelaki yang kusebut pangeran.
”Marisa??” aku tersontak, seketika aku melepaskan tatapanku.
”Lo kenapa ada di sini?” tanyanya membuatku gugup.
“Guee .. ee .. e ..” aku tak dapat berucap.
“Ini kan ruang ganti cowok” selanya hingga membuatku malu.
“Owh ... iya, gue lupa kenapa gue ada di sini ya? Hehe ..” aku berbalik badan dan gigit jari, padahal niatku akan memberinya sapu tangan yang kubuat sendiri.
“Marisa?!!” panggilnya lagi padaku, spontan aku kembali membalikkan badanku.
“Iyaa??” dengan polosnya aku menjawab panggilannya.
