SEKETIKA GALAU
Oleh : Raniar Abbas
Kamis, 10 januari 2013
Gerakan matanya sungguh tidak dapat dipungkiri
jika saat ini ia sedang memandangku tanpa berkedip sedikit pun. Matanya
berbicara seakan mengajak hatiku untuk bergerak. Dua jam berlalu, seminar cinta
dan kita yang diadakan oleh organisasinya telah usai. Semua peserta seminar
berdesakan keluar dari auditorium kampus. Yang kulihat, pria beralmamater kuning
itu terus memantauku dari jauh. Entah ada apa, ia terus memantauku tanpa
mendekatiku untuk berbasa-basi atau berkenalan. Kali ini, aku coba mengalihkan
penglihatanku padanya, namun dengan cepat ia seperti tak perduli denganku yang
sedari tadi ia lihat. Beginikah caranya membuatku penasaran? Apakah tidak ada
cara yang lebih aku suka? Sungguh pria yang aneh. Seminggu berlalu, rasanya
sulit sekali menghilangkan rasa penasaranku ini darinya. Pria berkacamata yang
kuperkirakan berusia 20 tahun itu, saat ini sedang berada di hadapanku. Namun,
saat kami berpapasan, ia sama sekali tak melihatku. Apa yang ia mau?. Rasanya
ingin sekali aku menengok ke belakang untuk memastikan ia sedang melihat ke arahku
atau tidak, tetapi Tuhan tidak mengizinkan. Entahlah, ia adalah lelaki yang
mampu membuatku tersenyum sendiri saat mengingatnya.
Malam ini, aku pergi bersama Shila, Angga, dan
Resa untuk menonton konser Secondhand Serenade
yang diadakan di senayan. Dengan kostum yang ala kadarnya, reglan panjang,
jeans, dan sepatu kets, aku mulai bersorak saat band favorit-ku itu memulai aksinya di panggung Istora. Setelah beberapa
jam berdiri di bawah panggung besar itu, aku mulai bosan. Terlebih, saat
melihat Resa dan Angga, yang tak lain adalah sepasang kekasih begitu heboh menikmati lagu your call-nya Secondhand Serenade yang sangat slow,
aku langsung teringat lelaki aneh itu. Sedangkan Shila, lebih memilih bungkam
karena baru pertama kalinya nonton konser. Saat aku mulai bosan dan kacau di
tengah kerumunan penonton, dari jauh aku melihat sosoknya yang sedang tersenyum
padaku. Seketika aku langsung mengucek-ngucek kedua mataku karena tak percaya.
Namun, saat aku kembali melihat ke arahnya, ia menghilang. Apakah aku hanya menghayal ia ada di sini?.
“Ki,
balik yuk. Gue ngantuk nih!” teriak Shila tepat di telingaku. Aku masih ingin
di sini, dan sangat mengharapkan ia benar-benar ada di sini. Aku masih sibuk
tengak-tengok mencari lelaki itu.
“Ki,
balik yuk!!” Shila menarik tanganku. Dan saat melintasi kerumunan penonton yang
lain untuk keluar area, aku kembali melihatnya. Ia benar-benar ada di sini. Ia
sedang tersenyum padaku, matanya indah, hidungnya mancung, tampan, dan sungguh
menarik untuk dipandang. Aku masih tak percaya, sesampainya di kostan pun, aku
masih merasa ada yang aneh saat bertemu lelaki itu.
“Ki,
buruan tidur. Besok kan kita harus ngampus pagi” nasihat Sihila, yang tak lain
juga adalah teman satu kamar kostan. Aku tidak bisa tidur mengingat senyuman
yang tadi mampir di pikiranku. Tuhan, semoga besok aku dapat bertemu dengannya
lagi. Aku pun tertidur.
Saat mata kuliah akuntansi selesai,
ada yang aneh di mading kampus. Banyak teman-temanku yang mengerumuni mading.
Entah apa isinya, aku paling malas membaca, sampai sms masuk di inbox handphone-ku pun malas sekali
untuk aku baca. Anehnya, lelaki itu ikut berkerumun di depan mading. Apa yang
membuatnya se-frustasi ini, semalam
baru saja ia menonton konser secondhand
serenade dengan gaya cool abis,
namun kali ini ia harus berdesakan di depan mading dengan gaya mahasiswa
Kura-kura, alias Kuliah Rapat-kuliah rapat. Penampilannya sungguh kalem sekalem
siput kalau sedang jalan. Luar biasa, ia memang pintar menipu dosen.
“Hay,
nama gue Kiki” Aku mengulurkan tangan untuk berkenalan.
“Riki”
tangannya tak berbalas menjabat tanganku, namun ia menyebutkan namanya. Dan ia pun
tak melihat ke arahku. Oh god! Lelaki
dari planet apa ini?.
“Semalem
konsernya bagus ya Rik” ulasku. Ia diam,
dan aku tak tahu sampai kapan ia akan terus diam seperti ini.
“Lo
nggak minus kan? ngapain pake
kacamata? Lo kerenan yang semalem loh!” ketusku lagi sampai membuat ia bicara
sepatah kata untukku.
“Permisi!”
ia meninggalkanku sendiri. Makhluk pluto paling menyebalkan. Sifatnya sungguh
180 derajat berubah dari yang semalam. Aku benar-benar tidak mengerti.
“Rik,
tugas yang semalem kita kerjain, dibawa kan?” sambar temannya tiba-tiba
menanyakan tugas. Riki langsung melihat ke arahku dengan membenarkan
kacamatanya. Aku masih bingung, sekaligus bertanya-tanya. Semalam Riki nonton.
Mana mungkin ia mengerjakan tugas. Apalagi bersama teman-temannya. Aku menepuk
kedua pipiku untuk memastikan ini mimpi atau bukan.
“Hei
.. !!” suara yang berbeda memanggilku. Aku terkejut melihat manusia tampan ini
kembali dengan penampilan yang berbeda.
“Gue
Riko, saudaranya Riki.” Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan
denganku. Aku tak mengerti sekaligus bingung melihat dua orang yang sama.
“Kalian
... kembar?” tanyaku masih tak percaya dengan menunjuk ke arah Riki yang jauh
meninggalkanku di depan mading.
“Iya.
Gue Broadcast, dia Fisika” jelasnya.
Sungguh dua fakultas yang sangat berbeda. Orangnya juga.
“Jadi,
yang semalam gue lihat di konsernya Secondhand
itu lo?”
“Iya,
mana mungkin si Riki mau nonton konser? Buang-buang waktu aja. Seru ya
konsernya” ia tertawa.
“Terus,
apa yang bisa gue bedain diantara kalian berdua?”
“Dia
pake kacamata, dan gue nggak. Lo perhatiin deh.”
“Satu
hal lagi yang gue tahu, lo selengehan
dan dia serius banget.” Tambahku. Riko tertawa aneh.
“Kenapa
lo ketawa? Nggak lucu tahu! Berarti sekarang lo semester 5 dong?”
“Semester
3, soalnya gue nganggur setahun dulu buat nyantai” jawabnya sok asik.
Berbanding terbalik dengan Riki yang selelu serius, Riko terkesan seenaknya.
Hari terus berganti, namun rasa itu
selalu tumbuh saat teringat Riki, bukan Riko. Aku selalu tak mengerti apa yang
membuat Riko begitu acuh padaku. Lalu, untuk apa seminggu lalu ia memantauku
saat seminar?. Saat aku tanyakan hal itu pada Riko, Riko menjawab bukan. Sebab,
pertama Riko melihatku adalah saat konser.
“Besok berangkat bareng yuk? – Riko” sms dari Riko. Kenapa tidak Riki saja yang
mengajakku berangkat bersama? Aahh, sulit sekali untuk dekat dengannya. Namun,
aku tak menolak ajakan Riko, siapa tahu ia berangkat bersama Riki juga.
Dugaanku benar, Riko bersama Riki. “Aahh senangnya” sorakku dalam hati. Ketika
aku memasuki mobilnya, Riki hanya diam dengan membaca buku di samping Riko yang
mengemudikan mobilnya. Sampai di kampus pun, Riki tak bersuara. Ia benar-benar
membuatku penasaran. Saat istirahat tiba, Riko menghampiriku untuk makan siang
bersama di kantin. Anehnya, kali ini mereka berdua tidak kompak. Dan kulihat,
Riki sedang bercanda bersama teman-temannya yang lain, dan yang kulihat, ia
sangat dekat sekali dengan seorang wanita cantik dari fakultas yang sama. Aku
muak melihat mereka, rasanya aku ingin pulang saja. Sepertinya Riko paham
dengan perasaanku yang kacau melihat Riki dari jauh di kantin ini. Dan Riko
mengajakku untuk pindah kantin. Saat kami meninggalkan kantin itu, Riki terus
melihatku. Ia seperti tak rela aku pergi.
Dua bulan kemudian, lama sekali
rasanya aku tak melihat Riki. Yang selalu bertemu denganku hanyalah Riko,
karena memang ia satu angkatan denganku. Yang aku tahu saat ini Riki sedang
sibuk dengan tugasnya. Selebihnya, entahlah. Saat aku sedang jalan-jalan di
sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli sesuatu, aku bertemu dengan Riko.
“Riko,
apa kabar?” tanyaku.
“Baik.”
Jawabnya singkat.
“Syukurlah,
sendirian aja?” tanyaku lagi.
“Nggak,
gue sama Rena. Dia lagi di toilet”
“Rena?
Renata anggiya anak fakultas hukum yang paling pintar itu?” tanyaku bodoh. Riki
menganggukkan kepala.
“Lo
cuek banget sama gue, apa karena gue bodoh?” tanyaku melas.
“Ya
nyadar aja si lo!, lagian juga semua orang itu kalau berteman sama gue harus
nyadar” jawabnya mulai sombong.
“Jadi
maksud lo gue ini emang bego dan nggak pantes berteman sama lo? Gitu!”
“Emang
lo bego kan? buktinya gue suka sama lo aja, lo nggak pernah tahu!” jawabnya
membuatku shock bercampur senang.
“Lo
lebih suka dengan cowok yang nggak berkacamata kayak Riko kan? ya udah, fine!” ia pergi.
“Jadi,
lo jealous sama kembaran lo sendiri?”
tanyaku menghentikan langkahnya. Ini benar-benar seperti kejadian di
sinetron-sinetron, tapi begitulah ceritanya.
“Kalau
memang lo suka sama gue, kenapa lo nggak langsung ngomong sama gue?” tambahku,
hingga membuatnya mendekat padaku.
“Lo
pikir ngungkapin perasaan itu gampang ya? dan lo pikir, ngrebut orang yang
disukai sama saudara kembar gue sendiri itu gampang?”
“Jadi,
maksud lo, Riko suka sama gue?” tanyaku bodoh.
“Lo
pikir aja sendiri!” Aku tahu mengapa Riki bicara begitu, itu karena saat
pertama aku mengenalkan diri padanya, aku salah paham dan tak bisa membedakan
antara Riki dan Riko. Hingga, saat itu aku mengira ia adalah Riko yang malam
itu menonton konser. Dan ini adalah pilihan yang sangat sulit untukku. Aku
tidak ingin membuat Riko sakit hati, dari pada aku harus memilih salah satu
diantara mereka, Lebih baik aku menjauh dari mereka berdua yang membuatku
bingung. Walaupun perasaanku hanya tumbuh pada Riki. Pesan Shila saat aku
curhat hal ini padanya,
“Tetap
bersyukur meskipun lo nggak bisa memiliki satu diantara mereka, mereka udah
suka sama lo aja, itu adalah anugerah. Kuncinya bersyukur lo udah ada yang
suka.” GILA!!! Dewasa banget ya Shila! Ya iya lah, Shila kan jomblo kelas
kakap. -_-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar