Rabu, 30 Januari 2013

^MASIH TENTANG RIZKY^



MASIH TENTANG RIZKY
Oleh : Hasniar Rahmawati
Senin, 10 Desember 2012 

Kebahagiaan itu datang ketika aku dan ia sama-sama terlahir di dunia. Itu semua adalah anugerah yang Tuhan berikan pada kami. Namun, semenjak ia pergi untuk meninggalkan semua yang ada di dunia, hidupku berubah drastis. Liku yang dulu terjalin bersamanya, nampak hilang begitu saja. Meski aku belum sempat menjadi kekasihnya atau bahkan menjadi pendamping hidupnya, tapi aku tetap merasa bahagia dan sangat bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan padaku. Ia sangat sempurna, ia mampu membuat hatiku tenang, namun penyesalan selalu datang ketika teringat lima hari sebelum kematiannya. Banyak cerita yang tak bisa aku lupakan saat bersama dengannya. Lima belas bulan yang lalu,
“ I have died everyday waiting for you ... Darling don't be afraid I have loved you ... For a thousand years ... I'll love you for a thousand more ... ” saat itu aku bernyanyi di kelas, aku menyanyikan sebuah lagu yang sangat aku suka A Thosand Years yang dipopulerkan oleh Christina Perri.
Seperti biasa, daripada harus pergi ke kantin saat istirahat tiba, aku lebih suka bernyanyi sambil memainkan gitar Nesa yang tak pernah absen untuk kupinjam. Dari dulu aku lebih menyukai kebahagiaan. Karena bagiku, itulah indahnya hidup. Kejadian yang hampir sama kembali terulang saat aku sedang bermain gitar sambil bernyanyi. Tiba-tiba ia datang. Kali ini ia datang bersama sahabatnya,  Ardi.
“Kalau gini ceritanya, lo harus segera ekskul musik Bel!” Saran Ardi memberi tepuk tangan untukku, sedangkan Rizky, ia hanya tersenyum melihatku. Mungkin, itu hanyalah sebagian kebahagiaan yang tak pernah aku bayangkan sebelum ia berani mengungkapkan perasaannya padaku. Aku kecewa, aku menangis, aku layu dan seperti tak akan segar lagi, ketika ia tak pernah lagi menghubungiku lewat sms atau telphone. Saat itu semuanya hancur, namun aku terus berjalan untuk mengejar waktu yang semakin jauh. Akhirnya, saat itu aku memutuskan untuk mengganti ekskul basketku dengan akskul musik. Sebelum hal itu aku jalani, aku dan tim basketku sempat mengadakan sparing bersama teman kelas yang lain. Permainan pun di mulai. Aku terus mencari di mana ia sekarang. Aku ingin ia melihatku untuk terakhir kalinya ekskul basket. Aku terus melihat kanan, kiri, belakang, depan, namun ia tak di sini bersama teman-teman kelasnya yang lain. Yang ku lihat hanya Ardi dan Nesa yang terus memberi semangat padaku. Keringatku mulai menetes seiring matahari yang memandangku. Saat layout terjadi, aku melihatnya di balkon lantai 3 sekolahku. Ia melihatku dari atas, ia tersenyum padaku. Ia sangat manis, ia tampan, ia baik, ia adalah Rizky. Semangatku mulai memuncak, skor 3 untuk timku, 1 untuk tim lawan. Sungguh pengorbanan luar biasa. Saat aku lihat ke balkon lantai 3 lagi, ia tidak ada di sana. ia tak melihatku lagi dari atas gedung. Aku tertunduk dan menghilangkan keringat di keningku.
“Bel!” aku menghentikan langkahku. Ini masih di lapangan. Ia memanggilku, Rizky yang memanggilku dan mendekatiku.
“Selamat ya?!” ia mengucapkan selamat atas kemenangan tim basketku dan mengulurkan tangannya untukku. Aku tertawa bahagia, saat ia menggenggam tanganku erat.
“Sama-sama, thanks juga ya lo udah mau nyempatin waktu buat nonton sparing gue”
“Sama-sama” jawabnya mengendurkan genggamannya dan melepaskan tanganku.
“Pulang sekolah, gue mau minta tolong temani beli gitar. Bisa?” pintanya.
“Bisa, kebetulan gue juga mau beli gitar.”
“O ya? ya udah, kita bareng ya?”
            Sesampainya di tempat, ia mencoba menggenjreng-genjrengkan gitarnya di depanku.  Setelah lama memilih akhirnya kami membeli jenis gitar yang sama. Dan saat itu, kami tidak langsung pulang, melainkan mengisi perut kami yang keroncongan di sebuah cafe di mall tersebut. Saat pertama memasuki cafe itu, lagu A thousand years pun sempat terdengar di telingaku.
“Lagu ini bagus ya?”  ucapnya.
“Iya, banget!”
“Ada kenangan sama lagu ini ya?” tanyanya.
“Nggak kok, isinya romantis, dan gue suka.”
“Owh, terus sama lagunya Ten2Five masih suka juga?” ia masih ingat lagu itu.
“Suka dong!”
“Kalau sama lagu itu pasti ada kenangannya, kenangannya waktu gue pilih lagu itu buat featuring Nesa pas Pensi. Iya kan? ngaku!”
“Hahaha, iya Ki.”
Begitu indahnya saat itu, kami tertawa, bahagia di tengah putaran lagu yang menambah indahnya suasana. Saat itu aku memohon pada Tuhan. “Tuhan ... jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku”. Sulit sekali bagiku menatap matanya yang tajam itu. Sulit sekali. Tapi inilah cinta. Sulit di terka dan mudah di rasakan. Perasaan yang seumur hidupku belum pernah terjadi. Hanya waktu yang dapat mengungkapkan semuanya. Setiap malam aku sering bahagia, aku sering tersenyum seperti manuasia bodoh yang mengharapkan cinta dari manusia lain yang tak pernah memberikan cintanya untukku. Aku selalu tersenyum sendiri saat melihat gitar baruku. Setiap saat aku jalani hari dengan kebahagiaan yang tiada tara sejak mengenalnya. Terlebih, sejak perceraian kedua orangtuaku, semangat hidupku mulai pupus. Dan kehadirannyalah yang mampu menghidupkan kembali lampu hariku.             Sebulan berlalu, gitar itu sempat terkena air hujan. Dan seperti pertanda Rizky akan menjauhiku, Gitar itu sempat rusak. Dan Ardilah yang membantuku untuk memperbaiki gitarku yang rusak itu. Harapanku, Rizkylah yang harusnya ada di sini membantuku. Namun, ia jauh, ia jauh dari harapan yang seharusnya. Aku mulai muak dengan semua itu. Nilai ujian semesterku pun mulai turun drastis, dan Rizky memang benar-benar tidak peduli lagi dengaku yang mulai kehilangan semangat. Dan saat-saat aku akan melupakannya untuk seterusnya, ia kembali mendekatiku seperti akan mengungkapkan semua isi hatinya yang tersimpan rapi untukku. Namun, bagiku itu percuma, untuk apa ia memberiku sesuatu yang seharusnya aku dapatkan itu dari dulu? Rupanya, Tuhan tahu semuanya, aku terlalu egois dan Rizky kecewa, Rizky marah, Rizky benar-benar hilang. Dan Tuhan, menyabut nyawanya saat aku mulai merindukannya. Aku harap, ketika aku berada di dunia barunya, aku akan segera memulihkan luka dan mencintainya lagi seperti seharusnya. Aku janji, aku tak akan membuatnya kecewa lagi. Akhir itu, aku sudah tak bisa meneteskan air mata. Aku sudah tak bisa menangis hanya karena kehilangan Rizky.

                                                           


Tidak ada komentar: