KAU DAN AYAH
Oleh : Hasniar Rahmawati.
Jum’at , 09
November 2012
Seumur hidupku, aku tak pernah
merasakan bagaimana rasanya pelukan seorang ibu, aku tak pernah merasakan kasih
sayang dari seseorang yang telah melahirkanku itu. Dan kini, ayahku pun tak pernah
memperdulikan aku lagi. Sudah satu minggu aku pergi dari rumah, aku pergi ke
rumah Gadis, sahabatku. Aku tahu apa yang aku lakukan ini salah. Tapi, apakah
ayah juga akan merasakan hal yang sama saat merasa bersalah meninggalkanku?.
Aku tak ingin berlarut-larut dalam kesedihanku ini, rasa sedih itu hilang saat
aku bersama Gadis, seseorang yang selalu membuat hariku berwarna. Aku berlarian
di tengah perkebunan teh yang sejuk ini, aku tak perduli dengan hujan yang
mengguyur tubuhku.Aku terus berlari dan berteriak memanggil namanya yang telah pergi meninggalkanku jauh. Dengan napasku yang kesah dan berlinangan air mata aku melihatnya dari bukit ini. Sejenak aku terdiam dan memikirkan apa yang telah terjadi padaku. Aku merelakannya pergi bersama Andi, kekasihnya. Aku terenyah di tempat yang sepi ini, dan aku kembali menangis seperti kehilangan sesuatu yang begitu berharga dalam hidupku. Sepertinya aku merasakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Mengapa aku harus menangis? Apa aku sudah gila?, jika sahabat kecilku yang anggun harus aku tangisi dalam keadaan seperti ini?. Tuhan ... mengapa Gadis melupakanku saat bersama kekasihnya? Bahkan ia lebih bahagia saat bersama Andi dari pada saat bersama denganku.
“Fania?” panggil seorang wanita padaku.
“Gadis?” ia kembali padaku dan
memelukku erat.
“Andi mutusin gue Fan, Andi mutusin
gue!” tangisnya, dan pelukannya semakin erat terasa. Kucoba melepaskan
pelukannya dan menghapus airmatanya.
“Ada gue di sini, Dis!” ucapku. Dan ia pun
kembali memelukku dengan isak tangisnya yang membuatku tak ingin pergi. Aku
senang mendengar kabar bahagia ini, namun begitu sulitnya bagiku melihat Gadis
menangis.
“Sudah sore, yuk kita pulang!” ajakku.
Ia masih menangis. Segalau apakah tangisan itu? Atau lebih dari galau yang
kurasa? aku terus menenangkannya.
Sabtu,
29 Agustus 2009. Aku menikmati kesendirianku di balkon rumahnya. Tak seperti
biasanya ia selalu ceria saat bintang berkelip menemani malamnya. Tapi kali
ini, ia hanya merenung di sudut kamarnya. Kuhampiri dia, namun “Please, leave me alone!” ucapnya pelan.
Aku pun kembali menutup pintu kamarnya.
“Fania, ada apa dengan Gadis?” tanya
ibunya padaku.
“Gadis baru putus dari Andi, Tante!”
“Iya, tante mengerti. Emm Fania, apa
belum ada kabar juga dari ayah kamu?” tanya tante.
“Belum tan, mungkin ayah sedang sibuk”
jawabku.
“Tapi setidaknya kamu menghubungi ayah
kamu Fan, jangan sampai ayah kamu khawatir.”
“Iya tante, nanti saya coba hubungin.
Saya permisi dulu tante” pamitku. Karena aku sedang tidak ingin membahas tentang
ayah yang sama sekali tidak pernah perduli padaku. Namun, entah mengapa setiap
aku dekat dengan seorang wanita, terutama Gadis, aku selalu merasakan hangat
kasih sayang dari setiap orang yang sangat aku sayangi. Terlebih tante Any,
ibunda Gadis yang sangat menyayangiku seperti anaknya sendiri. Aku benar-benar
tidak ingin pergi dari rumah ini.
Hari
berganti, saatnya bermain. Entah apa yang terjadi, hari ini Gadis sangat ceria.
Bahkan lebih ceria dari hari biasa, sebelum putus dengan Andi. Tapi anehnya,
hari ini dia sedang bersama Andi. Apa arti tangisannya di pelukanku dua hari
lalu?.
“Dis, kok lo sama Andi lagi?” tanyaku
bingung.
“Kita sudah bersama lagi Fan, kemarin Andi
minta maaf sama gue, dan Andi minta kita balikan.” jelasnya membuatku terkejut.
Aku masih tak percaya mengapa cinta begitu mudah untuk dipermainkan. Dan aku
juga tak percaya begitu mudahnya Gadis
menerima seseorang yang sudah membuatnya berantakan.
“Owh ... syukur deh. Semoga kalian
bahagia ya?” ucapku terpaksa. Begitu beratnya aku melepas Gadis pergi
meninggalkanku lagi untuk kedua kalinya. Tak ada seorang pun yang membuatku
nyaman ketika aku di sisi seseorang.
Hanya Gadislah yang mampu melakukan itu padaku.
Malam
pun tiba, saat aku tidak dapat memejamkan mata karena sahabatku yang hampir
melupakanku itu, aku pun mencoba untuk menemuinya. Namun saat kuketuk pintu
kamarnya yang berada tepat di samping kamarku, aku mendengar suaranya di taman
rumah. Ia sedang bersama Andi. Tak biasanya sudah larut malam ia belum tidur. Kehebatan
apa yang Andi punya? hingga mampu membuatnya seceria ini. Aku sadar, mengapa
Tuhan tak pernah memberi kesempatan padaku untuk menyayanginya lebih. Karena
aku hanyalah wanita konyol yang secara tidak langsung melarangnya untuk
berpacaran, aku takut apa yang akan terjadi padanya sama dengan orangtuaku,
semenjak aku tak diperdulikan ayah lagi, aku benci dengan laki-laki. Saat ini aku
hanya ingin kasih sayang dari seorang wanita, aku hanya ingin merasakan
bagaimana rasanya dicintai oleh wanita. Aku hanya ingin itu. Aku menangis, aku
mulai cengeng saat teringat ibuku yang telah tiada, hanya ayahlah satu-satunya
keluarga yang aku punya. Hanya kasih sayang darinyalah yang saat ini harusnya
kuharapkan.
“Ayah ... ini Fania, ayah apa kabar?”
tanyaku saat menelphone ayah.
“Fania, ayah sangat merindukan Fania.
Seminggu yang lalu Handphone ayah rusak, semua nomor-nomor penting di handphone
ayah hilang, dan ayah tidak dapat menghubungi siapa-siapa, termasuk Fania.
Kenapa Fania tidak menghubungi ayah, Nak?” balas ayah. Aku tak sanggup lagi
membendung rasa rinduku pada ayah yang
tiba-tiba hadir ini. Aku tak ingin ayah mendengar isak tangisku. Dan kuakhiri
pembicaraan itu.
“Maafkan Fania yah!. Fania salah!”
teriakku. Tiba-tiba Tante Any datang dan memelukku erat, ternyata pelukan itu
lebih hangat dari pelukan Gadis.
“Fania, ayah kamu sangat menyayangi
kamu lebih dari yang kamu tahu, sayang!” aku mengusap air mataku dan kembali
tersenyum.
Waktu pun terus berputar, aku hanya
menikmati kesepianku bersama sahabat dan teman-temanku di kampus. Karena ayah
pernah mengatakan sesuatu padaku “Walaupun kita sendiri, tetapi Tuhan selalu
menemani kita dimanapun kita berada”. Hari ini adalah hari yang istimewa untuk
menyambut kedatangan ayah. Setibanya ayah di rumah Gadis, ia mengajakku kembali
ke rumah. Ia sedih melihatku berada di sini. Ia kecewa denganku karena tak
berada di rumahku sendiri. Lantas apa yang dapat membantuku untuk hilangkan
rasa kecewa ayah?. Kuharap, kasih sayangnya akan selalu bersamaku walaupun ia
jauh dariku. “Maafkan aku ayah” batinku.
Ayah
tak pernah melarangku untuk menemui tante Any, Om Bagus suaminya dan Gadis,
putri semata wayangnya yang tak lain adalah sahabatku sendiri. Bertepatan hari
ibu, 22 desember 2009, aku menemui tante
Any bersama ayah. Ketukan lembut untuk seseorang yang luar biasa dalam sejarah.
“Fania? Ayo masuk?” sambut tante Any
hangat. Lalu, aku dan ayah masuk ke dalam istana yang sangat harmonis ini. Om
Bagus mempersilahkan kami untuk duduk.
“Selamat hari ibu ya, Tante?” ucap dan
pelukku pada tante Any. Namun, entah apa yang terjadi. Bahuku basah dengan
tetesan air mata yang keluar dari mata indah wanita kepala tiga itu. Ia
menangis tersedu-sedu dengan mengusap rambutku yang tak pernah lepas dari
kepangan. Pelukan itu sangat terasa. Hangat, dan sangat lekat dengan hatiku
yang sedang menangis. Aku tersenyum. Begitu indahnya detik ini, hingga semua
luka terasa hilang dalam balutan cinta seorang wanita hebat. Tuhan, aku
bahagia, namun apakah sehangat ini pelukan dan sayangnya almarhumah Ibuku?. Saat teringat Gadis, aku melepaskan pelukan
itu. Dimana sahabatku itu? Apakah ia lupa ini adalah hari yang sangat istimewa
untuk ibunya?. Apakah ia sedang bersama Andi, kekasihnya? Entahlah, aku tak
mengerti pada semua orang. Terutama pada wanita seusiaku, mereka lebih memilih
untuk menghabiskan waktu bersama kekasihnya saat hari kebahagiaan para ibu. Ada
atau sudah tidak adanya diri-Mu Ibu, kami selalu merasakan kasih dan cinta-Mu.
Terimakasih Ibu, kau telah memilih pendamping yang tak pernah membuatku marah
saat kau tinggalkan sekalipun. Ayah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar