Jumat, 09 November 2012

^ENTAHLAH ... ^


Aku tak pernah tahu bagaimana Tuhan akan menyabut nyawaku suatu saat nanti. Aku juga tak akan pernah tahu jika suatu saat nanti Tuhan akan membiarkanku sendiri. Yang aku tahu, Tuhan selalu menunjukkanku bagaimana memaknai hidup. Bagiku Tuhan sangat sempurna. Dengan mengayuh sepeda sportku, aku terus mencari pemandangan yang indah untuk menjadi objek lukisanku. Pikiranku kini hanya tertuju pada satu titik, yaitu pemandangan alam yang sangat indah. Hamparan perkebunan teh yang hijau dan matahari yang mulai tenggelam dengan senyumku membuat dunia terasa nyaman dan indah. Aku segera menyiapkan segala peralatan lukisku. Dengan sigap aku keluarkan kanvas, kuas, dan peralatan lainnya dalam ranselku. “Cekkkrriiikkk!” suara itu terdengar dari telingaku yang tak akan tuli. Kulihat, dengan santainya seorang lelaki sedang  memotretku dari jauh dengan kamera canggihnya. Spontan, aku segera menutupi wajah imutku dengan topi sampai tak terlihat lagi olehnya.

Thanks ya, Mbak!” teriak lelaki itu dan meninggalkanku.

“Mbak-mbak! memangnya aku tukang jamu!” batinku kesal. Ah, aku sudah tidak berselera lagi untuk melanjutkan lukisan ini gara-gara lelaki aneh tadi. Langit mulai mendung dan aku segera membereskan semua peralatan lukisku, karena hujan akan mengguyur tubuhku jika aku tak segera meninggalkan tempat ini. Dengan cepat aku mengayuh sepedaku. Namun, dalam setengah perjalanan, hujan pun mengguyur bumi. Aku sengaja beristirahat di sebuah cafe di pinggir jalan. Moccacino hangat menjadi pesananku kali ini. Hitung-hitung untuk menghangatkan tubuhku karena hujan. Posisiku kali ini duduk di pojok ruangan berdinding kaca yang membuatku dapat melihat hijaunya perkebunan teh yang kusambangi tadi. Tetesan air hujan pun bergantian turun dari dinding kaca di sampingku, seakan tetesan air hujan itu tak mau melewatkan manisnya senyumku saat ini. Andai saja ada yang melukisku dari luar sana, pasti lukisan itu sangat indah dan akan mengalahkan lukisan Monalisa. Sejenak aku terdiam sambil menikmati secangkir moccacino hangat ini. Kupandangi apa yang ada di hadapanku, yaitu ransel. Aku langsung teringat dengan formulir pendaftaran lomba lukisku yang tersimpan di halaman 51 novel Harry Potter - The Chamber of Secret yang belum selesai kubaca. Ternyata aku juga belum selesai mengisi lengkap formulir itu. Setelah kuisikan semua pertanyaan diformulir itu, ada satu pertanyaan yang mengharuskanku untuk berbohong, “Apa motivasi anda mengikuti lomba melukis ini?” apa yang harus aku jawab? entahlah, aku hanya menginginkan sesuatu dari lomba ini untuk menyambung hidupku yang hampir redup. Aku hanya menggelengkan kepala saat memandang formulir seharga Rp 300.000,00 ini. Karena hujan telah reda, aku pun menyudahi meneguk moccacino hangatku. Saat aku keluar cafe, sepedaku nampak terjatuh dan kotor akibat mobil yang baru saja parkir.

“Oh ini sepeda punya mbak?” tanya pemilik mobil yang baru saja parkir. Lelaki yang tiga jam lalu memotretku tanpa izin kini berdiri di hadapanku dengan tangan bersedekap. Aku mulai naik darah karenanya, selain kejadian yang membuatku kehilangan mood saat melukis tadi, saat ini juga ia membuatku naik darah karena telah menjatuhkan sepedaku dan tak bertanggungjawab. Namun, saat aku mulai meninggalkan tempat itu, tiba-tiba lelaki berpawakan Afghan Syahreza keluar dari mobil yang sama dan mendirikan sepedaku yang terjatuh.

Sorry ya? teman gue baru belajar nyetir mobil” ucapnya tersenyum. Lesung pipinya membuatnya terlihat lebih manis dan sangat menyesal sekali jika aku tak membalas senyumnya yang diperkirakan akan membuatku tidak dapat tidur nanti malam.

“Udah yuk Yog!, gue udah laper nih!” ajak temannya yang menyebalkan itu padanya. Lalu ia pun masuk mengikuti langkah temannya. Aku masih tak percaya mengapa Tuhan menciptakan lelaki tampan dan baik seperti dia, dia ada disaat aku akan meninggalkan dunia ini. Sesampainya di rumah, aku terkejut dengan tidak adanya novel dan formulir lomba lukisku. Dan kutumpahkan seisi ransel di kasur, dan Nihil!. Formulir itu harus kuserahkan besok. Jika tidak, aku hanya akan membuang-buang waktu saat harus mengurangi uang jajan selama tiga bulan untuk membeli formulir itu. Cafe!, ya cafe!. Aku harus ke tempat itu untuk mencari novel dan formulir yang tertinggal. Karena tidak diizinkan oleh ibu bersepeda malam, aku pun nekat menaiki bus yang katanya sering ugal-ugalan ini. Sepanjang jalan aku terus berdoa dan berharap agar formulir itu tidak hilang. Sesampainya di cafe, rupanya formulirku hilang, dan pihak cafe pun tak menemukan apa yang kucari berada di cafe mereka. Harapanku benar-benar pupus, tubuhku mulai tak kuat menopang resah. Malam yang dingin ini harus kulalui, tanpa hasil yang baik. Kegalauan pun sempat melanda saat aku terdiam di bus. Hanya ada seseorang yang sangat aku harapkan untuk itu. Tuhan ... semoga kau dapat mempertemukan aku dengannya lagi.

            Di sekolah, aku begitu tak bersemangat. Saat aku berhadapan dengan sebuah kaca di toilet putri. Wajahku tampak pucat dan bibirku yang biasanya merah merona kini terasa pahit dan tak berselera untuk tersenyum.

“Duh! ... yang mau lomba lukis dari tadi ngaca aja deh!.” Ucap Siska, teman sebangkuku yang saat ini berdiri di sampingku dan mengikuti apa yang aku lakukan.

“Formulirku hilang Sis!” balasku bersuara fals.

“Hah!, hilang di mana Ndin?” Siska terkejut.

“Di cafe dekat taman. Aku ceroboh Sis!”

“Andin, jangan sedih gini dong!, mana temanku yang selalu ceria ini?” Siska mengusap bahuku.

“Iya Sis, tapi kamu tahu kan perjuanganku buat dapetin formulir lukis itu? Susah Sis, susah!”

“Kamu tenang ya Ndin, masih banyak kok lomba-lomba lukis di luar sana, mendingan sekarang kita makan cokelat dulu yuk di kantin!” ajak Siska menenangkanku. Dan aku pun mengikuti ajakan Siska. Bagaimana pun, aku tidak bisa tenang sebelum formulir itu kembali. Aku sangat membutuhkan formulir itu, aku yakin aku pasti menang!, hadiahnya jutaan rupiah. Dan itu sangat membantu mengurangi beban ibu membiayai berobat jalan penyakitku ini. Apa yang dapat aku lakukan?. Ekskul seni hari ini, aku benar-benar kehilangan semangat, tubuhku bagai tak bertulang hingga benar-benar membuatku layu seperti bunga yang tidak disiram air dua bulan. Bukan hanya karena kehilangan formulir dan novel itu, tetapi juga karena pengaruh kesehatanku yang semakin menurun karena terlalu banyak aktivitas yang aku lakukan.

            Sepulang sekolah, saat hendak memasuki gang rumahku, tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki yang suaranya tak asing ditelinga memanggil namaku. Spontan aku hentikan laju roda sepedaku secara mendadak hingga aku terjatuh dengan sepedaku.

Hey!, lo enggak apa-apa kan?” Tanyanya. Rasa sakit akibat terjatuh pun seketika hilang karenanya. “Dia! ... dia!” gumamku. Ternyata lelaki berlesung pipi itulah yang memanggilku dan mendekatiku. Ia berusaha meniup-niup luka memar di kakiku. Tak pernah kurasakan sedekat ini dengan seorang lelaki. Tapi dia ... “for the first time!” batinku melintir.

“Aku enggak apa-apa kok!” ucapku sok imut.

“Syukur deh” ia menghela napas dan tersenyum.

“Andin Syafira?” panggilnya seperti bertanya. Aku bengong.

“Emm ... nama lo Andin Syafira kan? lo lahir di Malang, 17 Agustus 1996” jelasnya membuatku tak percaya ia tahu sedetail itu.

“Iya, Aku” jawabku dengan pede.

“Gue yang nemuin formulir lomba lukis lo di cafe kemarin. Gue tahu alamat ini  juga dari formulir ini. Sorry ya?” ucapnya memberikan berkas formulir dan segala persyaratan lomba lukisku. Formulir yang tadinya hanya kuselipkan di novel Harry Potter, kini berubah menjadi sebingkis berkas rapi darinya.

“Iya, justru aku yang berterimakasih sama kamu” kuambil berkas itu dari tangannya. Dan kuperiksa kelengkapan berkas formulir itu.

“Loh loh ... novelku mana?” Aku terkejut, karena novel kesayanganku tidak ada sebagaimana mestinya.

“Gue lupa bawa novelnya, Sorry ya?” jawabnya seperti beralasan.

“Terus, foto 3 x 4 aku kok tinggal dua? Harusnya kan ada 3. Itu ketinggalan juga?” tanyaku lagi.

“Owh ... kalau itu gue enggak tahu. Foto kan benda kecil, mungkin aja jatuh atau hilang” ulasnya membuatku tidak yakin.

“Aduh!, gawat! formulir ini harus aku serahkan hari ini. Karena hari ini hari terakhir pendaftaran.” Kataku bangkit dari posisi jatuh.

“Eh!, terus foto lo giamana dong? Kan kurang satu?” tanyanya seperti ketakutan.

“Yang penting aku kumpulin formulir dulu. Terakhir jam 5 sore ini!” aku gugup. Dan ia pun gugup.

“Lo pasti punya simpanan foto yang lain kan?” ia masih membahas fotoku yang hilang.

“Udah enggak ada lagi, itu juga sisa foto rapot kelas X. Udah ya aku mau pergi sekarang!” aku mulai menaiki sepedaku.

“Gue ikut !!” teriaknya.

“Ya udah ayo cepetan!” teriakku mengayuh sepedaku sekencang-kencangnya. Ia pun mengayuh sepeda fixienya yang kulihat masih baru.

Hey! Tungguin gue!!” teriaknya. Kali ini aku tak memperdulikannya yang jauh tertinggal dariku. Sesampainya di tempat, aku segera memberikan formulir itu tepat dipukul 17:00 WIB. Napasku yang ngos-ngosan, membuat panitia lomba lukis memaklumi  kurangnya foto dalam persyaratanku. “leganya!!” ujarku menghela napas. Namun, tiba-tiba aku teringat dengan lelaki berlesung pipi itu. Di manakah dia?. Tak lama saat aku duduk dan menegak sebotol minuman, ia pun datang dengan napas yang ngos-ngosan. Wajahnya terlihat bete.

Sorry ya aku tinggal. Habisnya aku takut terlambat ngasih formulir.” Kataku memberi minum untuknya. Tanpa basa-basi ia meneguk minumku sampai tak tersisa. Dan dengan terpaksanya aku biarkan keringat-keringat kecil berjatuhan dari pelipisnya.

“Baru kali ini gue ketemu cewe yang sok kenal banget sama gue!” ucapnya menyadarkanku bahwa dari kemarin sampai saat ini bertemu, aku tidak tahu siapa namanya. Separah inikah aku, jika bertemu malaikat setampan dia?.

“Owh ... iya. Siapa nama kamu?” tanyaku tertawa kecil.

“Yoga” jawabnya singkat.

“Salam kenal ya? aku Andin”

“Cuma salam kenal aja?” tanyanya membuatku berpikir keras apa maksudnya.

“Owh iya salam kenal juga buat teman kamu yang motret-motret orang tanpa izin dan baru bisa nyetir mobil itu.”

“Namanya Ari. Dia sahabat gue dari kecil” jawabnya memelas.

“Owh iya, lo jangan GR ya. Gue ikut ke sini karena memastikan aja kalau tanpa adanya persyaratan satu foto, lo bisa tetap ikut lomba ini”. Ucapnya meninggalkanku sendiri.  Mengapa dia begitu perduli dengan lomba lukisku? dia hanyalah seseorang yang baru aku kenal. Sepanjang jalan menuju ke rumah, otakku tak bisa berhenti untuk tidak memikirkannya. Tapi aku tak ingin pertemuanku dengannya hanya sampai di sini. Apa yang membuatku takut kehilangannya? gerak kakiku semakin cepat mengayuh sepeda, hingga tanpa kusadari begitu jauh aku menyusuri jalan kecil ini hanya untuk mendapatkan biaya berobat. Kepalaku terasa pusing dan napasku sudah tidak terkontrol lagi. Butiran bening terasa mengambang di pelupuk mata, hingga membuat penglihatanku terhalang. Kuhentikan laju roda sepedaku. Dan aku terdiam, Tuhan ... aku lelah, aku ingin semua harapanku menjadi nyata. Aku takut kondisiku menurun saat lomba lukisku dimulai. Hanya itulah satu-satunya harapanku untuk menyambung hidup dikemudian hari.

            Hari-hari terus kulalui sambil menunggu datangnya hari perlombaan. Latihan demi latihan pun kulakukan untuk mencapai hasil yang maksimal. Tak perduli bagaimana Tuhan memberikan cuaca yang amat extreme ini untukku, yang aku tahu Tuhan akan selalu ada di dekatku dan Tuhan tidak akan membiarkanku gagal ketika apa yang aku lakukan adalah sungguh-sungguh. Saat pulang sekolah bersama Siska, aku dikejutkan dengan kehadiran Yoga dan Ari yang sedang berdiri di depan gerbang sekolah layaknya satpam yang akan menghukum siswa yang terlambat.

“Andin!!, itu Yoga. Anak SMA 1 yang lagi PDKT sama aku” bisik Siska menggenggam erat tanganku. Begitu terkejutnya aku mendengar kata-kata itu. Rasanya kaki ini sulit untuk melangkah lebih dekat dengannya. Sulit untuk dipercaya jika sms dua hari lalu dari Ari yang menyebutkan bahwa selama ini Yoga menyimpan 1 foto 3 x 4, yang ia ambil dari persayaratan lombaku. Tapi ternyata ia menyukai wanita lain yang tak lain adalah sahabatku, Siska. Untuk apa itu semua? Ini hanya akan menyakitkan hatiku. Dan ini lebih sakit dari penyakit yang selama ini kurasa. Apa ini? entahlah. Aku tak ingin menyakiti sahabatku sendiri, tapi aku juga tak ingin membodohi perasaanku yang selama ini hanya bisa bertahan karenanya. Aku kembali berharap agar Tuhan memberiku kesempatan untuk merasakan cinta dari seseorang yang sangat aku sayangi.

Hey ... kalian sudah saling kenal ya? hehe” sapa Ari cengingisan.

“Owh, memangnya kalian juga sudah kenal sama Andin?” tanya Siska.

“Iya, gue udah kenal Andin sekitar sebulan lebih gitu ya Ndin?” jawab Yoga santai. Aku hanya tersenyum. Karena tak banyak kata yang dapat aku ucapkan. Ia benar-benar tak mengerti perasaanku. Aku sangat sakit dan ini benar-benar membuatku jatuh.

“Owh iya Ndin, novel lo ada di Ari. Jadi kalau mau nagih novel jangan ke gue lagi ya? tapi ke Ari” kata Yoga.

“Ya udah Ndin, Ri. Kita duluan ya?” pamit Siska meninggalkanku dan Ari.

“Mereka mau ngedate Ndin. Gue juga mau ngedate nih sama nyokap. Hehe. Gue duluan ya?” Ari pun meninggalkanku. Airmataku mulai menetes seiring berjalannya laju sepeda. Hatiku hancur, rapuh, dan jiwaku seperti tak hidup lagi. Perasaan apa ini? Seumur hidup baru kali ini aku merasakan perasaan yang sangat sakit.

            Seminggu berlalu, entah apa yang terjadi hingga harus membatalkan lomba lukisku hari ini. Langkah yang tergesa-gesa sangat jelas terdengar di telingaku. Bukan lagi suara Yoga yang masih jelas kudengar  saat pertama kalinya ia  meniup lukaku. Tetapi suara air yang menetes dari botol bening dengan selang kecil yang menyatu dengan urat nadiku, yang kulihat bergelantungan di atas baringanku. Napasku tersendat, batinku lara, dan pikiranku kosong, bagaikan tidak ada lagi kekuasaan Tuhan yang dapat kulukis. Rupanya aku sedang berada di ruangan yang sangat kubenci, yaitu ruang inap rumah sakit. Semua orang yang berada di ruangan ini pun berpakaian sama, dengan mengenakan penutup kepala, masker, dan sarung tangan. Sudah separah itukan aku? Hingga mengharuskan mereka seperti itu?. Penglihatanku kabur dan seperti malam tanpa adanya bulan dan bintang. Siska datang menjengukku bersama Yoga. Bahkan mereka memberitahuku bahwa mereka resmi berpacaran. Bukan kesembuhan yang aku dapatkan lagi dari dua orang yang biasanya membuatku ceria itu. Namun, sebuah rasa sakit yang tak akan pernah kulupa. Aku yakin, jika Siska tahu bahwa aku menyukai Yoga, ia tak akan memberitahu kabar itu, bahkan ia tak akan memperdulikan Yoga lagi, demi aku. Mungkin itulah keajaiban Cinta yang tak akan dapat terkalahkan oleh apapun. Rasa sakit itu masih dapat kutahan saat ibu menggenggam tanganku yang dingin. Dia adalah seseorang yang memaksa mataku tak ingin tidur selamanya. Entahlah, baru kusadari disaat keadaanku seperti ini, begitu banyak orang yang masih menyayangiku. Aku tetap menjadi sahabatmu, Siska.



Created by :

Hasniar Rahmawati – Novi Suhaesti

[ Sabtu, 03 November 2012 ]





Tidak ada komentar: