Aku
tak pernah tahu bagaimana Tuhan akan menyabut nyawaku suatu saat nanti. Aku
juga tak akan pernah tahu jika suatu saat nanti Tuhan akan membiarkanku
sendiri. Yang aku tahu, Tuhan selalu menunjukkanku bagaimana memaknai hidup.
Bagiku Tuhan sangat sempurna. Dengan mengayuh sepeda sportku, aku terus mencari pemandangan yang indah untuk menjadi
objek lukisanku. Pikiranku kini hanya tertuju pada satu titik, yaitu pemandangan
alam yang sangat indah. Hamparan perkebunan teh yang hijau dan matahari yang
mulai tenggelam dengan senyumku membuat dunia terasa nyaman dan indah. Aku
segera menyiapkan segala peralatan lukisku. Dengan sigap aku keluarkan kanvas,
kuas, dan peralatan lainnya dalam ranselku. “Cekkkrriiikkk!” suara itu
terdengar dari telingaku yang tak akan tuli. Kulihat, dengan santainya seorang
lelaki sedang memotretku dari jauh
dengan kamera canggihnya. Spontan, aku segera menutupi wajah imutku dengan topi
sampai tak terlihat lagi olehnya.
“Mbak-mbak!
memangnya aku tukang jamu!” batinku kesal. Ah, aku sudah tidak berselera lagi
untuk melanjutkan lukisan ini gara-gara lelaki aneh tadi. Langit mulai mendung
dan aku segera membereskan semua peralatan lukisku, karena hujan akan mengguyur
tubuhku jika aku tak segera meninggalkan tempat ini. Dengan cepat aku mengayuh
sepedaku. Namun, dalam setengah perjalanan, hujan pun mengguyur bumi. Aku
sengaja beristirahat di sebuah cafe di pinggir jalan. Moccacino hangat menjadi pesananku kali ini. Hitung-hitung untuk
menghangatkan tubuhku karena hujan. Posisiku kali ini duduk di pojok ruangan
berdinding kaca yang membuatku dapat melihat hijaunya perkebunan teh yang
kusambangi tadi. Tetesan air hujan pun bergantian turun dari dinding kaca di sampingku,
seakan tetesan air hujan itu tak mau melewatkan manisnya senyumku saat ini.
Andai saja ada yang melukisku dari luar sana, pasti lukisan itu sangat indah
dan akan mengalahkan lukisan Monalisa.
Sejenak aku terdiam sambil menikmati secangkir moccacino hangat ini. Kupandangi apa yang ada di hadapanku, yaitu
ransel. Aku langsung teringat dengan formulir pendaftaran lomba lukisku yang
tersimpan di halaman 51 novel Harry Potter
- The Chamber of Secret yang belum selesai kubaca. Ternyata aku juga belum
selesai mengisi lengkap formulir itu. Setelah kuisikan semua pertanyaan
diformulir itu, ada satu pertanyaan yang mengharuskanku untuk berbohong, “Apa
motivasi anda mengikuti lomba melukis ini?” apa yang harus aku jawab? entahlah,
aku hanya menginginkan sesuatu dari lomba ini untuk menyambung hidupku yang
hampir redup. Aku hanya menggelengkan kepala saat memandang formulir seharga Rp 300.000,00 ini. Karena hujan telah
reda, aku pun menyudahi meneguk moccacino hangatku. Saat aku keluar cafe,
sepedaku nampak terjatuh dan kotor akibat mobil yang baru saja parkir.
“Oh ini
sepeda punya mbak?” tanya pemilik mobil yang baru saja parkir. Lelaki yang tiga
jam lalu memotretku tanpa izin kini berdiri di hadapanku dengan tangan
bersedekap. Aku mulai naik darah karenanya, selain kejadian yang membuatku
kehilangan mood saat melukis tadi,
saat ini juga ia membuatku naik darah karena telah menjatuhkan sepedaku dan tak
bertanggungjawab. Namun, saat aku mulai meninggalkan tempat itu, tiba-tiba
lelaki berpawakan Afghan Syahreza
keluar dari mobil yang sama dan mendirikan sepedaku yang terjatuh.
“Sorry ya? teman gue baru belajar nyetir
mobil” ucapnya tersenyum. Lesung pipinya membuatnya terlihat lebih manis dan
sangat menyesal sekali jika aku tak membalas senyumnya yang diperkirakan akan
membuatku tidak dapat tidur nanti malam.
“Udah yuk
Yog!, gue udah laper nih!” ajak temannya yang menyebalkan itu padanya. Lalu ia
pun masuk mengikuti langkah temannya. Aku masih tak percaya mengapa Tuhan
menciptakan lelaki tampan dan baik seperti dia, dia ada disaat aku akan
meninggalkan dunia ini. Sesampainya di rumah, aku terkejut dengan tidak adanya
novel dan formulir lomba lukisku. Dan kutumpahkan seisi ransel di kasur, dan
Nihil!. Formulir itu harus kuserahkan besok. Jika tidak, aku hanya akan
membuang-buang waktu saat harus mengurangi uang jajan selama tiga bulan untuk
membeli formulir itu. Cafe!, ya cafe!. Aku harus ke tempat itu untuk mencari
novel dan formulir yang tertinggal. Karena tidak diizinkan oleh ibu bersepeda
malam, aku pun nekat menaiki bus yang katanya sering ugal-ugalan ini. Sepanjang
jalan aku terus berdoa dan berharap agar formulir itu tidak hilang. Sesampainya
di cafe, rupanya formulirku hilang, dan pihak cafe pun tak menemukan apa yang
kucari berada di cafe mereka. Harapanku benar-benar pupus, tubuhku mulai tak
kuat menopang resah. Malam yang dingin ini harus kulalui, tanpa hasil yang
baik. Kegalauan pun sempat melanda saat aku terdiam di bus. Hanya ada seseorang
yang sangat aku harapkan untuk itu. Tuhan ... semoga kau dapat mempertemukan
aku dengannya lagi.
Di sekolah, aku begitu tak
bersemangat. Saat aku berhadapan dengan sebuah kaca di toilet putri. Wajahku
tampak pucat dan bibirku yang biasanya merah merona kini terasa pahit dan tak
berselera untuk tersenyum.
“Duh! ... yang
mau lomba lukis dari tadi ngaca aja deh!.” Ucap Siska, teman sebangkuku yang
saat ini berdiri di sampingku dan mengikuti apa yang aku lakukan.
“Formulirku
hilang Sis!” balasku bersuara fals.
“Hah!,
hilang di mana Ndin?” Siska terkejut.
“Di cafe
dekat taman. Aku ceroboh Sis!”
“Andin,
jangan sedih gini dong!, mana temanku yang selalu ceria ini?” Siska mengusap
bahuku.
“Iya Sis,
tapi kamu tahu kan perjuanganku buat dapetin formulir lukis itu? Susah Sis,
susah!”
“Kamu
tenang ya Ndin, masih banyak kok lomba-lomba lukis di luar sana, mendingan
sekarang kita makan cokelat dulu yuk di kantin!” ajak Siska menenangkanku. Dan
aku pun mengikuti ajakan Siska. Bagaimana pun, aku tidak bisa tenang sebelum
formulir itu kembali. Aku sangat membutuhkan formulir itu, aku yakin aku pasti
menang!, hadiahnya jutaan rupiah. Dan itu sangat membantu mengurangi beban ibu
membiayai berobat jalan penyakitku ini. Apa yang dapat aku lakukan?. Ekskul
seni hari ini, aku benar-benar kehilangan semangat, tubuhku bagai tak bertulang
hingga benar-benar membuatku layu seperti bunga yang tidak disiram air dua
bulan. Bukan hanya karena kehilangan formulir dan novel itu, tetapi juga karena
pengaruh kesehatanku yang semakin menurun karena terlalu banyak aktivitas yang
aku lakukan.
Sepulang sekolah, saat hendak
memasuki gang rumahku, tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki yang suaranya
tak asing ditelinga memanggil namaku. Spontan aku hentikan laju roda sepedaku
secara mendadak hingga aku terjatuh dengan sepedaku.
“Hey!, lo enggak apa-apa kan?” Tanyanya.
Rasa sakit akibat terjatuh pun seketika hilang karenanya. “Dia! ... dia!” gumamku.
Ternyata lelaki berlesung pipi itulah yang memanggilku dan mendekatiku. Ia
berusaha meniup-niup luka memar di kakiku. Tak pernah kurasakan sedekat ini
dengan seorang lelaki. Tapi dia ... “for
the first time!” batinku melintir.
“Aku enggak
apa-apa kok!” ucapku sok imut.
“Syukur
deh” ia menghela napas dan tersenyum.
“Andin
Syafira?” panggilnya seperti bertanya. Aku bengong.
“Emm ...
nama lo Andin Syafira kan? lo lahir di Malang, 17 Agustus 1996” jelasnya
membuatku tak percaya ia tahu sedetail itu.
“Iya, Aku”
jawabku dengan pede.
“Gue yang
nemuin formulir lomba lukis lo di cafe kemarin. Gue tahu alamat ini juga dari formulir ini. Sorry ya?” ucapnya memberikan berkas formulir dan segala
persyaratan lomba lukisku. Formulir yang tadinya hanya kuselipkan di novel Harry Potter, kini berubah menjadi
sebingkis berkas rapi darinya.
“Iya,
justru aku yang berterimakasih sama kamu” kuambil berkas itu dari tangannya.
Dan kuperiksa kelengkapan berkas formulir itu.
“Loh loh
... novelku mana?” Aku terkejut, karena novel kesayanganku tidak ada
sebagaimana mestinya.
“Gue lupa
bawa novelnya, Sorry ya?” jawabnya
seperti beralasan.
“Terus,
foto 3 x 4 aku kok tinggal dua?
Harusnya kan ada 3. Itu ketinggalan juga?” tanyaku lagi.
“Owh ...
kalau itu gue enggak tahu. Foto kan benda kecil, mungkin aja jatuh atau hilang”
ulasnya membuatku tidak yakin.
“Aduh!,
gawat! formulir ini harus aku serahkan hari ini. Karena hari ini hari terakhir
pendaftaran.” Kataku bangkit dari posisi jatuh.
“Eh!, terus
foto lo giamana dong? Kan kurang satu?” tanyanya seperti ketakutan.
“Yang
penting aku kumpulin formulir dulu. Terakhir jam 5 sore ini!” aku gugup. Dan ia
pun gugup.
“Lo pasti
punya simpanan foto yang lain kan?” ia masih membahas fotoku yang hilang.
“Udah
enggak ada lagi, itu juga sisa foto rapot kelas X. Udah ya aku mau pergi
sekarang!” aku mulai menaiki sepedaku.
“Gue ikut !!”
teriaknya.
“Ya udah ayo
cepetan!” teriakku mengayuh sepedaku sekencang-kencangnya. Ia pun mengayuh
sepeda fixienya yang kulihat masih
baru.
“Hey! Tungguin gue!!” teriaknya. Kali ini
aku tak memperdulikannya yang jauh tertinggal dariku. Sesampainya di tempat,
aku segera memberikan formulir itu tepat dipukul 17:00 WIB. Napasku yang
ngos-ngosan, membuat panitia lomba lukis memaklumi kurangnya foto dalam persyaratanku.
“leganya!!” ujarku menghela napas. Namun, tiba-tiba aku teringat dengan lelaki
berlesung pipi itu. Di manakah dia?. Tak lama saat aku duduk dan menegak
sebotol minuman, ia pun datang dengan napas yang ngos-ngosan. Wajahnya terlihat
bete.
“Sorry ya aku tinggal. Habisnya aku takut
terlambat ngasih formulir.” Kataku memberi minum untuknya. Tanpa basa-basi ia
meneguk minumku sampai tak tersisa. Dan dengan terpaksanya aku biarkan
keringat-keringat kecil berjatuhan dari pelipisnya.
“Baru kali
ini gue ketemu cewe yang sok kenal banget sama gue!” ucapnya menyadarkanku
bahwa dari kemarin sampai saat ini bertemu, aku tidak tahu siapa namanya. Separah
inikah aku, jika bertemu malaikat setampan dia?.
“Owh ...
iya. Siapa nama kamu?” tanyaku tertawa kecil.
“Yoga”
jawabnya singkat.
“Salam
kenal ya? aku Andin”
“Cuma salam
kenal aja?” tanyanya membuatku berpikir keras apa maksudnya.
“Owh iya
salam kenal juga buat teman kamu yang motret-motret orang tanpa izin dan baru
bisa nyetir mobil itu.”
“Namanya
Ari. Dia sahabat gue dari kecil” jawabnya memelas.
“Owh iya,
lo jangan GR ya. Gue ikut ke sini
karena memastikan aja kalau tanpa adanya persyaratan satu foto, lo bisa tetap
ikut lomba ini”. Ucapnya meninggalkanku sendiri. Mengapa dia begitu perduli dengan lomba
lukisku? dia hanyalah seseorang yang baru aku kenal. Sepanjang jalan menuju ke
rumah, otakku tak bisa berhenti untuk tidak memikirkannya. Tapi aku tak ingin
pertemuanku dengannya hanya sampai di sini. Apa yang membuatku takut
kehilangannya? gerak kakiku semakin cepat mengayuh sepeda, hingga tanpa
kusadari begitu jauh aku menyusuri jalan kecil ini hanya untuk mendapatkan
biaya berobat. Kepalaku terasa pusing dan napasku sudah tidak terkontrol lagi.
Butiran bening terasa mengambang di pelupuk mata, hingga membuat penglihatanku
terhalang. Kuhentikan laju roda sepedaku. Dan aku terdiam, Tuhan ... aku lelah,
aku ingin semua harapanku menjadi nyata. Aku takut kondisiku menurun saat lomba
lukisku dimulai. Hanya itulah satu-satunya harapanku untuk menyambung hidup
dikemudian hari.
Hari-hari terus kulalui sambil
menunggu datangnya hari perlombaan. Latihan demi latihan pun kulakukan untuk
mencapai hasil yang maksimal. Tak perduli bagaimana Tuhan memberikan cuaca yang
amat extreme ini untukku, yang aku
tahu Tuhan akan selalu ada di dekatku dan Tuhan tidak akan membiarkanku gagal
ketika apa yang aku lakukan adalah sungguh-sungguh. Saat pulang sekolah bersama
Siska, aku dikejutkan dengan kehadiran Yoga dan Ari yang sedang berdiri di
depan gerbang sekolah layaknya satpam yang akan menghukum siswa yang terlambat.
“Andin!!,
itu Yoga. Anak SMA 1 yang lagi PDKT
sama aku” bisik Siska menggenggam erat tanganku. Begitu terkejutnya aku
mendengar kata-kata itu. Rasanya kaki ini sulit untuk melangkah lebih dekat
dengannya. Sulit untuk dipercaya jika sms dua hari lalu dari Ari yang
menyebutkan bahwa selama ini Yoga menyimpan 1 foto 3 x 4, yang ia ambil dari persayaratan lombaku. Tapi ternyata ia
menyukai wanita lain yang tak lain adalah sahabatku, Siska. Untuk apa itu
semua? Ini hanya akan menyakitkan hatiku. Dan ini lebih sakit dari penyakit
yang selama ini kurasa. Apa ini? entahlah. Aku tak ingin menyakiti sahabatku sendiri,
tapi aku juga tak ingin membodohi perasaanku yang selama ini hanya bisa
bertahan karenanya. Aku kembali berharap agar Tuhan memberiku kesempatan untuk
merasakan cinta dari seseorang yang sangat aku sayangi.
“Hey ... kalian sudah saling kenal ya?
hehe” sapa Ari cengingisan.
“Owh,
memangnya kalian juga sudah kenal sama Andin?” tanya Siska.
“Iya, gue
udah kenal Andin sekitar sebulan lebih gitu ya Ndin?” jawab Yoga santai. Aku
hanya tersenyum. Karena tak banyak kata yang dapat aku ucapkan. Ia benar-benar
tak mengerti perasaanku. Aku sangat sakit dan ini benar-benar membuatku jatuh.
“Owh iya
Ndin, novel lo ada di Ari. Jadi kalau mau nagih novel jangan ke gue lagi ya?
tapi ke Ari” kata Yoga.
“Ya udah
Ndin, Ri. Kita duluan ya?” pamit Siska meninggalkanku dan Ari.
“Mereka mau
ngedate Ndin. Gue juga mau ngedate nih sama nyokap. Hehe. Gue duluan
ya?” Ari pun meninggalkanku. Airmataku mulai menetes seiring berjalannya laju
sepeda. Hatiku hancur, rapuh, dan jiwaku seperti tak hidup lagi. Perasaan apa
ini? Seumur hidup baru kali ini aku merasakan perasaan yang sangat sakit.
Seminggu berlalu, entah apa yang
terjadi hingga harus membatalkan lomba lukisku hari ini. Langkah yang
tergesa-gesa sangat jelas terdengar di telingaku. Bukan lagi suara Yoga yang
masih jelas kudengar saat pertama kalinya
ia meniup lukaku. Tetapi suara air yang
menetes dari botol bening dengan selang kecil yang menyatu dengan urat nadiku,
yang kulihat bergelantungan di atas baringanku. Napasku tersendat, batinku
lara, dan pikiranku kosong, bagaikan tidak ada lagi kekuasaan Tuhan yang dapat
kulukis. Rupanya aku sedang berada di ruangan yang sangat kubenci, yaitu ruang
inap rumah sakit. Semua orang yang berada di ruangan ini pun berpakaian sama,
dengan mengenakan penutup kepala, masker, dan sarung tangan. Sudah separah
itukan aku? Hingga mengharuskan mereka seperti itu?. Penglihatanku kabur dan
seperti malam tanpa adanya bulan dan bintang. Siska datang menjengukku bersama
Yoga. Bahkan mereka memberitahuku bahwa mereka resmi berpacaran. Bukan
kesembuhan yang aku dapatkan lagi dari dua orang yang biasanya membuatku ceria
itu. Namun, sebuah rasa sakit yang tak akan pernah kulupa. Aku yakin, jika
Siska tahu bahwa aku menyukai Yoga, ia tak akan memberitahu kabar itu, bahkan
ia tak akan memperdulikan Yoga lagi, demi aku. Mungkin itulah keajaiban Cinta
yang tak akan dapat terkalahkan oleh apapun. Rasa sakit itu masih dapat kutahan
saat ibu menggenggam tanganku yang dingin. Dia adalah seseorang yang memaksa mataku
tak ingin tidur selamanya. Entahlah, baru kusadari disaat keadaanku seperti
ini, begitu banyak orang yang masih menyayangiku. Aku tetap menjadi sahabatmu,
Siska.
Created
by :
Hasniar
Rahmawati – Novi Suhaesti
[ Sabtu, 03 November 2012 ]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar