Jumat, 23 November 2012

HUJAN DAN HAIKAL


FF. Selasa, 13 November 2012
Hujan dan Haikal
Oleh : Hasniar Rahmawati

Hujan yang membawa langkahku berhenti di sini. Berhenti tepat di atas kebahagiaan yang sedang menghampiriku. Aku percaya mengapa Tuhan menciptakan makhluk tampan yang sedang berdiri di sampingku. Itu karena aku selalu berdoa untuk kembali dipertemukan dengannya. ia adalah Haikal. Seragamnya terlihat basah, meskipun tak kuyup. ia setengah menggigil ketika rintikan air berjatuhan dari langit. ia masih tak melihatku, meski aku pun terlihat menggigil karena dinginnya hujan. Sejenak aku tertunduk, dan aku tersenyum karena teringat semua kenanganku dengannya saat masa putih biru yang dulu sempat mewarnai hariku.
“Vira?” sapanya seperti bertanya. Aku terkejut ia masih mengenaliku. Bibirku kaku dan tak dapat berucap.

“Hey, ini aku Haikal. Kamu masih ingat kan?” tanyanya lagi membuatku tersenyum. ia tertawa kecil sambil memegang kedua bahuku. Aku masih tak percaya mengapa dulu kuputuskan lelaki setampan ini.
“Akhirnya kita bertemu lagi. Tuhan selalu tahu apa yang harus kita lakukan. Mungkin enggak ya kita bisa bersama lagi?” tanyanya membuatku semakin melebarkan senyum.
“Mungkin kok!” jawabku. ia beralih menatapku lebih serius. ia menghela napas dan tersenyum.
“Owh iya, ini nomor handphone aku!” ucapnya memberikan sehelai kertas kecil berisi nomor handphonenya dan tampak tergesa-gesa. Aku hanya menyunggingkan senyum.
“Aku mau pergi dulu. Semoga kita bertemu lagi. Bye!” ia meninggalkanku di saat hujan mulai reda. Hangat tangannya masih terasa di bahuku. Setelah cukup lama, pelangi menyambutku dengan bahagia. Aku masih duduk di halte ini. Rasanya aku tak ingin pulang. Aku masih ingin bertemu dengannya. Aku sangat merindukannya setelah hubungan kami putus empat tahun silam karena kepindahannya ke Surabaya. Entahlah ... setiap hujan turun, aku teringat dengannya. Dan kini, aku kembali bertemu dengannya saat hujan datang.
Sebulan berlalu begitu cepat, dengan mendengarkan lagu Bruno Mars-it will rain, aku hanya memandangi nomor handphonenya di kasur tempat aku memimpikannya. Ingin sekali aku menghubunginya. Namun, aku ingin tahu kebenaran perasaannya sekarang padaku. Aku yakin, jika ia masih mencintaiku, ia akan berusaha menghubungiku entah bagaimana caranya. Lelah rasanya, aku hanya berharap tanpa adanya suatu kepastian. Apa yang harus aku lakukan?. Tuhan ... apakah saat ini ia merasakan apa yang aku rasakan? Yaitu galau.  Rasanya hanya mimpi, saat sebulan lalu bertemu dengannya. Aku terlalu sombong. Kini, Tiada lagi yang bisa menghalangiku untuk menangis, tiada lagi yang memandangku, tiada lagi yang mampu menghangatkan hatiku dari dinginnya hujan. Betapa ajaibnya hidup ini, dan betapa menyesalnya aku saat ini telah melihatnya terbaring kaku saat musim hujan tiba. Leukemia yang telah merenggut nyawanya. Airmataku terjatuh mengiringi jatuhnya hujan. Aku tahu ia tak akan tersenyum saat melihatku menangis. Namun, aku ingat bagaimana ia menyayangiku, saat kami bersama, bahkan saat sebulan lalu ia tergesa-gesa meninggalkanku, itu semua ia lakukan untuk menjaga hidupnya agar dapat bersamaku lagi. Tuhan ... begitu sempurnanyakah dirinya?, hingga membuatku jatuh seegois ini? Aku menyesal.



                                                                                         Category : Flash Fiction                                                  


Tidak ada komentar: