Oleh : Raniar Abbas
Selasa, 1 januari 2013
“Suk, ada es cendol dari Galih tuh!”
kata Rosa saat aku sedang pusing-pusingnya buat proposal kemping kampus. “Oh es
cendol! Aku tidak akan menyiakanmu!” aku segera berlari menuju es cendol. Dan
kuteguk es cendol tersebut layaknya milkshake.
Sungguh menyegarkan. Namaku Mely, lebih akrabnya teman-teman memanggilku
Blusuk. Kata mereka si aku suka adventure
di tempat-tempat kumuh dan jarang disambang orang. Makanya mereka memanggilku
Blusuk. Tapi tak apalah, toh panggilan itu juga sempat dipakai oleh Bapak
Gubernur Jakarta, Jokowi. Akhir –akhir ini aku sedang sibuk-sibuknya membuat
laporan untuk kegiatan panjat gunung minggu depan. Sebagai sekretaris dalam acara
tersebut, aku harus profesional dalam menjalankan tugasku. Tak jarang, Galih
sering menemaniku untuk membuat laporan itu. Galih adalah ketua pelaksana dalam
acara ini. sedangkan Rosa, adalah bendahara yang bertugas sebagai administrasi
dalam acara ini. Berbagai persiapan pun kami lakukan untuk berjalannya acara
itu, setiap pagi aku harus siapkan fisik dan mental agar tetap stamina dalam
menjalankan acara ini. Sebab, acara ini akan diadakan di Baduy - Banten. Di
sana, tempatnya masih asri dan benar-benar hutan. Sehingga itulah yang memikat
daya tarik kami sebagai penyelenggara untuk bersosialisasi dan belajar mandiri.
Seminggu berlalu, kini tiba di daerah
Baduy. Astaga!, banyak sekali manusia yang tidak memakai baju di sini. Sesekali
aku harus menutup mataku dari pemandangan tak sedap ini. kudengar Rosa
menangis, ia tidak betah berada di sini. Ada sepuluh orang laki-laki, dan hanya
ada lima orang perempuan yang ikut dalam acara ini, termasuk aku. Aku sangat
senang berada di sini. Tempatnya masih sangat alami dan sehat. Tidak ada polusi
dan bebas dari segala macam hal di kota. Malam pun tiba, kami tidur di rumah
penduduk. Namun, malam ini Rosa terus menagis karena ia sangat takut dengan
tempat seperti ini.
“Rosa, udah dong jangan nangis terus. Nggak enak sama
penduduk sini” nasihat Galih. Belum selesai Rosa menangis, kini giliran Putri
yang menangis. Hampir semua mahasiswa perempuan menangis karena hal yang sangat
aneh.
“Putri, kok nangis juga?” tanyaku mendekat.
“Lo tu kenapa si ngadain acara sosialisasi di hutan! Emangnya
belum cukup ya dulu lo bawa kita nyasar di gunung? Dan sekarang gue kan nggak
bisa hair dryer-an di sini!” bentak
Putri yang centilnya kelewatan.
“Ya ampun Put, kalau misalnya kamu nggak mau ya nggak usah
ikut. Lagian juga, sempet banget si kamu hair
dryer-an di sini? Kamu kan tahu, di sini tiang listrik aja nggak ada.
Apalagi listriknya? Kamu pikir ini hotel?“
“Ada apa lagi si ini?” tanya Idham, cowok populer di kampus
tetangga yang nggak biasanya mau ikut acara begini. Spontan aku mengunci
mulutku dan sok manis di depan cowok kelahiran Jakarta, 15 April 1992 ini.
“Emm Idham. Itu si Blusuk bentak-bentak gue!” Putri mengadu.
“Ya udah lah, di sini kan kita sama-sama menjaga. Kalau ada
hal-hal yang nggak sepantasnya dilakukan di sini, ya mendingan nggak usah Put.”
Nasihatnya membuatku merinding. Ia sangat dewasa.
“Jadi, lo setuju kalau rambut gue gimbal karena nggak hair dryer-an??”
“Iya. Mau gimana lagi?” balas Idham membuat semua yang ada di
dekat kejadian tertawa. Putri mulai bete dan melirik sengit ke arahku.
Pagi
harinya, Rosa memutuskan untuk pulang karena ia benar-benar tidak betah di
tempat ini. Sedangkan Putri, memilih untuk tetap tinggal di sini sampai hari
ketiga. Bendahara pun beralih ke tangan Idham.
“Acara kampus macam apaan ini! mau mandi aja susah, apalagi
makan makanan enak! Gue mau pulang aja!” oceh salah satu teman perempuanku.
Akhirnya, hanya tinggal dua orang perempuan yang masih tetap bertahan di sini.
Yaitu aku dan Riska, teman satu kampus Idham. Semakin lamanya waktu, lima belas
orang yang ikut dari berbagai Universitas, kini tinggal tujuh orang tersisa.
Aku, Galih, Anjar yang masih satu kampus, serta Idham, Rio Riska, dan Cellen
dari kampus yang berbeda. Mereka sangat antusias mengikuti berbagai petualangan
seru ini. Saatnya panjat gunung! Ini adalah moment
paling special, karena aku, Cellen si
Bule Belanda dan Idham satu team. Saat
itu kami sudah tidak berada di Baduy, kami pindah lokasi di gunung sari, meskipun
gunung ini terbilang tidak terlalu menantang adrenalin, namun kini giliran hatiku yang di tantang Idham. Haha.
“Syemuaenya syudah Ready!”
lapor Cellen dengan logat bulenya.
“Ok. Yuk kita harus lebih cepat sampai puncak duluan dari
mereka” Idham memberi semangat. Aku terus mendaki gunung ini. Entah kenapa
dalam setengah perjalanan aku sangat lelah. Dan tak biasanya hal seperti ini
terjadi padaku. Saat di gunung Bromo saja aku masih sanggup, tapi ini? aku
benar-benar lelah dan tak sanggup melanjutkan perjalanan. Napasku ngos-ngosan,
dan aku hampir kehilangan kendali. Mataku tiba-tiba tertutup dan aku seperti
tak sadarkan diri. Beberapa menit kemudian ...
“Mel, kamu udah sadar? Nih minum ya?” Pertama orang yang
kulihat saat mataku kembali terbuka adalah Idham. Entah apa yang terjadi. Aku
bersorah dalam hati.
“Eh Suk, ah lo buat gue khawatir aja.” Tiba-tiba Anjar
datang.
“Njar, mendingan lo ikut mereka deh, mumpung mereka belum
jauh. Mely biar gue yang urus” saran Idham.
“Owh, ya udah kalau gitu. Awas lo kalau sahabat gue
kenapa-napa!” Anjar pun pergi meninggalkanku dan Idham. Aku masih tak percaya
jika Idham sangat perduli denganku.
“Teman-teman yang lain udah duluan, mereka bilang ngejar
waktu. Biar nggak terlalu sore sampai di atas. Dan tadi kamu pingsan. Aku yang
kasih napas buatan” ucapnya santai. Aku terkejut dan mataku melotot.
“Emm soalnya kamu kayak kehabisan napas gitu, jadi ya
satu-satunya cara, kamu harus di kasih napas buatan.” Katanya kikuk. Aku masih
diam dan menutup mulutku dengan tangan. Berjuta tanya sempat terbesit di
benakku. Jika ada Anjar, kenapa tidak Anjar saja yang memberiku napas buatan?
Aneh sekali. Sepertinya Idham sengaja mengusir teman-temanku yang lain agar
dapat berdua denganku.
“Emm lanjutin perjalanan yuk? Sanggup kan?” tanyanya.
“Sanggup dong!, masa baru segini aja udah nyerah.” Jawabku
sombong. Karena bagaimanapun aku tidak mau dianggap lemah oleh lelaki. Apalagi
Idham. “Nggak lah yauu!”. Lalu aku
mendahuluinya. Ia tersenyum dan mengikutiku dari belakang. Beberapa menit
kemudian,
“Mel!, jalannya di sini. Bukan di situ.” Idham memanggilku
karena aku salah jalan. Aahh! mimpi apa aku semalam? Tidak mungkin aku sepolos
ini ketika di gunung. Ini pasti karena Idham yang terlalu mengkhawatirkanku.
Lalu aku berbalik dan kini akulah yang mengikutinya dari belakang.
“Kamu tenang aja Mel, aku cowok baik-baik kok” katanya saat
melihatku tak nyaman dengan bibirku yang tadi ia cium karena napas buatannya.
“Iya aku tahu kok Dham” jawabku sok tahu.
“Tahu dari mana?” Idham menghentikan langkahnya dan
membalikkan badan tepat di hadapanku.
“Emm tahu aja.” jawabku singkat dan langsung menerobosnya
untuk melanjutkan perjalanan. Langkahnya selalu serentak dengan angin yang
menerpa sejuknya hari ini, ia selalu tahu dimana aku harus berhenti berjalan.
Terjalnya bebatuan tak membuatnya takut untuk terus menapaki lelahnya puncak.
Aku pun begitu, lelah masih terasa dalam ingatanku. Namun, seakan semua itu
sirna seiring waktu yang mengantarkanku pada sebuah pendakian bersama Idham.
Tepat jam
empat sore, matahari sedikit jauh dari
bumi. Aku dan ia telah sampai puncak gunung. Namun ini bukanlah puncak
kebahagiaanku saat harus terpisah dari teman-teman yang lain. Mereka telah
pergi meninggalkan kami. Aku yang tak bisa dipercaya lagi oleh mereka. Karenaku,
perjalanan mereka terhambat. Sejenak aku pandang indahnya kota kecil ini.
Ranselku yang amat berat, kini mulai kulepaskan dari pundakku. Lelah, penat,
dan sepi terasa hilang saat Idham di sampingku. Ia melihatku, padahal di
depannya ada pemandangan yang sangat indah, bahkan lebih indah dariku. Namun,
matanya tertuju padaku.
“Mel, maafin aku ya? tadi, aku benar-benar gugup saat kamu
pingsan. Aku nggak mau terjadi sesuatu sama kamu, makanya aku lakuin itu buat
kamu” ucapnya. Ternyata ia masih memikirkan kejadian tadi, sebenarnya aku jijik
dengan hal itu. Tapi kenapa hal itu menjadi topik pendakianku kali ini? .
“Idham!, aku takut. Aku takut jika hal itu menjadi sesuatu yang
sangat mengganggu pikiranmu” batinku.
“Iya, nggak apa-apa kok Dham. Justru aku yang harusnya
berterimakasih sama kamu. Kamu udah nolongin aku. Coba kalau tadi nggak ada
kamu, aku pasti udah ... “
“Udahlah, yang penting sekarang kamu senang kan udah sampai
puncak?” selanya. Aku menganggukkan kepala.
“Kita bermalam di sini. Karena nggak mungkin dengan fisik
kamu yang lemah kita lanjutin perjalanan.” Sarannya sambil mengeluarkan tenda
dari ranselnya. Entah kenapa, kali ini aku terima-terima saja ia bilang lemah.
Padahal, aku paling benci jika ada yang mengatakanku lemah, apalagi laki-laki.
“Eh Dham, aku mau tanya deh. Kenapa si kamu nggak panggil aku
Blusuk? soalnya teman-teman yang lain pada panggil aku Blusuk.”
“Emangnya kamu senang ya di panggil Blusuk? meskipun kamu itu
suka blusukan ke tempat-tempat aneh kayak gini, tapi buat aku, kamu tetap Mely.
Seorang cewe pemberani yang aku kenal.” Jawabnya membuatku tersipu malu.
“Ciyeeee ... Hahaha, akhirnya kalian sampai juga. Hehe!”
tiba-tiba Anjar, Galih, Rio, Cellen, dan Riska keluar dari semak-semak.
Sepertinya mereka sengaja mengintipku berdua dengan Idham. Aahh malunya.
“Tadi kenapa kalian ninggalin aku?” tanyaku kesal.
“Ya habisnya diusir sama Idham si!” jawab Rio. Idham memberi
kode untuk mengunci mulut pada mereka dengan ber-Ssst. Tetapi mereka
memberitahukannya padaku.
“Galih, kamu kenapa mau diusir sama Idham? Sebagai ketua
pelaksana seharusnya kamu jagain aku dong! Udah tahu aku pingsan.” Bentakku
pada Galih.
“Lo kan cewe perkasa Mel, palingan juga pingsannya cuma lima
detik, udah gitu bangun lagi. Haha” ejeknya. Tapi ya sudahlah, meskipun mereka
lebih dulu sampai di sini. Ternyata mereka tidak meninggalkanku dan Idham.
Mereka adalah sahabat-sahabatku yang setia menjaga dan memahamiku. Pendakian
gunung ini, aku beri judul napas buatan Idham. Hehe

Tidak ada komentar:
Posting Komentar