Sabtu, 22 Desember 2012

^KAU DAN AYAH^



KAU DAN AYAH 
Oleh : Hasniar Rahmawati. 
Jum’at , 09 November 2012

Seumur hidupku, aku tak pernah merasakan bagaimana rasanya pelukan seorang ibu, aku tak pernah merasakan kasih sayang dari seseorang yang telah melahirkanku itu. Dan kini, ayahku pun tak pernah memperdulikan aku lagi. Sudah satu minggu aku pergi dari rumah, aku pergi ke rumah Gadis, sahabatku. Aku tahu apa yang aku lakukan ini salah. Tapi, apakah ayah juga akan merasakan hal yang sama saat merasa bersalah meninggalkanku?.
Aku tak ingin berlarut-larut dalam kesedihanku ini, rasa sedih itu hilang saat aku bersama Gadis, seseorang yang selalu membuat hariku berwarna. Aku berlarian di tengah perkebunan teh yang sejuk ini, aku tak perduli dengan hujan yang mengguyur tubuhku.
Aku terus berlari dan berteriak memanggil namanya yang telah pergi meninggalkanku jauh. Dengan napasku yang kesah dan berlinangan air mata aku melihatnya dari bukit ini. Sejenak aku terdiam dan memikirkan apa yang telah terjadi padaku. Aku merelakannya pergi bersama Andi, kekasihnya. Aku terenyah di tempat yang sepi ini, dan aku kembali menangis seperti kehilangan sesuatu yang begitu berharga dalam hidupku. Sepertinya aku merasakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Mengapa aku harus menangis? Apa aku sudah gila?, jika sahabat kecilku yang anggun harus aku tangisi dalam keadaan seperti ini?. Tuhan ... mengapa Gadis melupakanku saat bersama kekasihnya? Bahkan ia lebih bahagia saat bersama Andi dari pada saat bersama denganku.  
“Fania?” panggil seorang wanita padaku.
“Gadis?” ia kembali padaku dan memelukku erat.
“Andi mutusin gue Fan, Andi mutusin gue!” tangisnya, dan pelukannya semakin erat terasa. Kucoba melepaskan pelukannya dan menghapus airmatanya.
“Ada gue di sini, Dis!” ucapku. Dan ia pun kembali memelukku dengan isak tangisnya yang membuatku tak ingin pergi. Aku senang mendengar kabar bahagia ini, namun begitu sulitnya bagiku melihat Gadis menangis.
“Sudah sore, yuk kita pulang!” ajakku. Ia masih menangis. Segalau apakah tangisan itu? Atau lebih dari galau yang kurasa? aku terus menenangkannya.
            Sabtu, 29 Agustus 2009. Aku menikmati kesendirianku di balkon rumahnya. Tak seperti biasanya ia selalu ceria saat bintang berkelip menemani malamnya. Tapi kali ini, ia hanya merenung di sudut kamarnya. Kuhampiri dia, namun “Please, leave me alone!” ucapnya pelan. Aku pun kembali menutup pintu kamarnya.
“Fania, ada apa dengan Gadis?” tanya ibunya padaku.
“Gadis baru putus dari Andi, Tante!”
“Iya, tante mengerti. Emm Fania, apa belum ada kabar juga dari ayah kamu?” tanya tante.
“Belum tan, mungkin ayah sedang sibuk” jawabku.
“Tapi setidaknya kamu menghubungi ayah kamu Fan, jangan sampai ayah kamu khawatir.”
“Iya tante, nanti saya coba hubungin. Saya permisi dulu tante” pamitku. Karena aku sedang tidak ingin membahas tentang ayah yang sama sekali tidak pernah perduli padaku. Namun, entah mengapa setiap aku dekat dengan seorang wanita, terutama Gadis, aku selalu merasakan hangat kasih sayang dari setiap orang yang sangat aku sayangi. Terlebih tante Any, ibunda Gadis yang sangat menyayangiku seperti anaknya sendiri. Aku benar-benar tidak ingin pergi dari rumah ini.
            Hari berganti, saatnya bermain. Entah apa yang terjadi, hari ini Gadis sangat ceria. Bahkan lebih ceria dari hari biasa, sebelum putus dengan Andi. Tapi anehnya, hari ini dia sedang bersama Andi. Apa arti tangisannya di pelukanku dua hari lalu?.
“Dis, kok lo sama Andi lagi?” tanyaku bingung.
“Kita sudah bersama lagi Fan, kemarin Andi minta maaf sama gue, dan Andi minta kita balikan.” jelasnya membuatku terkejut. Aku masih tak percaya mengapa cinta begitu mudah untuk dipermainkan. Dan aku juga tak percaya begitu mudahnya Gadis  menerima seseorang yang sudah membuatnya berantakan.
“Owh ... syukur deh. Semoga kalian bahagia ya?” ucapku terpaksa. Begitu beratnya aku melepas Gadis pergi meninggalkanku lagi untuk kedua kalinya. Tak ada seorang pun yang membuatku nyaman  ketika aku di sisi seseorang. Hanya Gadislah yang mampu melakukan itu padaku.
            Malam pun tiba, saat aku tidak dapat memejamkan mata karena sahabatku yang hampir melupakanku itu, aku pun mencoba untuk menemuinya. Namun saat kuketuk pintu kamarnya yang berada tepat di samping kamarku, aku mendengar suaranya di taman rumah. Ia sedang bersama Andi. Tak biasanya sudah larut malam ia belum tidur. Kehebatan apa yang Andi punya? hingga mampu membuatnya seceria ini. Aku sadar, mengapa Tuhan tak pernah memberi kesempatan padaku untuk menyayanginya lebih. Karena aku hanyalah wanita konyol yang secara tidak langsung melarangnya untuk berpacaran, aku takut apa yang akan terjadi padanya sama dengan orangtuaku, semenjak aku tak diperdulikan ayah lagi, aku benci dengan laki-laki. Saat ini aku hanya ingin kasih sayang dari seorang wanita, aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh wanita. Aku hanya ingin itu. Aku menangis, aku mulai cengeng saat teringat ibuku yang telah tiada, hanya ayahlah satu-satunya keluarga yang aku punya. Hanya kasih sayang darinyalah yang saat ini harusnya kuharapkan.
“Ayah ... ini Fania, ayah apa kabar?” tanyaku saat menelphone ayah.
“Fania, ayah sangat merindukan Fania. Seminggu yang lalu Handphone ayah rusak, semua nomor-nomor penting di handphone ayah hilang, dan ayah tidak dapat menghubungi siapa-siapa, termasuk Fania. Kenapa Fania tidak menghubungi ayah, Nak?” balas ayah. Aku tak sanggup lagi membendung rasa rinduku pada  ayah yang tiba-tiba hadir ini. Aku tak ingin ayah mendengar isak tangisku. Dan kuakhiri pembicaraan itu.
“Maafkan Fania yah!. Fania salah!” teriakku. Tiba-tiba Tante Any datang dan memelukku erat, ternyata pelukan itu lebih hangat dari pelukan Gadis.
“Fania, ayah kamu sangat menyayangi kamu lebih dari yang kamu tahu, sayang!” aku mengusap air mataku dan kembali tersenyum.
Waktu pun terus berputar, aku hanya menikmati kesepianku bersama sahabat dan teman-temanku di kampus. Karena ayah pernah mengatakan sesuatu padaku “Walaupun kita sendiri, tetapi Tuhan selalu menemani kita dimanapun kita berada”. Hari ini adalah hari yang istimewa untuk menyambut kedatangan ayah. Setibanya ayah di rumah Gadis, ia mengajakku kembali ke rumah. Ia sedih melihatku berada di sini. Ia kecewa denganku karena tak berada di rumahku sendiri. Lantas apa yang dapat membantuku untuk hilangkan rasa kecewa ayah?. Kuharap, kasih sayangnya akan selalu bersamaku walaupun ia jauh dariku. “Maafkan aku ayah” batinku.
            Ayah tak pernah melarangku untuk menemui tante Any, Om Bagus suaminya dan Gadis, putri semata wayangnya yang tak lain adalah sahabatku sendiri. Bertepatan hari ibu,  22 desember 2009, aku menemui tante Any bersama ayah. Ketukan lembut untuk seseorang yang luar biasa dalam sejarah.
“Fania? Ayo masuk?” sambut tante Any hangat. Lalu, aku dan ayah masuk ke dalam istana yang sangat harmonis ini. Om Bagus mempersilahkan kami untuk duduk.
“Selamat hari ibu ya, Tante?” ucap dan pelukku pada tante Any. Namun, entah apa yang terjadi. Bahuku basah dengan tetesan air mata yang keluar dari mata indah wanita kepala tiga itu. Ia menangis tersedu-sedu dengan mengusap rambutku yang tak pernah lepas dari kepangan. Pelukan itu sangat terasa. Hangat, dan sangat lekat dengan hatiku yang sedang menangis. Aku tersenyum. Begitu indahnya detik ini, hingga semua luka terasa hilang dalam balutan cinta seorang wanita hebat. Tuhan, aku bahagia, namun apakah sehangat ini pelukan dan sayangnya almarhumah Ibuku?.  Saat teringat Gadis, aku melepaskan pelukan itu. Dimana sahabatku itu? Apakah ia lupa ini adalah hari yang sangat istimewa untuk ibunya?. Apakah ia sedang bersama Andi, kekasihnya? Entahlah, aku tak mengerti pada semua orang. Terutama pada wanita seusiaku, mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama kekasihnya saat hari kebahagiaan para ibu. Ada atau sudah tidak adanya diri-Mu Ibu, kami selalu merasakan kasih dan cinta-Mu. Terimakasih Ibu, kau telah memilih pendamping yang tak pernah membuatku marah saat kau tinggalkan sekalipun. Ayah.
                                                           

Tidak ada komentar: