Jumat, 28 Oktober 2011

^YANG KU TAHU SAAT INI ADALAH BAHAGIA^

Ketika aku menangis aku tahu aku sedang menikmati hidup. Aku tak mungkin bisa tahu bagaimana perihnya cinta, aku tak akan tahu indahnya suatu perasaan jika aku tak mencintainya. Di sekolah ini, aku bertemu dengan Marga, sosok cowok idaman yang menghantuiku tiga bulan yang lalu. Marga berdiri di depanku dengan tatapan seakan penuh tanya “Apa dia suka padaku?” harapku. Aku terus menatap matanya yang indah layaknya wanita konyol yang ingin mendapatkan cinta dari lelaki yang kusebut pangeran.
”Marisa??” aku tersontak, seketika aku melepaskan tatapanku.
”Lo kenapa ada di sini?” tanyanya membuatku gugup.
“Guee .. ee .. e ..” aku tak dapat berucap.
 “Ini kan ruang ganti cowok” selanya hingga membuatku malu.
 “Owh ... iya, gue lupa kenapa gue ada di sini ya? Hehe ..” aku berbalik badan dan gigit jari, padahal niatku akan memberinya sapu tangan yang kubuat sendiri.
“Marisa?!!” panggilnya lagi padaku, spontan aku kembali membalikkan badanku.
“Iyaa??” dengan polosnya aku menjawab panggilannya.

Sorry ya kalau gue terlalu kasar ngingetin lo kalau ini ruang ganti cowok”
 “Owh ... ya ampun Marga, iya enggak apa-apa, malahan gue makasih banget karena lo udah ngingetin” dia tersenyum padaku. Meskipun misiku kali ini gagal, aku tak berhenti sampai di sini, aku yakin sebenarnya Marga adalah sosok lelaki yang akan selalu menghargai orang lain apalagi wanita.
Hari ini adalah hari Sains, yaitu hari dimana semua mata pelajaran yang membuatku jungkir balik, itu artinya aku harus melupakan Marga sejenak dan saatnya fokus pada pelajaran. Saat aku sedang memperhatikan ibu Dewi yang sedang menjelaskan di depan kelas, tiba-tiba Marga dan kawan-kawannya lewat di depan kelasku, dengan santainya dia berjalan sembari mengelapi keringat seusai futsal. Marga terlihat cool dan benar-benar macho. Akupun begitu ambisius ingin mengejarnya, tapi bagaimana caranya?, aku hampir lupa kalau ini adalah pelajaran ibu Dewi, yang aturannya “Tidak ada alasan keluar kelas saat jam belajar saya!” huhu so bad … Sofie, teman sebangkuku pernah sampai ngompol gara-gara izin ketoilet enggak boleh.
Istirahat pun tiba, sepertinya hari ini aku gagal melupakan Marga, aku yang gagal atau Marga yang tidak ingin kulupakan? sebab saat ini dia sedang menghampiriku yang sedang asik ngobrol bersama teman-temanku.
”Hi Risa??” sapanya padaku, aku bagaikan di dalam mimpi.
“Hiiiii ... !!!” Balas teman-temanku yang mulai kecentilan.
“Emm sorry, kalian bisa pergi sebentar enggak? ada yang mau gue bicarain sama Risa” kata Marga pada teman-temanku, aku terkejut saat Marga melirikku.
“Owh .. iya kita juga mau ke kantin kok” jawab salah satu diantara mereka sembari meninggalkanku dan Marga yang cool.
“Kok lo ngusir temen-temen gue si?” tanyaku penasaran.
“Gue takut lo malu kalau mereka denger” jawab Marga santai.  
“Gue? cuma gue doang ya yang malu?” batinku.
“Gue mau tanya tentang lo salah masuk ruang ganti kemarin”  eemmm aku kira Marga akan bicara serius tentang perasaanku yang kacau ini.
“Lo mau tanya apa?” tanyaku sedikit kesal.
 “Semalem gue mikirin lo” jawabnya. 
“Ha? apa? lo mikirin gue?” aku serasa di awan, Marga memang mahir membuatku terbang.
“Iya gue masih mikirin kejadian yang kemarin,soalnya gue liat lo enggak pake baju olah raga, tapi lo mau masuk ruang ganti, lo mau ngintip ya?”  
“Ha? apaan si! ya enggak lah, gue kan lupa!” 
“Tapi kalau lo lupa kayaknya enggak mungkin banget deh, soalnya ruang ganti cowok dan cewek itu jauh banget dari kelas lo” 
“Ya namanya juga lupa” 
“Emang sebenarnya lo mau kemana si?” 
“Ya mau ke ruang ganti ... !” uupzz aku keceplosan ni, sontak aku mengusap mukaku yang berkeringat.
“Maksud gue, waktu itu gue mau ke ruang ganti cewek soalnya gue mau ngambil sesuatu yang ketinggalan” tambahku kikuk sembari membenahi jam tanganku yang sexy. 
“Jam tangan lo yang ketinggalan?” tanyanya lagi hingga membuatku terdiam.
“Kemarin kan lo pake jam tangan ini sa?” tambahnya memegang tanganku dan melihat jam tangan yang ku pegang.
“Aduh Marga, namanya juga lupa, ya enggak inget segalanya dong!, termasuk apa yang kemarin ketinggalan!” teriakku melepaskan tangan Marga yang dingin dan lembut. Padahal ini adalah keberuntunganku dapat bicara empat mata dan memegang tangan Marga tak sebentar, tapi terpaksa kulepaskan karena dunia akan terhenti kalau Marga melihat jam yang kupakai adalah jam mati, jam yang sepanjang abad akan menjadi jam kesayanganku.
“Ya udah deh apapun alasaanya, yang jelas gue cuma mau balikin ini sama lo” kata Marga memberikan sapu tangan yang akan kuberikan padanya. Ternyata sapu tangan itu sudah ada pada Marga, karena tanpa ku sadari pada saat itu sapu tangan terjatuh di depan ruang ganti cowo. Aku pun terkejut dan dengan santainya Marga meninggalkanku dan sapu tangan itu.
“Margaa!!” panggilku dan aku pun menghampirinya.
“Emm ... kenapa lo kasih ke gue?” tanyaku menunduk. 
“Itu punya lo kan?” 
“Tapi ... sapu tangan ini punya lo, sebenernya sapu tangan ini buat lo Marga!” 
“Marisa ... ini bukan hak gue, mentang-mentang gue yang nemuin, terus lo bilang ini buat gue?”  sepertinya Marga marah padaku. Tuhan ... kenapa aku sedih? dan ini benar-benar sakit, aku takut Marga tak mau mengenalku lagi, ini semua karena kecerobohanku. Di kelas, aku begitu tak semangat padahal masih ada empat jam lagi untuk Biologi dan Kimia, aku terus memikirkan hal tentang Marga, baru kali ini aku mendapatkan hal yang tak biasa dari cowok  sekeren Marga.
Malam pun datang, tak sepertiku yang saat ini sendiri, bintang-bintang begitu ramai karena berkawan, orang tuaku sedang tidak berada di rumah, tiba-tiba handphoneku berbunyi, inboxku terisi dengan isi-isi pesan yang romantis, namun terus kuabaikan pesan-pesan itu dulu, dan sampai saat ini, karena aku tahu itu bukan Marga. Kuputar-putar handphoneku sembari menikmati secangkir cappocino hangat dan terus berharap sms dari Marga. Sejenak kupandang sapu tangan berinisial M yang terlipat rapi dimeja belajarku itu, dan perlahan ku mereply kejadian demi kejadian bersama Marga. Untuk apa Marga menanyakan hal yang begitu tidak penting padaku?. Untuk apa Marga merasa tersinggung atas pemberian ajaibku? untuk apa pula Marga harus perduli untuk mengusir teman-temanku hanya ingin mengembalikan sapu tangan yang kurancang special untuknya?. Semua hal itu tidak biasa untukku, ini pasti ada sesuatunya. Otakku mulai memanas ketika cappocinoku mulai mengering di sudut bibir. Malam telah larut dan mimpi indah pun telah kudapat tentang Marga.
Ketika aku baru keluar dari ruang ganti, aku begitu terkejut melihat sosok pangeran tampan, baik hati tapi sedikit sombong yang sedang berdiri tegap dengan tangan bersedekap. Ingin sekali kusapa dia, tetapi hati ini tak kuasa, aku hanya berandai-andai dia yang menyapaku. “Marisa?! ... ” langkahku terhenti seketika, Marga ... ya dia Marga, Marga yang memanggilku dia  menghampiriku.
“Marga??” panggilku bernada melankolis. Saat Marga menghampiriku mendadak teman-teman perempuanku menatapku seakan harimau yang hendak menerkam mangsanya. Kufokuskan pikiran dan penglihatanku pada Marga, seorang yang telah berada di sampingku saat ini.
”Pulang sekolah ada acara enggak?” tanyanya tak biasa.
“Gue?” tanyaku bodoh.   
“Ya iya lah Marisa !” tegasnya melirikku. 
“Enggak, emangnya ada apa?” tanyaku polos seakan mengharapkan sesuatu.
“Jalan yuk?!”  
“Apa??” aku begitu bersemangat dan terlalu pede.
“Gue mau ngajak lo jalan, mau enggak?”  
“Iii ... iiyyaa gue mau.! Hehe ... ” aku jadi salah tingkah ketika seorang pangeran yang dengan pedenya mengiringi langkah kecilku menyusuri koridor-koridor kelas, hatiku bergetar kencang hingga menumbuhkan petikan gitar yang berlagukan Terpanah Asmara-Bunga Citra Lestari yang kudengar disaat galau. Lalu dia meninggalkanku menuju kelasnya yang akan dikuasai ibu Dewi.
Bel pulang berbunyi, ini saatnya aku merapikan seragam dan rambutku serta menyemprotkan parfum bernuansa go green keseluruh tubuhku. Dia sudah menungguku di depan gerbang sekolah, dengan pandangan ke arah jam tangannya akupun menghampirinya.
“Marga!!” panggilku lincah.
“Yuk!!” dia mulai melangkahkan kaki.
“Emm ... motor lo mana?” tanyaku, karena aku biasa melihatnya mengendarai motor scooter matic modifannya ke sekolah.
“Emangnya tadi gue ngajak lo apa? jalan kan? ya berarti kita jalan kaki.” Jawabnya santai sembari mengejekku. Sedikit menyebalkan memang, tapi tak akan menjadi masalah yang besar ketika kaki lentikku bengkak karenanya. Aku terdiam dengan muka tengilku. Saat menyusuri jalan selama tiga puluh menit, keringatku mulai menetes seiring energi yang lenyap dari tubuhku. Aku terpaksa menghentikan langkahku untuk beristirahat.
”Kenapa berhenti?!” tanyanya membuatku kesal. Dia duduk di sampingku yang sedang meluruskan kedua kaki.
“Sebenernya kita mau kemana si?” tanyaku dengan penuh harapan.
“Ya pulang lah, kita kan satu arah Sa” jawabnya meyakinkanku.
“Apaaaa?? pulang? jadi dari tadi kita jalan kaki tujuannya cuma pulang?” aku tak percaya.
“Emangnya lo kira mau kemana?”  
“Margaaaa … gue itu … !!!” 
 “Cape?? iya gue tahu tapi gue kan enggak cape, jadi kita lanjutin lagi yuk perjalanan kita” selanya hingga benar-benar membuatku naik darah.
“Lo itu egois banget si? mentingin diri sendiri!! gue itu gerah, dan ini tu panas banget tahu enggak!!” ocehku lagi.
“Kayaknya emang mau ujan deh!, jadi bawaannya panas. Tapi lo tenang aja, kalau seandainya ujan, gue punya tempat teduh yang keren banget  kok” 
“Tapi kan ... !!”    
“Yuukkk!” selanya dan menggandeng tanganku mengajak melanjutkan perjalannan. Aku seperti bermimpi saat tanganku dan tangannya bersatu, lalu bagaimana dengan hatiku jika bersatu juga? Sejuta tanya kuabaikan, kini kutak perduli lagi dengan jam tangan yang kukenakan dilihat olehnya, meskipun telah mati, tetapi cintakulah yang akan hidup. Marga yang kusebut pangeran ini sekarang menggenggam tanganku, tiba-tiba hujan datang. Marga mengajakku berteduh disebuah gubuk kecil di pinggir jalan di bukit perkebunan teh. Di sini hanya ada aku, dia, hamparan perkebunan teh yang indah dan beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Aku diam dan merasakan hangat genggaman tangannya yang tak ia lepaskan. Sejenak ku lirik dia, dia tampak tenang.
“Marga, sebenarnya apa si tujuan lo ngajak gue kayak gini?” tanyaku pelan.
“Apa ya? eemm gue mau sapu tangan yang lo kasih kemarin.” Jawabnya menggerakkan genggaman tangan.
“Sampai segininya ya?” tanyaku ingin tahu.
“Kenapa si selama ini lo enggak pernah balas sms gue?” tanyanya tiba-tiba, seolah menghiraukan pertanyaanku yang membuatku tak bisa tidur semalam. Aku terkejut ketika ia menanyakan sebuah sms, pikiranku langsung tertuju pada sebuah nomor yang sejak lima bulan lau sering mengirimkan   kata-kata romantis.
“Kerinduanku tidak akan pernah terasa jika tak pernah mengenalmu” ucapnya, aku langsung melepaskan genggaman tangannya dan aku segera mengambil handphoneku di dalam tas dan kubaca satu persatu isi inboxku dari nomor itu. Iya … itu adalah salah satu isi pesan dari nomor itu, dan kata-kata itu adalah pesan dari Marga. Aku terdiam di tengah hujan yang melanda bumi dan hatiku. Aku tersenyum, dan Marga pun melirikku dengan senyuman manis.
“Marga? jadi ini semua lo yang ngirim? dan ini adalah nomor lo? lo kirim kata-kata itu buat gue?” tanyaku tak percaya.
“Iya dong buat lo, buat siapa lagi?” jawabnya santai dengan senyum mematikannya. Aku pun tertawa tak kuasa menahan haru dan bahagia, sejenak kugelengkan kepala dan kurasa tak mungkin, namun benarlah bahwa sejak lima bulan lalu Marga sudah menyukaiku.
“Udah deh, ngapain lo senyam-senyum sendiri? lebay tahu!. Mana sapu tangan gue?” katanya cuek “Bukannya kemarin lo enggak mau?”   
“Itukan karena gue enggak suka aja cara ngasihnya”  
“Tadinya si, sapu tangan itu mau gue tarok di loker lo, ehh malah ketahuan duluan”    
“Makanya jadi orang itu enggak usah sok romantis!!”  
“Iihh, siapa juga yang sok romantis, lo itu yang sok romantis, pake acara ngirim-ngirim kata-kata lebay kayak gini ke gue”  
“Eh terserah gue ya, yang jelas sekarang orangnya udah klepek-klepek sama gue”   
“Pede banget lo!, ni sapu tangan buat lo, harusnya lo tahu kalau sapu tangan ini buat lo, gue sengaja jahit inisial lo yaitu M 
“Marisaaa ... inisial nama lo juga M, mana gue tahu ini buat gue, kalau gue ambil nanti ada yang kepedean deh!” Marga setengah mengejekku.  
“Uuhh dasar!! ternyata seorang Marga, cowo yang terkenal playboy dan suka gunta-ganti nomor bisa suka juga ya sama gue? tapi sayangnya gak gentle ... huu” ejekku berbalas. 
“Enak aja gue playboy!”  
“Iya. Lo kan terkenal playboy. Buktinya setiap pulang sekolah atau jalan, lo sering gunta-ganti cewek, apalagi kala u udah nyetir mobil sendiri ke sekolah, enggak Sesil, Putri, Fika, Mega, Caca, lo embat juga kan??”   
“Yeee ... bilang aja lo cemburu!, itu si mereka aja yang kecentilan sama gue”   
“Emm ... dasar playboy, terus selama ini kenapa lo enggak pernah balas sms gue?” tanyaku memastikan nomor-nomor yang kudapat dari Sofie adalah nomor Marga.
“Emangnya lo sms ke nomor mana?”   kutunjukkan nomor yang selama ini sering ku sms. Marga hanya tertawa, hingga membuatku tak mengerti.
“Ini semua bukan nomor gue, gue aja enggak tahu itu nomor siapa, hahaha”  aku terkejut selama ini yang sering ku sms bukanlah nomor Marga.
”Haha ... gue enggak nyangka cewek sok jutek, konyol, dan suka pake jam mati bikin penasarn gue”  lagi-lagi aku tersipu, meskipun sedikit menyebalkan.
”Kok lo tahu jam yang gue pake adalah jam mati?” tanyaku penasaran. 
“Gue kan sering perhatiin lo, apalagi kalau liat lo pake rok yang kegedean itu”. Semuanya memang indah, tapi aku tak tahu bagaimana aku harus menghadapi semua ini.  
“Lo kenapa buatin gue sapu tangan?” tanyanya lagi.  
“Biar lo enggak jerawatan akibat keringat-keringat futsal lo itu” jawabku polos.  
Thanks banget ya sa, lo adalah satu-satunya cewek yang care sama gue setelah perginya nyokap gue” ucapnya menatap mataku.
“Iya Marga” jawabku singkat dan berbalas menatapnya. Hujan belum berhenti untuk memberiku waktu lama dengan Marga. Kami pun terdiam lirih memandang sejuknya perkebunan teh yang terhampar luas di depan mata, hembusan angin terasa bernyanyi saat ucapan-ucapan mulai terkata. Hatiku bagaikan menari-nari di atas rintikan hujan yang membasahi hatinya. Yang kutahu saat ini adalah bahagia.
“Marga, jadi sekarang ...” 
“Kita jadian!!” selanya tersenyum, dan aku pun tersenyum bahagia. Tersenyum yang tak pernah kucoba seumur hidup ini. Kini tak ada lagi rasa dilemaku akan cerita ini. Tapi ... entah seperti apa kelanjutan cintaku bersama Marga, mungkin bahagia, atau berliku. Cinta itu anugrah, kadang suka, duka, chanda, tawa tapi pasti ada luka ... dan yang kutahu saat ini adalah bahagia.


                                                                                    Created by: Hasniar rahmawati
                                                                                      [ Minggu, 26 Februari 2011 ]

Tidak ada komentar: