![]() |
| not love, but my best friend |
Tak
biasanya aku seperti ini, duduk tenang membaca buku di sudut toko buku
langgananku meski ujung-ujungnya tak pernah kubeli sepanjang abad. Aku sempat
membaca buku tentang kepribadian seseorang di toko buku yang biasa kukunjungi
sepulang sekolah ini. Sebelumnya aku belum pernah membaca buku tentang itu, saat
aku membaca buku itu, tak hentinya otakku berputar dan terus ingin
mengingatkanku pada seseorang yang rasanya tak mungkin aku harapkan lagi. Dan
ada satu sifat lagi yang membuatku bertanya-tanya tentang hal ini, hal yang
sama, namun apakah salah- satu sifat
yang kumiliki ini adalah tergolong sombong? Aku adalah type orang yang ingin membaca atau bahkan aku hobi membaca, tetapi
aku tak ingin dilihat orang lain jika aku suka membaca.
“Serius
banget bacanya?” tanya seorang lelaki padaku, suara yang benar-benar tidak
asing ditelingaku.
“Ka
Dimas?” ucapku terkejut melihat sosok Dimas yang kepribadiannya sedang kubaca.
“Buku
ini Best seller loh Hel. Kalau orang
yang hobi baca buku, pasti enggak mau ketinggalan buat baca.” Ucapnya sambil
membaca buku yang sama. Dan ia duduk di sampingku hingga membuatku deg-degan.
Aku
sudah tak fokus lagi untuk membaca buku kepribadian ini, aku tertunduk dan
harus berpura-pura membaca. Setelah lima belas menit membaca ...
“Emmm
kayaknya bagus nih, eh Hel gue duluan ya? lo mau beli ini kan? Ntar gue pinjem ya? Bye!!“ lalu dengan santainya dia meninggalkanku untuk pergi bersama
calon kekasihnya, Rani yang tak lain adalah kakak kelasku.
Rasanya
ada yang salah dengan sikapku yang dingin ini, mana mungkin aku harus membeli
buku kepribadian ini? untuk membeli buku pelajaran saja aku harus mati-matian
mengurangi uang jajanku selama sebulan. Tapi apapun yang terjadi aku harus
membeli buku ini agar aku bisa lebih dekat dengan Dimas, kakak kelas yang jago
basket dan berkharismatik, sangat
beruntungnya wanita-wanita yang pernah dekat dengannya. Dan sepertinya tak ada
ruginya jika aku membeli buku ini, lagipula buku ini memang benar-benar menarik
dan sangat sayang sekali jika tak kumiliki, apalagi jika suatu saat aku
mempunyai satu moment bersejarah
dengannya.
“Maaf
mbak!, bukunya sudah selesai dibaca?” tanya pelayan toko padaku seakan
memintaku untuk menyudahi membaca.
“Belum
si mbak, eemm ... kenapa ya mbak?” tanyaku ketakutan, malu, dan gugup jika buku
ini akan dibeli orang.
“Mbak
sudah terlalu lama membaca di sini, ini bukan perpustakaan mbak, maaf ya?“ kata
pelayan itu lagi dengan suara lembut.
“Owh,
iya iya maaf mbak!, saya mau pergi kok mbak, ini bukunya. Terimakasih?!”
balasku cengar-cengir untuk mengurangi rasa maluku terusir dari toko buku itu.
Malam
ini aku tak bisa tidur dan aku hanya fokus pada twitterku ”@Rachelia These
days, I haven’t been sleeping” aku terus menunggu mention dari
@Dimashasy yang tak lain adalah twitter ka Dimas. Lima menit kemudian
begitu terkejutnya aku melihat notificationku
bahwa ka Dimas telah meretweett
statusku tadi. Bahagianya aku jika ka Dimas merasakan apa yang kurasakan
walaupun hanya sama tidak bisa tidur. Akhir-akhir ini aku tak bisa tidur
karenanya yang selalu membuatku galau dan selalu ingin tahu semua kegiatannya
apalagi semua kegiatannya bersama ka Rani, cewe feminin yang jadi primadona
di sekolah. Rasanya tak mungkin sekali aku bersaing dengannya. Aku hanya cewe
konyol dan bodoh yang selalu jadi bulan-bulanan madding kelas karena kehebohan
teriakanku saat menonton pertandingan basket di lapangan sekolah, lumayan
terkenal si, tapi kenapa terkenal dalam hal itu?, hanya ada satu orang yang
selalu memujiku yaitu Kono. Cowo berbehel yang menyimpan otak matematika di kelas
1B yang katanya ngefans padaku. Tapi,
tidak penting sekali aku harus memikirkan hal itu, masih banyak hal yang harus
aku pikirkan lagi selain Rani. Tapi bagaimanapun aku sudah mengiyakan kata-kata
Dimas tentang buku Best Seller itu,
dan itu artinya aku harus membeli buku itu demi kesejahteraan hatiku pada
Dimas. Semoga ini adalah menjadi awal yang baik untukku agar bisa dekat dengan
Dimas. Kutarik selimutku dan kupejamkan mata agar besok aku bisa menahan
lapar untuk tidak jajan demi Dimas.
Di
sekolah, Saat istirahat tiba aku dan Ika sahabatku yang sedikit pendiam dariku melihat pertandingan futsal kelas
sebelas di lapangan sekolah.
“Eh lo
tau gak si Hel? semalem gue bbman loh
sama Iqbal!, ya ampun gue seneng banget tau!” Curhat Ika sok unyu.
“Iqbal
yang lagi tanding itu?” tunjukku pada sosok Iqbal yang sedang bertanding.
“Iya
iya, Iqbal anak sebelas IPA1. Ya ampun Hel kata-katanya itu bener-bener buat
gue terbang!” Tambahnya sambil setengah menyipitkan matanya dan geregetan.
“Ya
ampun Iqbal aja lo sukain, kayak enggak ada yang lain aja deh!” Balasku cuek.
“ihh ...
Iqbal itu keren banget, liat deh apalagi kalau lagi main futsal!, eemm machonya keliatan! ckckck” curhatnya
lagi sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan centil.
“Emm
dasar lebay!!” ketusku.
“Hahaha.
Gue rela kok jadi orang lebay atau alay demi Iqbal. Hel, pulang sekolah ke toko
buku yuk?” ajaknya membuatku terkejut, rasanya tak mungkin sekali jika aku
membeli buku kepribadian Best Seller
itu diketahui oleh Ika, apalagi aku pernah bilang jika aku tak suka membaca.
“Lo mau
ngapain ke toko buku?” tanyaku memastikan.
“Ya
beli buku lah, soalnya gue disuruh kakak suruh beli buku kepribadian yang
katanya best seller gitu Hel”
jawabnya benar-benar membuatku shock
jika buku itu habis terjual karena banyak peminatnya.
“Emm ...
owh iya gue juga mau ke toko buku, ada buku yang mau gue beli!” kataku
membuatnya terkejut dan melepaskan pandangan Iqbal.
“Enggak
salah denger nih gue??” tanyanya.
“Hehe. Ya
udah deh pokoknya ntar kita ke toko
buku dulu aja.” Balasku kikuk.
Bel
pulang pun berbunyi hingga melululantahkan seisi sekolah. Dan ini saatnya aku
dan Ika bergegas meninggalkan sekolah dan menuju toko buku langgananku.
Sesampainya di tempat, dari jauh terlihat begitu sesaknya isi toko buku ternama
itu. Akupun berlari kencang dan tak mempedulikan Ika yang sibuk bbman dengan Iqbal. Aku sibuk dan gugup
mencari buku kepribadian Best seller
itu, namun tak kunjung kutemukan. Kulihat semua orang yang berada di toko buku
itu telah memegang buku Best seller
yang kucari. Pilihan terakhir adalah menanyakan pada pelayan toko yang ekstra sibuk membantu kasir melayani
pembeli tentang keberadaan buku itu. Dan sangat miris yang kudengar "Maaf,
mbak!, bukunya sudah habis" begitu layunya tubuh ini menopang penyesalan
yang amat dalam. Akupun keluar dari toko buku itu dengan muka pasrahku.
"Rachel?"
panggil seseorang bersuara unyu padaku. Aku baru ingat jika tadi aku ke sini
bersama Ika, rupanya Ika telah menungguku di luar toko. Dan begitu terkejutnya
aku melihat Ika membawa sebingkis plastik cantik yang dapat kuterawang berisi
buku Best seller yang kucari.
"Ika??
lo dapet bukunya??" tanyaku gigit jari.
"Iya
Hel, lo dapet buku yang lo cari enggak?"
"Hheeemmm
... gue enggak dapet buku itu Ka" jawabku setengah meringik.
"Loh,
kok gitu??"
"Gue
juga enggak tahu, padahal tadi gue udah belain lari-lari buat beli buku
itu" jawabku lagi meringik.
"Gue
kira tadi lo lari-lari karena kebelet ke toilet Hel, makanya gue diem aja"
kata Ika merasa kasihan denganku.
"Emang
buku apa yang lo cari Hel?" tanyanya membuatku tambah meringik setengah
menangis.
"Buku
kepribadian best seller yang lo beli
itu Ka !! "
"Loh
... kenapa lo enggak bilang dari awal kalau lo beli buku yang sama kayak gue
Hel? kalau lo bilang kan tadi gue bisa ambil dua, satu buat lo"
"Kok
tadi gue nyari di dalem enggak ada si?!" tanyaku masih kesal.
"Buku
ini adanya di paling depan Hel, dan pas gue beli tadi buku ini tinggal dua,
terus yang satunya diambil deh sama kakak-kakak kampus"
Aku
semakin sedih mendengar penjelasan Ika, menyesal sekali aku tidak memberitahu
buku yang akan kubeli pada Ika, pikirku aku yang tahu di mana letak buku itu
saat kemarin aku membacanya, tapi ternyata otakku tak sampai berpikir sejauh
itu, toko buku telah memindah posisi buku itu di bagian paling depan.
kekhawatiranku semakin hancur.
"Lo
bener-bener mau buku ini ya Hel?" tanya Ika kasihan melihatku duduk
tertunduk pilu. Aku menganggukkan kepala.
"Ya
udah kita cari di tempat lain yuk!, siapa tahu masih ada" kata Ika
membuatku bangkit dan mengusap mataku yang merah karena meringik sedih.
Aku dan
Ika terus berburu buku Best seller
yang hampir menggemparkan otakku. Setelah hampir semua toko buku di kotaku
kukunjungi, namun ini adalah saat sialku. Aku tak menemukan buku itu untuk
Dimas. Setelah beberapa jam mencari, aku dan Ika berhenti sejenak disebuah cafe
jajan untuk mengisi perut kami yang keroncongan.
"Udah
lah Hel, jangan galau gitu. btw,
kalau boleh tahu kenapa si lo ngebet
banget pengin buku itu?" tanya Ika. Rasanya aku kehilangan harga diri jika
aku benar-benar menjawab pertanyaan Ika yang menurutku sangat kepo, kalau aku membeli buku itu hanya
untuk satu tujuan yaitu Dimas. Aku masih diam dan memutar-mutar sedotan yang
bersandar di minumanku.
"Setahu
gue, lo enggak suka baca deh!" tambahnya.
"Eemm
Ka, buku itu penting banget buat gue, lo masih mau temenin gue nyari buku itu enggak?"
aku sangat memohon.
"Aduh,
sorry Hel. ini udah jam tujuh malem loh!, terus kita masih pake seragam sekolah
lagi!, kalau ketahuan guru kita jam segini masih keluyuran pake seragam kita
bisa kena skors !"
"Jadi,
lo enggak bisa ya Ka?" tanyaku lagi.
"Kalau
memang lo mau baca buku ini, lo bisa kok pinjem punya kakak gue, enggak harus
baru kan?"
"Ya
udah deh kalau lo enggak bisa, kita pulang aja yuk !"
akhirnya
kami pulang.
Keesokan
harinya di sekolah, baru aku saja melangkahkan kaki di depan kelas, Ika
menghampiriku dan memberiku surat peringatan dari kepala sekolah.
"Kita
calon diskors Hel!" Ucap Ika
melas. Segera kubaca isi surat peringatan itu dan kami pun menemui kepala
sekolah. Ketika berhadapan dengan kepala sekolah ...
"Kalian
sudah mempermainkan peraturan sekolah, dan kalian juga tidak menghormati
almamater sekolah kalian. Sekolah kita ini dipandang baik oleh
masyarakat!"
"Kami
mohon pak, jangan diskors dong pak!" Pinta Ika dengan wajah berkeringat.
"Dulu
gengnya Niken keluar malem masih pakai seragam sekolah sampai jam
sembilan enggak sampai diskors pak!,
kok kita cuma sampai jam tujuh diskors
si?" tambahku.
"Niken
dan kawan-kawannya keluar sampai jam sembilan masih pakai seragam sekolah untuk
bakti sosial Hel, dia kan ketua Osis" bisik Ika membuatku malu.
"Ok
masih bisa saya maafkan, tapi kalau sampai kejadian ini terulang lagi, saya
akan keluarkan surat peringatan untuk orangtua kalian." kata pak kepsek
"Jadi
kita enggak diskors kan pak??" tanyaku senang.
"Eemmm
... terimakasih banyak pak, terimaksih!" kamipun keluar ruangan.
Aku
sangat merasa bersalah karena begitu serakahnya aku hingga sempat melupakan
sahabatku sendiri demi buku itu. Ika benar-benar sahabatku yang baik, dia rela
mendapat image yang hampir tercoreng
karena ulahku.
Tepat
pukul 22:22 WIB aku belum juga bisa memejamkan mataku, mataku masih tertuju
pada komputerku yang masih menyala melihat status twitter @Dimashasy yang selalu mesra-mesraan dan mention-mentionan dengan @Ranikaragil
alias Rani si Primadona sekolah. Hatiku begitu tak menentu dan rasanya ingin
sekali memusnahkan mention-mention
mereka dari berandaku. Percuma jika aku menyukai Dimas, karena Dimas pun
sepertinya hanya menganggapku sebagai adik kelasnya yang konyol saat
menontonnya main basket di lapangan sekolah. Ia juga tidak menanyakan buku Best seller yang rencananya akan ia
pinjam padaku seperti pintanya dua hari lalu. Kututup komputerku dan
kuhempaskan tubuh sexyku di kasur.
Kutatap langit-langit kamarku dan terus memikirkan apa yang telah terjadi
padaku. Aku tidak pernah tahu bagaimana Ika sesampainya di rumah malam itu, aku
juga tidak pernah berpikir apakah Ika akan baik-baik saja, karena yang ku tahu
ayah tiri Ika sangat galak.
Seharusnya aku berpikir panjang, seharusnya aku tahu resiko yang akan aku
hadapi. Kalau sudah begini, aku merasa sangat bersalah dan patah hati tanpa
dicintai sama sekali. Seharusnya begitu beruntungnya aku bisa disukai oleh
Kono, walaupun kadang aneh tapi dia jago matematika. Aku terlalu banyak
menyia-nyiakannya. Meskipun tak mudah untuk melupakan Dimas begitu saja, aku
harus bisa melupakannya demi sahabat-sahabatku dan harga diriku sebagai wanita.
keesokan
harinya Di kelas, Aku berusaha menjelaskan semuanya pada Ika, "Ika, boleh
gue duduk deket lo?"
"Ya
ampun Hel kayak apa aja deh, duduk aja kali!" Akupun duduk didekatnya.
"Ka,
sorry ya gara-gara gue, lo hampir diskors."
"
Iya enggak apa-apa kok Hel, maklum lah namanya juga kita kan sekolah di sekolah favorit
! Hahaha "
tiba-tiba
Kono datang dengan membawa buku Best
seller yang sudah kusam karena sering di baca.
"Hi Rachel, hi Ika?? lagi pada ngapain?" sapa Kono . Aku hanya melotot
melihat buku yang ia pegang
"Buku
kepribadian? Best seller?"
ucapku bernada tinggi.
"Iya
Hel, di sini ada sifat-sifat kepribadian lo dan gue juga" jawab Kono. Ika
memegang pundakku, dan aku melirik kearah Ika yang sepertinya tahu apa maksudku.
"Gue
boleh pinjem enggak?" pintaku lembut.
"Iya
boleh lah, boleh banget malah!, daftar kepribadian lo ada di halaman 58
ya." balas Kono semangat empat lima memberikan bukunya padaku.
"Ya
ampun Kono, dari Kemarin Rachel cari-cari buku ini. Tapi enggak dapet-dapet!."
Ketus Ika ikut bahagia.
"Oyaaa??
Hel, kalau lo mau buku itu, ambil aja buat lo.Gue udah selesai baca kok"
"Eemmm
enggak usah No, gue pinjem aja. Thanks
ya, lo baik banget" balasku "Hahaha, gue yang terimakasih sama lo. Eh
Ka, kemarin malam bokap lo ngamuk lagi ya?"
"Enggak
juga kok, lo sok tahu banget deh." Jawab Ika seperti merahasiakan yang
terjadi padaku.
"Ya
tahu lah, gue kan tetangga lo."
"Ika,
waktu kita pulang malam lo kena marah bokap lo ya? sorry banget ya Ka." tanyaku tak enak hati.
"Enggak
apa-apa kok Hel, yang penting lain kali jangan kayak gitu lagi hehe" jawab
Ika.
"Emangnya lo cari buku ini buat apa Hel? bukannya lo gak suka baca ya?" tanya Kono
"Emangnya lo cari buku ini buat apa Hel? bukannya lo gak suka baca ya?" tanya Kono
"
Jujur ya Ika, kono, sebenernya gue beli buku ini buat Dimas."
"Apppaaa???
Dimas anak sebelas IPA2?" Tanya Kono dan Ika kompak.
"Iya,
soalnya gue suka sama dia,"
"Jangan
pernah ngerusak kebahagiaan orang lain deh Hel, Dimas kan lagi PDKT sama Rani" nasihat Ika.
"Iya,
gue baru sadar Ka, semalem keputusan gue bulat buat ngelupain Dimas."
"Terus,
kalau buku ini gue pinjemin ke lo sekarang, lo bakal pinjemin ke Dimas enggak?"
tanya Kono seperti cemburu.
"Enggak.
Ini kan punya lo, kalau dia nagih ke gue ya gue bilang aja waktu itu gue gak
jadi beli. lagian kalau emang Dimas mau pinjem buku ini ya izinnya ke lo, bukan
ke gue."
"Hahhaha
... sip sip sip!, gue tambah ngefans
sama lo." kata Kono lebay.
"Ya
udah sekarang lo masih enggak mau ngaku juga kalau sebenernya lo hobi baca buku
kayak Kono??" tanya Ika menodong.
"Iya
gue ngaku, gue hobi baca!" Kataku pasrah, meski ujung-ujungnya membuat
Kono makin melayang tinggi karena aku mempunyai hobi yang sama dengannya.
"Eh
Ika, dapet salam tuh dari Iqbal anak sebelas IPA1" teriak salah satu teman
kelas.
"Ciyee
... ciyee ... yang lagi melting
!!" ejekku dan Kono pada Ika yang mukanya merah karena salah tingkah.
Kebahagiaan teman, sahabatku adalah kebahagiaanku juga. Tidak seperti
kebahagiaanku pada Dimas.
Dimas,
sebenarnya apa yang aku harapkan tidak seperti ini. tapi apa yang aku rasakan
saat bersama sahabat-sahabatku itu lebih bahagia dari pada saat dekat denganmu
yang hanya makan pikiranku dan membuat sakit hati. Tapi bagaimanapun, kau tetap
kakak kelasku yang harus aku hargai. kini, kebahagiaanmu adalah satu senyuman
untukku tidak lagi menjadi satu bagian kebahagiaanku sepenuhnya. Kau pantas
mendapatkan apa yang seharusnya kau dapatkan bersama orang yang mencintaimu dan
yang kau cintai. Bukan cinta yang harus aku tumpahkan saat ini pada seorang
Dimas, melainkan kasih sayang yang tulus dari adik kelasnya ini. Dan aku tetap menjadi cewe konyol yang
akan berteriak paling keras saat melihatmu bermain basket di sekolah. Biarkan
aku tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan saat bersamamu, teman-teman, dan
semua orang. Sahabatku yang mengajarkanku arti menerima kebahagiaan yang tumbuh
pada diriku.
created by : Hasniar Rahmawati
[ Rabu, 29 Agustus 2012 ]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar