FF. Selasa, 13 November 2012
Hujan dan Haikal
Oleh : Hasniar Rahmawati
Hujan
yang membawa langkahku berhenti di sini. Berhenti tepat di atas kebahagiaan
yang sedang menghampiriku. Aku percaya mengapa Tuhan menciptakan makhluk tampan
yang sedang berdiri di sampingku. Itu karena aku selalu berdoa untuk kembali
dipertemukan dengannya. ia adalah Haikal. Seragamnya terlihat basah, meskipun
tak kuyup. ia setengah menggigil ketika rintikan air berjatuhan dari langit. ia
masih tak melihatku, meski aku pun terlihat menggigil karena dinginnya hujan.
Sejenak aku tertunduk, dan aku tersenyum karena teringat semua kenanganku
dengannya saat masa putih biru yang dulu sempat mewarnai hariku.
“Vira?” sapanya
seperti bertanya. Aku terkejut ia masih mengenaliku. Bibirku kaku dan tak dapat
berucap.
“Hey, ini aku
Haikal. Kamu masih ingat kan?” tanyanya lagi membuatku tersenyum. ia tertawa
kecil sambil memegang kedua bahuku.
Aku masih tak percaya mengapa dulu kuputuskan lelaki setampan ini.
“Akhirnya
kita bertemu lagi. Tuhan selalu tahu apa yang harus kita lakukan. Mungkin
enggak ya kita bisa bersama lagi?” tanyanya membuatku semakin melebarkan
senyum.
“Mungkin
kok!” jawabku. ia beralih menatapku lebih serius. ia menghela napas dan
tersenyum.
“Owh
iya, ini nomor handphone aku!”
ucapnya memberikan sehelai kertas kecil berisi nomor handphonenya dan tampak tergesa-gesa. Aku hanya menyunggingkan
senyum.
“Aku
mau pergi dulu. Semoga kita bertemu lagi. Bye!” ia meninggalkanku di saat hujan
mulai reda. Hangat tangannya masih terasa di bahuku. Setelah cukup lama,
pelangi menyambutku dengan bahagia. Aku masih duduk di halte ini. Rasanya aku
tak ingin pulang. Aku masih ingin bertemu dengannya. Aku sangat merindukannya
setelah hubungan kami putus empat tahun silam karena kepindahannya ke Surabaya.
Entahlah ... setiap hujan turun, aku teringat dengannya. Dan kini, aku kembali
bertemu dengannya saat hujan datang.
Sebulan berlalu begitu cepat, dengan mendengarkan lagu Bruno Mars-it will rain, aku hanya
memandangi nomor handphonenya di kasur
tempat aku memimpikannya. Ingin sekali aku menghubunginya. Namun, aku ingin
tahu kebenaran perasaannya sekarang padaku. Aku yakin, jika ia masih
mencintaiku, ia akan berusaha menghubungiku entah bagaimana caranya. Lelah
rasanya, aku hanya berharap tanpa adanya suatu kepastian. Apa yang harus aku
lakukan?. Tuhan ... apakah saat ini ia merasakan apa yang aku rasakan? Yaitu
galau. Rasanya hanya mimpi, saat sebulan
lalu bertemu dengannya. Aku terlalu sombong. Kini, Tiada lagi yang bisa
menghalangiku untuk menangis, tiada lagi yang memandangku, tiada lagi yang
mampu menghangatkan hatiku dari dinginnya hujan. Betapa ajaibnya hidup ini, dan
betapa menyesalnya aku saat ini telah melihatnya terbaring kaku saat musim
hujan tiba. Leukemia yang telah
merenggut nyawanya. Airmataku terjatuh mengiringi jatuhnya hujan. Aku tahu ia
tak akan tersenyum saat melihatku menangis. Namun, aku ingat bagaimana ia
menyayangiku, saat kami bersama, bahkan saat sebulan lalu ia tergesa-gesa
meninggalkanku, itu semua ia lakukan untuk menjaga hidupnya agar dapat
bersamaku lagi. Tuhan ... begitu sempurnanyakah dirinya?, hingga membuatku
jatuh seegois ini? Aku menyesal.
Category : Flash Fiction
Tidak ada komentar:
Posting Komentar