Sabtu, 27 April 2013

^EH, LO! ^



EH, LO!
Oleh : Raniar Abbas
Sabtu, 15 september 2012

Hari ini menjadi hari yang sangat sepi dan membosankan untukku. Hanya ada sepetak kamar kostan yang menjadi satu-satunya tempat favorit-ku. Hari minggu semua penghuni kostan meninggalkan tempat yang dengan terpaksa menjadi tempat favorit mereka. Tetapi saat aku sedang asik menggalau di kamarku ini, tak sengaja dari jendela aku melihat seorang lelaki tampan yang membawa tumpukan barang dari sebuah kamar kost putra di seberang kostanku. Ia terlihat kesulitan saat mengunci pintu kamarnya karena barang yang ia bawa terlalu banyak. Tak kusadari aku pun menertawakannya seperti orang bodoh. Tetapi saat ia berhasil mengunci pintu kamarnya ia melihat kearahku dan dan tersenyum. Aku tak dapat menertawakannya lagi, aku diam dan membiarkannya pergi membawa tumpukan barang itu. Lalu aku menutup kembali jendela kamar dengan perasaan malu dan bersalah. Sebagai penghuni baru kostan ini, tak seharusnya aku menertawakan seseorang yang sedang kesulitan seperti pertama aku mengisi ruangan ini, dengan sulitnya aku membawa barang bawaan dari lantai satu ke lantai tiga kostan. Aku terus berpikir sambil memakan beberapa cemilan yang seminggu lalu kudapat dari mama saat aku pulang ke rumah. Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu dan memanggil-manggil namaku, lalu dengan siap siaga aku pun membukakan pintu.
“Ini neng ada surat dari anak kost sebelah” jawab ibu kost memberi selembar kertas padaku.
“Owh, eemm iya terimakasih ya, Bu?” ku ambil surat dan ibu kost pergi. Dengan rasa penasaran aku pun membuka surat itu dan ...

Jumat, 26 April 2013

^DENI OH DENNY^


                         DENI OH DENNY
Oleh : Raniar Abbas
Selasa, 01 Januari 2013

Hari berlalu begitu cepat, dan dalam sejarah, menunggu adalah hal yang sangat  membosankan bagi siapa pun. Sama sepertiku yang saat ini sedang menunggu Reni, sahabatku untuk pulang bersama. Aku tak pernah melepaskan pandanganku ke arah Reni yang sedang berduaan bersama Deni, kekasihnya. Tetapi kali ini aku tidak sengaja melepaskan pandanganku untuk seseorang yang sedang duduk tenang di sudut lapangan futsal kampus, mungkin ia sedang menunggu seseorang yang ia cari, aku tidak tahu siapa yang ia tunggu, yang jelas saat ini aku sedang menunggunya untuk menengok ke arahku. Aku coba berhitung 1,2,3, dan seterusnya dalam hati, jika dalam hitungan lima ia menengok ke arahku, khayalanku ia adalah jodohku. Dengan isengnya aku tertawa sendiri saat hitungan kelima ia melihatku dengan anehnya. “Dia jodoh gue ... hahaha” aku bersorak dalam hati. Dan kufokuskan kembali dengan apa yang kunanti, Reni. Setelah menunggu cukup lama, Reni menghampiriku dan memberitahuku bahwa hari ini ia tak jadi pulang bersamaku. Sungguh menyebalkan. Aku melangkahkan kaki menuju halte untuk menunggu bus. Dan tanpa disangka leleki itu datang menghampiriku yang sudah berkeringat karena terlalu lama menunggu Reni. Ia sedang berdiri di sampingku, hanya satu kata yang bisa aku ucapkan saat ini “perfect”.

Rabu, 24 April 2013

^KEMARIN^



KEMARIN
Oleh : Raniar Abbas
Jum’at , 11 Januari 2013

Kadang, aku hanya dapat  tersenyum saat mengingat aku dan dia tertawa dan bercanda layaknya dua sejoli yang sedang bahagia tanpa masalah sedikit pun. Aku hanya tidak mengerti mengapa Tuhan menciptakan suatu perasaan yang begitu sulit untuk aku definisikan. Aku sering menangis saat semua orang tidak melihatku. Aku tak ingin melihatnya sedih dan kusam, aku tak ingin membuatnya kecewa sedikit pun. Meskipun itu hal yang sulit, aku akan berusaha membuatnya bahagia. Tetapi bukan begini caranya. Ia tak akan pernah tahu bagaimana saat airmataku seperti meleleh saat setahun ini aku tak pernah meneteskan airmata. Aku hanya sepenggal cerita yang tak akan mungkin menjadi sejarah untuknya. “Bahagia itu saat aku dan kamu menjadi kita” ucap Karrel setahun yang lalu. Aku bingung. Mengapa ia begitu lekat dalam pikiranku. Meskipun kejadian setahun yang lalu itu hanya membuatku dilema. Bahkan saat ini aku tak dapat melihat bagaimana senyumku sendiri. Entah apa yang terjadi, semenjak Karrel pergi meninggalkanku jauh, aku berubah. Aku menjadi seorang yang sibuk dan sangat sibuk dalam duniaku, menulis. Begitu hebatnya Tuhan menciptakan suatu hal yang benar-benar tidak dapat aku lupakan.