SEKETIKA GALAU
Oleh : Raniar Abbas
Kamis, 10 januari 2013
Gerakan matanya sungguh tidak dapat dipungkiri
jika saat ini ia sedang memandangku tanpa berkedip sedikit pun. Matanya
berbicara seakan mengajak hatiku untuk bergerak. Dua jam berlalu, seminar cinta
dan kita yang diadakan oleh organisasinya telah usai. Semua peserta seminar
berdesakan keluar dari auditorium kampus. Yang kulihat, pria beralmamater kuning
itu terus memantauku dari jauh. Entah ada apa, ia terus memantauku tanpa
mendekatiku untuk berbasa-basi atau berkenalan. Kali ini, aku coba mengalihkan
penglihatanku padanya, namun dengan cepat ia seperti tak perduli denganku yang
sedari tadi ia lihat. Beginikah caranya membuatku penasaran? Apakah tidak ada
cara yang lebih aku suka? Sungguh pria yang aneh. Seminggu berlalu, rasanya
sulit sekali menghilangkan rasa penasaranku ini darinya. Pria berkacamata yang
kuperkirakan berusia 20 tahun itu, saat ini sedang berada di hadapanku. Namun,
saat kami berpapasan, ia sama sekali tak melihatku. Apa yang ia mau?. Rasanya
ingin sekali aku menengok ke belakang untuk memastikan ia sedang melihat ke arahku
atau tidak, tetapi Tuhan tidak mengizinkan. Entahlah, ia adalah lelaki yang
mampu membuatku tersenyum sendiri saat mengingatnya.
