Rabu, 29 Agustus 2012

^BUKAN CINTA^

                                                      
not love, but my best friend
Tak biasanya aku seperti ini, duduk tenang membaca buku di sudut toko buku langgananku meski ujung-ujungnya tak pernah kubeli sepanjang abad. Aku sempat membaca buku tentang kepribadian seseorang di toko buku yang biasa kukunjungi sepulang sekolah ini. Sebelumnya aku belum pernah membaca buku tentang itu, saat aku membaca buku itu, tak hentinya otakku berputar dan terus ingin mengingatkanku pada seseorang yang rasanya tak mungkin aku harapkan lagi. Dan ada satu sifat lagi yang membuatku bertanya-tanya tentang hal ini, hal yang sama,  namun apakah salah- satu sifat yang kumiliki ini adalah tergolong sombong? Aku adalah type orang yang ingin membaca atau bahkan aku hobi membaca, tetapi aku tak ingin dilihat orang lain jika aku suka membaca.
“Serius banget bacanya?” tanya seorang lelaki padaku, suara yang benar-benar tidak asing ditelingaku.
“Ka Dimas?” ucapku terkejut melihat sosok Dimas yang kepribadiannya sedang kubaca.
“Buku ini Best seller loh Hel. Kalau orang yang hobi baca buku, pasti enggak mau ketinggalan buat baca.” Ucapnya sambil membaca buku yang sama. Dan ia duduk di sampingku hingga membuatku deg-degan.
Aku sudah tak fokus lagi untuk membaca buku kepribadian ini, aku tertunduk dan harus berpura-pura membaca. Setelah lima belas menit membaca ...
“Emmm kayaknya bagus nih, eh Hel gue duluan ya? lo mau beli ini kan? Ntar gue pinjem ya? Bye!!“ lalu dengan santainya dia meninggalkanku untuk pergi bersama calon kekasihnya, Rani yang tak lain adalah kakak kelasku.
Rasanya ada yang salah dengan sikapku yang dingin ini, mana mungkin aku harus membeli buku kepribadian ini? untuk membeli buku pelajaran saja aku harus mati-matian mengurangi uang jajanku selama sebulan. Tapi apapun yang terjadi aku harus membeli buku ini agar aku bisa lebih dekat dengan Dimas, kakak kelas yang jago basket dan berkharismatik, sangat beruntungnya wanita-wanita yang pernah dekat dengannya. Dan sepertinya tak ada ruginya jika aku membeli buku ini, lagipula buku ini memang benar-benar menarik dan sangat sayang sekali jika tak kumiliki, apalagi jika suatu saat aku mempunyai satu moment bersejarah dengannya.
“Maaf mbak!, bukunya sudah selesai dibaca?” tanya pelayan toko padaku seakan memintaku untuk menyudahi membaca.
“Belum si mbak, eemm ... kenapa ya mbak?” tanyaku ketakutan, malu, dan gugup jika buku ini akan dibeli orang.
“Mbak sudah terlalu lama membaca di sini, ini bukan perpustakaan mbak, maaf ya?“ kata pelayan itu lagi dengan suara lembut.
“Owh, iya iya maaf mbak!, saya mau pergi kok mbak, ini bukunya. Terimakasih?!” balasku cengar-cengir untuk mengurangi rasa maluku terusir dari toko buku itu.
Malam ini aku tak bisa tidur dan aku hanya fokus pada twitterku ”@Rachelia These days, I haven’t been sleeping” aku terus menunggu mention dari @Dimashasy  yang tak lain adalah twitter ka Dimas. Lima menit kemudian begitu terkejutnya aku melihat notificationku bahwa ka Dimas telah meretweett statusku tadi. Bahagianya aku jika ka Dimas merasakan apa yang kurasakan walaupun hanya sama tidak bisa tidur. Akhir-akhir ini aku tak bisa tidur karenanya yang selalu membuatku galau dan selalu ingin tahu semua kegiatannya apalagi semua kegiatannya bersama ka Rani, cewe feminin yang jadi primadona di sekolah. Rasanya tak mungkin sekali aku bersaing dengannya. Aku hanya cewe konyol dan bodoh yang selalu jadi bulan-bulanan madding kelas karena  kehebohan teriakanku saat menonton pertandingan basket di lapangan sekolah, lumayan terkenal si, tapi kenapa terkenal dalam hal itu?, hanya ada satu orang yang selalu memujiku yaitu Kono. Cowo berbehel yang menyimpan otak matematika di kelas 1B yang katanya ngefans padaku. Tapi, tidak penting sekali aku harus memikirkan hal itu, masih banyak hal yang harus aku pikirkan lagi selain Rani. Tapi bagaimanapun aku sudah mengiyakan kata-kata Dimas tentang buku Best Seller itu, dan itu artinya aku harus membeli buku itu demi kesejahteraan hatiku pada Dimas. Semoga ini adalah menjadi awal yang baik untukku agar bisa dekat dengan Dimas. Kutarik selimutku dan kupejamkan mata agar besok aku bisa menahan lapar  untuk tidak jajan demi Dimas.
Di sekolah, Saat istirahat tiba aku dan Ika sahabatku yang sedikit pendiam  dariku melihat pertandingan futsal kelas sebelas di lapangan sekolah.
“Eh lo tau gak si Hel? semalem gue bbman loh sama Iqbal!, ya ampun gue seneng banget tau!” Curhat Ika sok unyu.
“Iqbal yang lagi tanding itu?” tunjukku pada sosok Iqbal yang sedang bertanding.
“Iya iya, Iqbal anak sebelas IPA1. Ya ampun Hel kata-katanya itu bener-bener buat gue terbang!” Tambahnya sambil setengah menyipitkan matanya dan geregetan.
“Ya ampun Iqbal aja lo sukain, kayak enggak ada yang lain aja deh!” Balasku cuek.
“ihh ... Iqbal itu keren banget, liat deh apalagi kalau lagi main futsal!, eemm machonya keliatan! ckckck” curhatnya lagi sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan centil.
“Emm dasar lebay!!” ketusku.
“Hahaha. Gue rela kok jadi orang lebay atau alay demi Iqbal. Hel, pulang sekolah ke toko buku yuk?” ajaknya membuatku terkejut, rasanya tak mungkin sekali jika aku membeli buku kepribadian Best Seller itu diketahui oleh Ika, apalagi aku pernah bilang jika aku tak suka membaca.
“Lo mau ngapain ke toko buku?” tanyaku memastikan.
“Ya beli buku lah, soalnya gue disuruh kakak suruh beli buku kepribadian yang katanya best seller gitu Hel” jawabnya benar-benar membuatku shock jika buku itu habis terjual karena banyak peminatnya.
“Emm ... owh iya gue juga mau ke toko buku, ada buku yang mau gue beli!” kataku membuatnya terkejut dan melepaskan pandangan Iqbal.
“Enggak salah denger nih gue??” tanyanya.
“Hehe. Ya udah deh pokoknya ntar kita ke toko buku dulu aja.” Balasku kikuk.
Bel pulang pun berbunyi hingga melululantahkan seisi sekolah. Dan ini saatnya aku dan Ika bergegas meninggalkan sekolah dan menuju toko buku langgananku. Sesampainya di tempat, dari jauh terlihat begitu sesaknya isi toko buku ternama itu. Akupun berlari kencang dan tak mempedulikan Ika yang sibuk bbman dengan Iqbal. Aku sibuk dan gugup mencari buku kepribadian Best seller itu, namun tak kunjung kutemukan. Kulihat semua orang yang berada di toko buku itu telah memegang buku Best seller yang kucari. Pilihan terakhir adalah menanyakan pada pelayan toko yang ekstra sibuk membantu kasir melayani pembeli tentang keberadaan buku itu. Dan sangat miris yang kudengar "Maaf, mbak!, bukunya sudah habis" begitu layunya tubuh ini menopang penyesalan yang amat dalam. Akupun keluar dari toko buku itu dengan muka pasrahku.
"Rachel?" panggil seseorang bersuara unyu padaku. Aku baru ingat jika tadi aku ke sini bersama Ika, rupanya Ika telah menungguku di luar toko. Dan begitu terkejutnya aku melihat Ika membawa sebingkis plastik cantik yang dapat kuterawang berisi buku Best seller yang kucari.
"Ika?? lo dapet bukunya??" tanyaku gigit jari.
"Iya Hel, lo dapet buku yang lo cari enggak?"
"Hheeemmm ... gue enggak dapet buku itu Ka" jawabku setengah meringik.
"Loh, kok gitu??"
"Gue juga enggak tahu, padahal tadi gue udah belain lari-lari buat beli buku itu" jawabku lagi meringik.
"Gue kira tadi lo lari-lari karena kebelet ke toilet Hel, makanya gue diem aja" kata Ika merasa kasihan denganku.
"Emang buku apa yang lo cari Hel?" tanyanya membuatku tambah meringik setengah menangis.
"Buku kepribadian best seller yang lo beli itu Ka !! "
"Loh ... kenapa lo enggak bilang dari awal kalau lo beli buku yang sama kayak gue Hel? kalau lo bilang kan tadi gue bisa ambil dua, satu buat lo"
"Kok tadi gue nyari di dalem enggak ada si?!" tanyaku masih kesal.
"Buku ini adanya di paling depan Hel, dan pas gue beli tadi buku ini tinggal dua, terus yang satunya diambil deh sama kakak-kakak kampus"
Aku semakin sedih mendengar penjelasan Ika, menyesal sekali aku tidak memberitahu buku yang akan kubeli pada Ika, pikirku aku yang tahu di mana letak buku itu saat kemarin aku membacanya, tapi ternyata otakku tak sampai berpikir sejauh itu, toko buku telah memindah posisi buku itu di bagian paling depan. kekhawatiranku semakin hancur.
"Lo bener-bener mau buku ini ya Hel?" tanya Ika kasihan melihatku duduk tertunduk pilu. Aku menganggukkan kepala.
"Ya udah kita cari di tempat lain yuk!, siapa tahu masih ada" kata Ika membuatku bangkit dan mengusap mataku yang merah karena meringik sedih.
Aku dan Ika terus berburu buku Best seller yang hampir menggemparkan otakku. Setelah hampir semua toko buku di kotaku kukunjungi, namun ini adalah saat sialku. Aku tak menemukan buku itu untuk Dimas. Setelah beberapa jam mencari, aku dan Ika berhenti sejenak disebuah cafe jajan untuk mengisi perut kami yang keroncongan.
"Udah lah Hel, jangan galau gitu. btw, kalau boleh tahu kenapa si lo ngebet banget pengin buku itu?" tanya Ika. Rasanya aku kehilangan harga diri jika aku benar-benar menjawab pertanyaan Ika yang menurutku sangat kepo, kalau aku membeli buku itu hanya untuk satu tujuan yaitu Dimas. Aku masih diam dan memutar-mutar sedotan yang bersandar di minumanku.
"Setahu gue, lo enggak suka baca deh!" tambahnya.
"Eemm Ka, buku itu penting banget buat gue, lo masih mau temenin gue nyari buku itu enggak?" aku sangat memohon.
"Aduh, sorry Hel. ini udah jam tujuh malem loh!, terus kita masih pake seragam sekolah lagi!, kalau ketahuan guru kita jam segini masih keluyuran pake seragam kita bisa kena skors !"
"Jadi, lo enggak bisa ya Ka?" tanyaku lagi.
"Kalau memang lo mau baca buku ini, lo bisa kok pinjem punya kakak gue, enggak harus baru kan?"
"Ya udah deh kalau lo enggak bisa, kita pulang aja yuk !"
akhirnya kami  pulang.
Keesokan harinya di sekolah, baru aku saja melangkahkan kaki di depan kelas, Ika menghampiriku dan memberiku surat peringatan dari kepala sekolah.
"Kita calon diskors Hel!" Ucap Ika melas. Segera kubaca isi surat peringatan itu dan kami pun menemui kepala sekolah. Ketika berhadapan dengan kepala sekolah ...
"Kalian sudah mempermainkan peraturan sekolah, dan kalian juga tidak menghormati almamater sekolah kalian. Sekolah kita ini dipandang baik oleh masyarakat!"
"Kami mohon pak,  jangan diskors dong pak!" Pinta Ika dengan wajah berkeringat.
"Dulu gengnya Niken keluar malem  masih pakai seragam sekolah sampai jam sembilan enggak sampai diskors pak!, kok kita cuma sampai jam tujuh diskors si?" tambahku.
"Niken dan kawan-kawannya keluar sampai jam sembilan masih pakai seragam sekolah untuk bakti sosial Hel, dia kan ketua Osis" bisik Ika membuatku malu.
"Ok masih bisa saya maafkan, tapi kalau sampai kejadian ini terulang lagi, saya akan keluarkan surat peringatan untuk orangtua kalian." kata pak kepsek
"Jadi kita enggak diskors kan pak??"  tanyaku senang.
"Eemmm ... terimakasih banyak pak, terimaksih!" kamipun keluar ruangan.
Aku sangat merasa bersalah karena begitu serakahnya aku hingga sempat melupakan sahabatku sendiri demi buku itu. Ika benar-benar sahabatku yang baik, dia rela mendapat image yang hampir tercoreng karena ulahku.
Tepat pukul 22:22 WIB aku belum juga bisa memejamkan mataku, mataku masih tertuju pada komputerku yang masih menyala melihat status twitter @Dimashasy yang selalu mesra-mesraan dan mention-mentionan dengan @Ranikaragil alias Rani si Primadona sekolah. Hatiku begitu tak menentu dan rasanya ingin sekali memusnahkan mention-mention mereka dari berandaku. Percuma jika aku menyukai Dimas, karena Dimas pun sepertinya hanya menganggapku sebagai adik kelasnya yang konyol saat menontonnya main basket di lapangan sekolah. Ia juga tidak menanyakan buku Best seller yang rencananya akan ia pinjam padaku seperti pintanya dua hari lalu. Kututup komputerku dan kuhempaskan tubuh sexyku di kasur. Kutatap langit-langit kamarku dan terus memikirkan apa yang telah terjadi padaku. Aku tidak pernah tahu bagaimana Ika sesampainya di rumah malam itu, aku juga tidak pernah berpikir apakah Ika akan baik-baik saja, karena yang ku tahu ayah tiri Ika sangat galak. Seharusnya aku berpikir panjang, seharusnya aku tahu resiko yang akan aku hadapi. Kalau sudah begini, aku merasa sangat bersalah dan patah hati tanpa dicintai sama sekali. Seharusnya begitu beruntungnya aku bisa disukai oleh Kono, walaupun kadang aneh tapi dia jago matematika. Aku terlalu banyak menyia-nyiakannya. Meskipun tak mudah untuk melupakan Dimas begitu saja, aku harus bisa melupakannya demi sahabat-sahabatku dan harga diriku sebagai wanita.
keesokan harinya Di kelas, Aku berusaha menjelaskan semuanya pada Ika, "Ika, boleh gue duduk deket lo?"
"Ya ampun Hel kayak apa aja deh, duduk aja kali!"  Akupun duduk didekatnya.
"Ka, sorry ya gara-gara gue, lo hampir diskors."
" Iya enggak apa-apa kok Hel, maklum lah namanya juga kita kan sekolah di sekolah  favorit ! Hahaha "
tiba-tiba Kono datang dengan membawa buku Best seller yang sudah kusam karena sering di baca.
"Hi Rachel, hi Ika?? lagi pada ngapain?" sapa Kono . Aku hanya melotot melihat buku yang ia pegang
"Buku kepribadian? Best seller?" ucapku bernada tinggi.
"Iya Hel, di sini ada sifat-sifat kepribadian lo dan gue juga" jawab Kono. Ika memegang pundakku, dan aku melirik kearah Ika yang sepertinya tahu apa maksudku.
"Gue boleh pinjem enggak?" pintaku lembut.
"Iya boleh lah, boleh banget malah!, daftar kepribadian lo ada di halaman 58 ya." balas Kono semangat empat lima memberikan bukunya padaku.
"Ya ampun Kono, dari Kemarin Rachel cari-cari buku ini. Tapi enggak dapet-dapet!." Ketus Ika ikut bahagia.
"Oyaaa?? Hel, kalau lo mau buku itu, ambil aja buat lo.Gue udah selesai baca kok"
"Eemmm enggak usah No, gue pinjem aja. Thanks ya, lo baik banget" balasku "Hahaha, gue yang terimakasih sama lo. Eh Ka, kemarin malam bokap lo ngamuk lagi ya?"
"Enggak juga kok, lo sok tahu banget deh." Jawab Ika seperti merahasiakan yang terjadi padaku.
"Ya tahu lah, gue kan tetangga lo."
"Ika, waktu kita pulang malam lo kena marah bokap lo ya? sorry banget ya Ka." tanyaku tak enak hati.
"Enggak apa-apa kok Hel, yang penting lain kali jangan kayak gitu lagi hehe" jawab Ika.
"Emangnya lo cari buku ini buat apa Hel? bukannya lo gak suka baca ya?" tanya Kono
" Jujur ya Ika, kono, sebenernya gue beli buku ini buat Dimas."
"Apppaaa??? Dimas anak sebelas IPA2?" Tanya Kono dan Ika kompak.
"Iya, soalnya gue suka sama dia,"
"Jangan pernah ngerusak kebahagiaan orang lain deh Hel, Dimas kan lagi PDKT sama Rani" nasihat Ika.
"Iya, gue baru sadar Ka, semalem keputusan gue bulat buat ngelupain Dimas."
"Terus, kalau buku ini gue pinjemin ke lo sekarang, lo bakal pinjemin ke Dimas enggak?" tanya Kono seperti cemburu.
"Enggak. Ini kan punya lo, kalau dia nagih ke gue ya gue bilang aja waktu itu gue gak jadi beli. lagian kalau emang Dimas mau pinjem buku ini ya izinnya ke lo, bukan ke gue."
"Hahhaha ... sip sip sip!, gue tambah ngefans sama lo." kata Kono lebay.
"Ya udah sekarang lo masih enggak mau ngaku juga kalau sebenernya lo hobi baca buku kayak Kono??" tanya Ika menodong.
"Iya gue ngaku, gue hobi baca!" Kataku pasrah, meski ujung-ujungnya membuat Kono makin melayang tinggi karena aku mempunyai hobi yang sama dengannya.
"Eh Ika, dapet salam tuh dari Iqbal anak sebelas IPA1" teriak salah satu teman kelas.
"Ciyee ... ciyee ... yang lagi melting !!" ejekku dan Kono pada Ika yang mukanya merah karena salah tingkah. Kebahagiaan teman, sahabatku adalah kebahagiaanku juga. Tidak seperti kebahagiaanku pada Dimas.
Dimas, sebenarnya apa yang aku harapkan tidak seperti ini. tapi apa yang aku rasakan saat bersama sahabat-sahabatku itu lebih bahagia dari pada saat dekat denganmu yang hanya makan pikiranku dan membuat sakit hati. Tapi bagaimanapun, kau tetap kakak kelasku yang harus aku hargai. kini, kebahagiaanmu adalah satu senyuman untukku tidak lagi menjadi satu bagian kebahagiaanku sepenuhnya. Kau pantas mendapatkan apa yang seharusnya kau dapatkan bersama orang yang mencintaimu dan yang kau cintai. Bukan cinta yang harus aku tumpahkan saat ini pada seorang Dimas, melainkan kasih sayang yang tulus dari adik kelasnya  ini. Dan aku tetap menjadi cewe konyol yang akan berteriak paling keras saat melihatmu bermain basket di sekolah. Biarkan aku tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan saat bersamamu, teman-teman, dan semua orang. Sahabatku yang mengajarkanku arti menerima kebahagiaan yang tumbuh pada diriku.

                                                                                      created by : Hasniar Rahmawati
                                                                                         [ Rabu, 29 Agustus 2012 ]


Tidak ada komentar: