Kamis, 24 Januari 2013

^SEKETIKA GALAU ^


SEKETIKA GALAU 
Oleh : Raniar Abbas
Kamis, 10 januari 2013 


Gerakan matanya sungguh tidak dapat dipungkiri jika saat ini ia sedang memandangku tanpa berkedip sedikit pun. Matanya berbicara seakan mengajak hatiku untuk bergerak. Dua jam berlalu, seminar cinta dan kita yang diadakan oleh organisasinya telah usai. Semua peserta seminar berdesakan keluar dari auditorium kampus. Yang kulihat, pria beralmamater kuning itu terus memantauku dari jauh. Entah ada apa, ia terus memantauku tanpa mendekatiku untuk berbasa-basi atau berkenalan. Kali ini, aku coba mengalihkan penglihatanku padanya, namun dengan cepat ia seperti tak perduli denganku yang sedari tadi ia lihat. Beginikah caranya membuatku penasaran? Apakah tidak ada cara yang lebih aku suka? Sungguh pria yang aneh. Seminggu berlalu, rasanya sulit sekali menghilangkan rasa penasaranku ini darinya. Pria berkacamata yang kuperkirakan berusia 20 tahun itu, saat ini sedang berada di hadapanku. Namun, saat kami berpapasan, ia sama sekali tak melihatku. Apa yang ia mau?. Rasanya ingin sekali aku menengok ke belakang untuk memastikan ia sedang melihat ke arahku atau tidak, tetapi Tuhan tidak mengizinkan. Entahlah, ia adalah lelaki yang mampu membuatku tersenyum sendiri saat mengingatnya.


Malam ini, aku pergi bersama Shila, Angga, dan Resa untuk menonton konser Secondhand Serenade yang diadakan di senayan. Dengan kostum yang ala kadarnya, reglan panjang, jeans, dan sepatu kets, aku mulai bersorak saat band favorit-ku itu memulai aksinya di panggung Istora. Setelah beberapa jam berdiri di bawah panggung besar itu, aku mulai bosan. Terlebih, saat melihat Resa dan Angga, yang tak lain adalah sepasang kekasih  begitu heboh menikmati lagu your call-nya Secondhand Serenade yang sangat slow, aku langsung teringat lelaki aneh itu. Sedangkan Shila, lebih memilih bungkam karena baru pertama kalinya nonton konser. Saat aku mulai bosan dan kacau di tengah kerumunan penonton, dari jauh aku melihat sosoknya yang sedang tersenyum padaku. Seketika aku langsung mengucek-ngucek kedua mataku karena tak percaya. Namun, saat aku kembali melihat ke arahnya, ia menghilang.  Apakah aku hanya menghayal ia ada di sini?.

“Ki, balik yuk. Gue ngantuk nih!” teriak Shila tepat di telingaku. Aku masih ingin di sini, dan sangat mengharapkan ia benar-benar ada di sini. Aku masih sibuk tengak-tengok mencari lelaki itu.

“Ki, balik yuk!!” Shila menarik tanganku. Dan saat melintasi kerumunan penonton yang lain untuk keluar area, aku kembali melihatnya. Ia benar-benar ada di sini. Ia sedang tersenyum padaku, matanya indah, hidungnya mancung, tampan, dan sungguh menarik untuk dipandang. Aku masih tak percaya, sesampainya di kostan pun, aku masih merasa ada yang aneh saat bertemu lelaki itu.

“Ki, buruan tidur. Besok kan kita harus ngampus pagi” nasihat Sihila, yang tak lain juga adalah teman satu kamar kostan. Aku tidak bisa tidur mengingat senyuman yang tadi mampir di pikiranku. Tuhan, semoga besok aku dapat bertemu dengannya lagi. Aku pun tertidur.

            Saat mata kuliah akuntansi selesai, ada yang aneh di mading kampus. Banyak teman-temanku yang mengerumuni mading. Entah apa isinya, aku paling malas membaca, sampai sms masuk di inbox handphone-ku pun malas sekali untuk aku baca. Anehnya, lelaki itu ikut berkerumun di depan mading. Apa yang membuatnya se-frustasi ini, semalam baru saja ia menonton konser secondhand serenade dengan gaya cool abis, namun kali ini ia harus berdesakan di depan mading dengan gaya mahasiswa Kura-kura, alias Kuliah Rapat-kuliah rapat. Penampilannya sungguh kalem sekalem siput kalau sedang jalan. Luar biasa, ia memang pintar menipu dosen.

“Hay, nama gue Kiki” Aku mengulurkan tangan untuk berkenalan.

“Riki” tangannya tak berbalas menjabat tanganku, namun ia menyebutkan namanya. Dan ia pun tak melihat ke arahku. Oh god! Lelaki dari planet apa ini?.

“Semalem konsernya bagus ya Rik” ulasku.  Ia diam, dan aku tak tahu sampai kapan ia akan terus diam seperti ini.

“Lo nggak minus kan? ngapain pake kacamata? Lo kerenan yang semalem loh!” ketusku lagi sampai membuat ia bicara sepatah kata untukku.

“Permisi!” ia meninggalkanku sendiri. Makhluk pluto paling menyebalkan. Sifatnya sungguh 180 derajat berubah dari yang semalam. Aku benar-benar tidak mengerti. 

“Rik, tugas yang semalem kita kerjain, dibawa kan?” sambar temannya tiba-tiba menanyakan tugas. Riki langsung melihat ke arahku dengan membenarkan kacamatanya. Aku masih bingung, sekaligus bertanya-tanya. Semalam Riki nonton. Mana mungkin ia mengerjakan tugas. Apalagi bersama teman-temannya. Aku menepuk kedua pipiku untuk memastikan ini mimpi atau bukan.

“Hei .. !!” suara yang berbeda memanggilku. Aku terkejut melihat manusia tampan ini kembali dengan penampilan yang berbeda.

“Gue Riko, saudaranya Riki.” Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku. Aku tak mengerti sekaligus bingung melihat dua orang yang sama.

“Kalian ... kembar?” tanyaku masih tak percaya dengan menunjuk ke arah Riki yang jauh meninggalkanku di depan mading.

“Iya. Gue Broadcast, dia Fisika” jelasnya. Sungguh dua fakultas yang sangat berbeda. Orangnya juga.

“Jadi, yang semalam gue lihat di konsernya Secondhand itu lo?”

“Iya, mana mungkin si Riki mau nonton konser? Buang-buang waktu aja. Seru ya konsernya” ia tertawa.

“Terus, apa yang bisa gue bedain diantara kalian berdua?”

“Dia pake kacamata, dan gue nggak. Lo perhatiin deh.”

“Satu hal lagi yang gue tahu, lo selengehan dan dia serius banget.” Tambahku. Riko tertawa aneh.

“Kenapa lo ketawa? Nggak lucu tahu! Berarti sekarang lo semester 5 dong?”

“Semester 3, soalnya gue nganggur setahun dulu buat nyantai” jawabnya sok asik. Berbanding terbalik dengan Riki yang selelu serius, Riko terkesan seenaknya.

            Hari terus berganti, namun rasa itu selalu tumbuh saat teringat Riki, bukan Riko. Aku selalu tak mengerti apa yang membuat Riko begitu acuh padaku. Lalu, untuk apa seminggu lalu ia memantauku saat seminar?. Saat aku tanyakan hal itu pada Riko, Riko menjawab bukan. Sebab, pertama Riko melihatku adalah saat konser.

“Besok berangkat bareng yuk? – Riko” sms dari Riko. Kenapa tidak Riki saja yang mengajakku berangkat bersama? Aahh, sulit sekali untuk dekat dengannya. Namun, aku tak menolak ajakan Riko, siapa tahu ia berangkat bersama Riki juga. Dugaanku benar, Riko bersama Riki. “Aahh senangnya” sorakku dalam hati. Ketika aku memasuki mobilnya, Riki hanya diam dengan membaca buku di samping Riko yang mengemudikan mobilnya. Sampai di kampus pun, Riki tak bersuara. Ia benar-benar membuatku penasaran. Saat istirahat tiba, Riko menghampiriku untuk makan siang bersama di kantin. Anehnya, kali ini mereka berdua tidak kompak. Dan kulihat, Riki sedang bercanda bersama teman-temannya yang lain, dan yang kulihat, ia sangat dekat sekali dengan seorang wanita cantik dari fakultas yang sama. Aku muak melihat mereka, rasanya aku ingin pulang saja. Sepertinya Riko paham dengan perasaanku yang kacau melihat Riki dari jauh di kantin ini. Dan Riko mengajakku untuk pindah kantin. Saat kami meninggalkan kantin itu, Riki terus melihatku. Ia seperti tak rela aku pergi.

            Dua bulan kemudian, lama sekali rasanya aku tak melihat Riki. Yang selalu bertemu denganku hanyalah Riko, karena memang ia satu angkatan denganku. Yang aku tahu saat ini Riki sedang sibuk dengan tugasnya. Selebihnya, entahlah. Saat aku sedang jalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli sesuatu, aku bertemu dengan Riko.

“Riko, apa kabar?” tanyaku.

“Baik.” Jawabnya singkat.

“Syukurlah, sendirian aja?” tanyaku lagi.

“Nggak, gue sama Rena. Dia lagi di toilet”

“Rena? Renata anggiya anak fakultas hukum yang paling pintar itu?” tanyaku bodoh. Riki menganggukkan kepala.

“Lo cuek banget sama gue, apa karena gue bodoh?” tanyaku melas.

“Ya nyadar aja si lo!, lagian juga semua orang itu kalau berteman sama gue harus nyadar” jawabnya mulai sombong.

“Jadi maksud lo gue ini emang bego dan nggak pantes berteman sama lo? Gitu!”

“Emang lo bego kan? buktinya gue suka sama lo aja, lo nggak pernah tahu!” jawabnya membuatku shock bercampur senang.  

“Lo lebih suka dengan cowok yang nggak berkacamata kayak Riko kan? ya udah, fine!” ia pergi.

“Jadi, lo jealous sama kembaran lo sendiri?” tanyaku menghentikan langkahnya. Ini benar-benar seperti kejadian di sinetron-sinetron, tapi begitulah ceritanya.

“Kalau memang lo suka sama gue, kenapa lo nggak langsung ngomong sama gue?” tambahku, hingga membuatnya mendekat padaku. 

“Lo pikir ngungkapin perasaan itu gampang ya? dan lo pikir, ngrebut orang yang disukai sama saudara kembar gue sendiri itu gampang?”

“Jadi, maksud lo, Riko suka sama gue?” tanyaku bodoh.

“Lo pikir aja sendiri!” Aku tahu mengapa Riki bicara begitu, itu karena saat pertama aku mengenalkan diri padanya, aku salah paham dan tak bisa membedakan antara Riki dan Riko. Hingga, saat itu aku mengira ia adalah Riko yang malam itu menonton konser. Dan ini adalah pilihan yang sangat sulit untukku. Aku tidak ingin membuat Riko sakit hati, dari pada aku harus memilih salah satu diantara mereka, Lebih baik aku menjauh dari mereka berdua yang membuatku bingung. Walaupun perasaanku hanya tumbuh pada Riki. Pesan Shila saat aku curhat hal ini padanya,

“Tetap bersyukur meskipun lo nggak bisa memiliki satu diantara mereka, mereka udah suka sama lo aja, itu adalah anugerah. Kuncinya bersyukur lo udah ada yang suka.” GILA!!! Dewasa banget ya Shila! Ya iya lah, Shila kan jomblo kelas kakap.  -_-

           

Tidak ada komentar: