Baru saja aku turun dari angkot yang selalu mengantarku ke sekolah aku sudah disambut dengan senyuman seorang Rizky, lelaki berusia tujuh belas tahun yang selalu ada dalam
mimpiku. Dia begitu tampan hari ini. Rasanya sayang sekali jika hari ini dia
harus berpanas-panasan di tengah
lapangan untuk menjadi pemimpin upacara sebagai perwakilan kelasnya. Aku
cemburu dengan matahari yang baru terbit dari bumi disambut dengan indahnya
hati seorang Rizky, terlebih
matahari akan lebih puas memandangnya setiap hari. Aku segera memposisikan diri
di barisan paling depan dari rombongan kelasku. “Siaaaaap grakkk!!”, aba-aba dari suara terindah yang pernah kudengar mengiringi
jalannya upacara hari ini. Saat ini dia sedang berdiri tepat di hadapanku, hingga
sesering mungkin aku harus merapikan seragam, rambut, dan
mengelapi keringatku dengan tisu yang selalu bertempat tinggal di kantong kemejaku. Hari ini aku benar-benar tak ingin kalah dengan matahari
yang puas memandang Rizky, dan
yang kulihat keringat yang mulai berjatuhan dari keningnya membuatnya semakin
tak ingin lepas untuk kupandang, terlebih saat walikelasnya naik ke atas mimbar untuk sambutan, ia pun
berbalik dan membelakangiku dan sangat jelas terasa begitu hebat matahari
memandangnya hingga keringat berani membasahi kemeja putih berdasi yang kuharap
dapat kucuci sepulang sekolah nanti. Tak kusangka, pagi ini mengawali hari yang istimewa untukku.
Seusainya upacara, pelajaran fisika pun siap menyambutku dengan rasa bersalah karena minggu lalu
aku absen dari pelajaran ini. Aku benar-benar tidak konsentrasi saat Bapak Sudono menjelaskan tentang bab gravitasi. Yang kulihat
hanya seorang Rizky yang sedang menjelaskan perasaannya padaku. Aku hanya diam, tersenyum dengan
menempelkan kedua telapak tangan di pipiku. Istirahat pun tiba, saat
semua teman kelasku menuju kantin, aku meminjam gitar Nesa, teman sebangkuku, lalu kupetik nada pilihan keenam dawainya dengan sumringah
kuiringi sambil bernyanyi hanya untukmu yang dipopulerkan oleh Ten2five dengan suaraku yang pas-pasan. Tiba-tiba lelaki tampan
dengan 170 cm membawa senyum mematikannya datang menghampiriku, spontan aku menghentikan aktivitasku dan mengunci mulutku. “Rizky”
batinku.
“Ternyata bisa main gitar juga ya?” tanyanya padaku. Aku masih
tak sadar dan hanya menganggukkan
kepala seperti terhipnotis.
“Keren loh, gue
suka cewe yang bisa main gitar“ ucapnya
menyadarkanku.
“Gue banget!!” batinku melintir tak karuan.
“Emm cuma bisa dikit doang kok.” Ucapku sedikit salah tingkah.
“Suara lo juga bagus, kenapa enggak
ikut ekskul musik aja?” puji dan tanyanya lagi hingga membuatku tersipu.
“Emm suara gue jelek, gue enggak bisa nyanyi. Hehe”
jawabku merendah.
“Kata siapa lo enggak
bisa nyanyi? mana orang yang bilang gitu??” katanya lagi sampai-sampai
membuat senyumku melebar.
“Owh iya, Nesa
kemana ya?” tanyanya, kali
ini aku sempat mengecilkan senyumku karena Rizky menanyakan Nesa.
“Owh dia lagi di kantin. Emang ada perlu apa?” tanyaku penasaran.
“Nesa minta ajarin gitar sama gue, makanya hari ini dia bawa
gitar” jawabnya sok cool.
“Kenapa Nesa enggak minta ajarin kegue aja ya?” ketusku sedikit cemburu.
“Kenapa Nesa enggak minta ajarin kegue aja ya?” ketusku sedikit cemburu.
“Katanya cuma
bisa dikit?” sahutnya membuatku mati gaya. Lalu dia pergi meninggalkanku dengan
kedua tangan disaku celana putih abu-abunya yang akan membuatnya semakin
terlihat cool.
“Kata-kata awalnya si enak, tapi akhirnya enggak
ngenakin banget!” batinku. Nesapun datang dengan mengenyot es buah yang membuat
tenggorokanku naik turun.
“Nes, dicariin
tuh sama Rizky anak IPA 2” kataku
“Aduh, iya gue
lupa mau belajar gitar. Ya udah gue mau cabut dulu ya? Bye..!!” Nesapun dengan semangat empat lima merebut gitarnya yang
sedang kupegang. Hal yang sangat menyebalkan, selain matahari yang puas memandang Rizky, Nesa adalah wanita yang paling beruntung dapat dekat membaca
hati Rizky.
Pagi ini,
aku tak melihat senyuman Rizky, bagiku
Rizky adalah teroris dalam hidupku, yang selalu dan harus kucari. Sesampainya di kelas, Nesa
sedang asik bernyanyi hanya untukmu yang kunyanyikan kemarin diiringi gitarnya. Ada yang aneh
dengan ini semua.
“Nesa, kok lo
nyanyi lagu itu si?” tanyaku sedikit terkejut.
“Emangnya kenapa Bel? gue baru
bisa gitar lagu itu, soalnya
gue diajarinnya baru lagu itu si Bel” jawab Nesa.
“Jadi, maksud
lo si Rizky baru ngajarin gitar dengan lagu itu?” tanyaku sumringah sekaligus aneh.
“Iya, katanya
si Rizky, lagu itu adalah lagu ter so sweet yang pernah dia denger, padahal gue enggak mau
lagu itu Bel, susah main gitarnya.” keluh Nesa berwajah melas. Aku
begitu bahagia mendengar penjelasan Nesa.
“Kok lo senyam-senyum sendiri si?” tanya Nesa padaku yang mulai keGRan.
“Emm pengen tahu aja
apa pengen tahu banget??” ejekku.
“Ihhh.. seriusan
Bella, kenapa lo senyum-senyum sendiri? lo gila ya??”
“Nesa, lo tahu enggak si pas kemarin gue pinjem gitar lo? gue nyanyiin lagu itu, dan Rizky bilang, dia suka lihat cewe
main gitar dan lebih parahnya lagi dia bilang, suara gue bagus. Ya ampun Nes, gue itu seneng banget tahu !”
curhatku ceria tak sadar.
“Ciyeeee … ee!!!” ejek Nesa dan teman sekelas. Aku malu dan sadar
dengan apa yang kuucapkan.
“Lo suka ya sama Rizky?” bisik Nesa padaku, aku hanya melebarkan mataku dan berlanjut senyum.
“Huh pantesan waktu Rizky jadi pemimpin upacara kemarin lo
ngebet banget di barisan
paling depan, biasanya kan lo paling anti di depan” kata Nesa membenarkan perasaanku. Lagi-lagi aku hanya
senyum-senyum sendiri.
“Tapi Bell, kalau
memang bener apa yang lo certain tadi, itu tandanya si Rizky ngasih kode ke lo melalui gue”
tambahnya membuatku berpikir
“Maksud lo?” tanyaku tak mengerti.
“Gini loh Bell, buat
apa si Rizky ngajarin gue gitar dengan lagu yang enggak gue suka dan susah banget kuncinya itu? Kalau bukan karena lo, kayaknya dia gak mau deh ribet-ribet pilih lagu itu” jelas Nesa.
“Jadi maksud lo, tujuan
si Rizky ngajarin lo dengan lagu itu
buat ngasih tahu kalau dia suka sama gue?” tanyaku bodoh.
“That’s right Bella, dia itu
suka sama lo!” Aku masih tidak percaya kalau Rizky menyukaiku.
“Owh iya Bell, gue
baru inget, semalem Rizky minta tolong kirimin nomor handphone lo. Tapi
sayangnya gue enggak tanya buat apa. Semalem dia sms, telfon, atau bbm lo enggak?” tanya Nesa
“Yaaahh.. kok lo tanya bbm? gue kan enggak
punya BB, apalagi pin” kataku memelas.
“Hahaha.. owh iya
gue lupa. Tapi semalem dia sms atau
telfon lo enggak?”
“Semalem enggak ada
yang sms gue, apalgi telfon” jelasku
putus asa.
“Ok. gue
yakin si Rizky pasti bakal sms lo kok, tunggu aja. Hehehe”
Nesa semangat membantuku untuk merapikan pikiranku yang berantakan karena
Rizky.
Beberapa
hari ini pikiranku benar-benar melayang tak karuan, aku galau. Aku sempat putus asa karena tak ada nomor baru
yang sms atau menelephoneku. Lalu untuk apa Rizky meminta nomorku pada Nesa?
“Nesa, kok gue jadi enggak
yakin ya kalau Rizky suka sama gue?” tanyaku pada Nesa yang sedang menghapal lagu untuk pentas seni minggu depan.
“Kenapa lo enggak
yakin? Udah jelas-jelas Rizky ngasih kode ke lo. Dan lo tau enggak si? lagu
yang gue hapalin ini lagu lo, dan gue disuruh Rizky buat nyanyiin di pensi nanti. Kurang yakin apa lagi si lo Bell??!”
“Iya gue enggak
yakin aja Nes!!” aku khawatir dan kekhawatiranku semakin menjadi saat tiga hari
ini kucoba sms Rizky dan tak pernah
ada balasan. Namun, saat
aku berbalik, dan mulai meninggalkan Nesa, dari jarak sepuluh meter tak sengaja aku melihat sosok Rizky
sedang bermain gitar di depan
kelasnya. Dengan dasinya yang teriup angin serta petikan gitar yang indah
mengiringi langkahku menghampirinya. Kali ini aku benar-benar memberanikan diri,
dia masih tak melihatku. Rupanya matahari sedang memandangnya hingga keringat
mulai menetes dari keningnya. Lima langkah lagi aku tepat di hadapannya, dan
kali ini dia tampak sibuk mengelapi keringatnya dengan dasi rapi menempel di kerah kemejanya.
“Ngilangin keringatnya kok pake dasi sih? entar dasinya jamuran loh!” tanyaku basa-basi berharap
Rizky menjawab “Asal cintaku ke kamu enggak jamuran aja!!hahahaha”
Aku pun
duduk di sampingnya serta memberinya tisu yang selalu tersedia di kantong ajaibku.
“Owh iya, thanks ya?”
sambutnya dengan baik dan segera mengelapi keningnya yang penuh keringat.
“Gue lagi latihan buat pensi
minggu depan, rencananya si gue mau nyanyiin lagu yang pernah lo nyanyiin
itu. Dan rencananya gue mau ajak Nesa yang nyanyi. Engak apa-apa kan?” tanyanya padaku hingga membuatku tak tahu
arah.
“Owh.. itu bukan lagu gue, itu lagu buat semua orang yang…..”
“Lagi jatuh cinta?” selanya membuatku malu dan kacau. Alasan yang benar-benar tepat jika tiga hari ini Rizky tak
membalas smsku karena sibuk latihan, tapi apakah aku terlalu pede? lalu ada satu hal yang membuatku yakin kalau Rizky paham dan sangat ingat dengan
lagu itu. Tanpa aku tanyapun Rizky sudah menjelaskan maksud kedatanganku padanya.
Tak terasa
seminggu berlalu sangat cepat, dan
malam ini adalah malam pentas seni, satu penampilan yang sangat kutunggu yaitu Rizky dan Nesa
yang akan membawakan lagu kesukaanku. Hatiku kaku dibuatnya saat suara emas
Nesa hadir dengan iringan gitar Rizky. Penampilan merekapun berlalu “Hi Bell,
gimana penampilan kita tadi? Keren
kan?” tanya Nesa padaku.
“Keren banget Nes, apalagi Rizky. Hahaha”
“Huu, owh iya lo tahu gak
si! Sebenernya si Rizky maunya lo yang nyanyi di sini, terus dia yang gitar, tapi ... sayang
banget karena lo bukan anak musik,
jadi enggak bisa deh. Dan gue yang disuruh nyanyiin lagu ini”
“Lo serius? So sweet
banget si! Tapi kenapa ya si Rizky enggak mau
ngomong langsung ke gue? sms gak pernah apalagi ngomong langsung!!”
“Lo tenang aja, mungkin aja Rizky lagi nyiapin sesuatu buat
lo.Hehehe” ucap Nesa menenangkanku.
Sebulan
berlalu. Rasanya aku mulai lelah, dan ini adalah titik kejenuhanku pada Rizky. Aku harus
mencoba belajar melupakannya, walaupun
sangat berat untukku. Aku tak ingin dalam hidupku mengenal cinta bertepuk
sebelah tangan. Dan sepertinya aku harus berhati-hati dalam hal ini, karena hampir semua nilaiku turun terutama fisika, artinya
aku harus banyak belajar dan tidak bolos lagi dengan pelajaran yang satu ini.
Dengan memandang selembar kertas ulangan harian fisika yang bernilai lima puluh
lima koma lima di taman
sekolah, tiba-tiba Rizky datang dan duduk di sampingku saat aku mulai melupakannya “Kenapa Bell?” tanyanya santai. Tak mungkin sekali aku
memberitahu jika nilaiku jelek.
“Denger-denger pelajaran Fisika
jarang masuk ya? kenapa?”
tanyanya membuatku terkejut dan
langsung kulipat-lipat kertas ulangan
harian yang kupegang.
“Tau darimana lo?” tanyaku cuek.
“Nesa” jawabnya singkat.
“Terus lo ngapain di sini?” tanyaku lagi.
“Lo takut ya sama pelajaran fisika? kalau lo takut kapan bisanya?? enggak ada yang perlu lo takutin di sini kecuali Tuhan”
nasihatnya membuat hatiku terbuka lebar untuk tetap menyukainya. Entah apa
bahasanya untuk mengungkapkan rasa takutku ini, yang jelas kenapa dia bisa tahu apa yang kurasa?
“Sekarang gini aja deh, di dunia ini apa si yang paling lo takutin?” pertanyaan yang
aneh darinya.
“Penting banget ya gue jawab?” balasku.
“Penting dong, kalau
lo udah tau apa yang paling lo takutin, lo bisa tahu
sejauh mana ketakutan lo sama fisika, kalau fisika adalah pelajaran yang paling lo takutin, gue yakin lo enggak akan bisa fisika” jelasnya
membuatku mengerti.
Ini adalah saatnya aku sedikit membahas tentang rasa takutku
jika kehilangannya.
“Yang paling gue takutin di dunia ini kehilangan...”
kataku sedikit kaku.
“Kehilangan apa??” tanyanya.
“Ya kehilangan semuanya” jawabku menanti harapan yang dulu pernah kutunngu.
“Ya kalau gitu, lo
jangan takut dong sama fisika, kalau enggak mau
kehilangan kesempatan buat perbaikin nilai lo yang jelek-jelek itu” ucapnya
setengah mengejekku. Sepertinya harapanku sudah layu dan tak akan pernah
terjadi. Rizky benar-benar tidak paham apa maksudku.
“Terus apa yang paling lo takutin di dunia ini?” tanyaku
balik.
“Kematian” jawabnya singkat
“Semua orang kan bakal mati? ngapain lo takut mati??” ulasku sedikit aneh.
“Kalau itu alasannya, berarti lo jangan sekali-kali takut sama kehilangan, karena semua orang akan merasakan kehilangan dengan adanya
kematian.”
“Terus kenapa yang paling lo takutin adalah kematian?” tanyaku
penasaran.
“Eemmm gue juga gak tau Bell, kenapa yang paling gue takutin adalah kematian.” Jawabnya
tenang dan tersenyum dalam balutan mendung ini.
Aku terus berangan-angan andaikan hal seperti ini terjadi
saat aku mangharapkannya dulu, pasti
akan terasa sangat indah. Tapi ...
entahlah, aku seperti mau tak mau jika suatu saat nanti Rizky
mengungkapkan perasaannya padaku. Angin
terus meniup rambut panjangku dan dasinya. Aku hanya ingin sesuatu yang
terindah hari ini. Entah apa. Kami terdiam cukup lama, dan ... ”Bell, lo pernah suka sama gue kan?” tanyanya sangat pede. Suatu
pertanyaan yang penting tak penting untuk kujawab.
“Kalau memang iya, gue mau kok jadi pacar lo” tegasnya membuat bulu kudukku
merinding.
“Maksud lo apa si Riz?” tanyaku
“Bell, gue
suka sama lo. Lo mau gak jadi pacar gue??” Rizky benar mengungkapkan
perasaannya padaku saat ini. Sekarang!, dan aku
benar-benar lupa dengan cintaku yang dulu bertepuk sebelah tangan. Hatiku ingin
sekali berkata iya, tapi mulutku menunda jawaban itu, karena aku telah belajar melupakannya.
“ … Iya, dulu
gue memang suka sama lo, tapi
karena lo cuek sama gue, gue
coba merubah semua. Maafin gue Riz, gue mau
fokus belajar dulu. Tapi gue janji, kalau nilai Fisika
gue seratus, gue pasti nerima lo.” Dan aku pergi meninggalkannya saat
matahari tak memandangnya. Aku tahu Rizky kecewa, tapi dulu Rizky mengecewakanku dan benih perasaanku
untuknya. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa rasa itu hilang dan muncul
kembali dan terus seperti itu berulang-ulang. Kegalauanku mulau hadir kembali dan
semakin memuncak dibeberapa hari setelah ungkapan itu.
Hari ini
adalah hari kelima setelah ungkapan itu, tak seperti biasa pagi ini aku tak melihat senyumnya lagi, Rizky telah tiada. Apa arti pembicaraannya kemarin yang
menanyakan tentang hal yang sangat menakutkan dan mebuatku mencemaskannya.
Kecelakaan itu telah merenggut nyawanya yang sedang mencintaiku. Seseorang yang
selalu kuingat. Keningnya tak mengeluarkan keringat lagi melainkan darah.
Sepertinya matahari telah bosan memandangnya, matahari tidak ingin lagi membuatku cemburu. Tisu dari
kantongku tak akan cukup menghilangkan airmataku untuknya. Kali ini aku
benar-benar menagis, menangis
tanpa bosan namun penuh dengan penyesalan. Aku merasakan arti sebuah kehadiran
dan aku merasakan arti sebuah kehilangan. Suatu hal yang sangat aku
takutkan dan dia pun merasakan hal yang sangat ia takutkan yaitu kematian, yang tak akan pernah kembali untuknya. Aku tak peduli
artinya kematian dan aku tak akan pernah peduli lagi dengan kehilangan, karena dia tak akan
pernah tahu lagi apa yang aku rasakan saat pergi selama-lamanya. Tangisku tak
akan pecah jika dia tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Benar-benar tidak
ada lagi yang memujiku saat memetik dawai gitar yang membuatnya senang. Tuhan ... aku
tahu hanya yang terindah yang bisa membuat bagaimana aku bahagia saat
bersamanya. Suatu anugerah-Mu yang tak akan pernah kulupakan. Rizky .
Created by: Hasniar Rahmawati
[ Sabtu,05
januari 2011 ]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar