Oleh : Hasniar Rahmawati
Senin, 10 Desember 2012
Kebahagiaan itu datang ketika aku dan
ia sama-sama terlahir di dunia. Itu semua adalah anugerah yang Tuhan berikan
pada kami. Namun, semenjak ia pergi untuk meninggalkan semua yang ada di dunia,
hidupku berubah drastis. Liku yang dulu terjalin bersamanya, nampak hilang
begitu saja. Meski aku belum sempat menjadi kekasihnya atau bahkan menjadi pendamping
hidupnya, tapi aku tetap merasa bahagia dan sangat bersyukur atas apa yang
telah Tuhan berikan padaku. Ia sangat sempurna, ia mampu membuat hatiku tenang,
namun penyesalan selalu datang ketika teringat lima hari sebelum kematiannya.
Banyak cerita yang tak bisa aku lupakan saat bersama dengannya. Lima belas
bulan yang lalu,
“ I have died
everyday waiting for you ... Darling don't be afraid I have loved you ... For a
thousand years ... I'll love you for a thousand more ... ” saat itu aku bernyanyi di kelas, aku menyanyikan
sebuah lagu yang sangat aku suka A Thosand
Years yang dipopulerkan oleh Christina
Perri.
Seperti biasa, daripada harus pergi ke kantin saat istirahat tiba, aku lebih suka bernyanyi sambil memainkan gitar Nesa yang tak pernah absen untuk kupinjam. Dari dulu aku lebih menyukai kebahagiaan. Karena bagiku, itulah indahnya hidup. Kejadian yang hampir sama kembali terulang saat aku sedang bermain gitar sambil bernyanyi. Tiba-tiba ia datang. Kali ini ia datang bersama sahabatnya, Ardi.
Seperti biasa, daripada harus pergi ke kantin saat istirahat tiba, aku lebih suka bernyanyi sambil memainkan gitar Nesa yang tak pernah absen untuk kupinjam. Dari dulu aku lebih menyukai kebahagiaan. Karena bagiku, itulah indahnya hidup. Kejadian yang hampir sama kembali terulang saat aku sedang bermain gitar sambil bernyanyi. Tiba-tiba ia datang. Kali ini ia datang bersama sahabatnya, Ardi.
“Kalau gini ceritanya, lo harus segera ekskul musik Bel!”
Saran Ardi memberi tepuk tangan untukku, sedangkan Rizky, ia hanya tersenyum
melihatku. Mungkin, itu hanyalah sebagian kebahagiaan yang tak pernah aku
bayangkan sebelum ia berani mengungkapkan perasaannya padaku. Aku kecewa, aku
menangis, aku layu dan seperti tak akan segar lagi, ketika ia tak pernah lagi
menghubungiku lewat sms atau telphone. Saat itu semuanya hancur, namun aku
terus berjalan untuk mengejar waktu yang semakin jauh. Akhirnya, saat itu aku
memutuskan untuk mengganti ekskul basketku dengan akskul musik. Sebelum hal itu
aku jalani, aku dan tim basketku sempat mengadakan sparing bersama teman kelas yang lain. Permainan pun di mulai. Aku
terus mencari di mana ia sekarang. Aku ingin ia melihatku untuk terakhir
kalinya ekskul basket. Aku terus melihat kanan, kiri, belakang, depan, namun ia
tak di sini bersama teman-teman kelasnya yang lain. Yang ku lihat hanya Ardi
dan Nesa yang terus memberi semangat padaku. Keringatku mulai menetes seiring
matahari yang memandangku. Saat layout
terjadi, aku melihatnya di balkon lantai 3 sekolahku. Ia melihatku dari atas,
ia tersenyum padaku. Ia sangat manis, ia tampan, ia baik, ia adalah Rizky.
Semangatku mulai memuncak, skor 3 untuk timku, 1 untuk tim lawan. Sungguh
pengorbanan luar biasa. Saat aku lihat ke balkon lantai 3 lagi, ia tidak ada di
sana. ia tak melihatku lagi dari atas gedung. Aku tertunduk dan menghilangkan
keringat di keningku.
“Bel!” aku menghentikan langkahku. Ini masih di lapangan. Ia
memanggilku, Rizky yang memanggilku dan mendekatiku.
“Selamat ya?!” ia mengucapkan selamat atas kemenangan tim
basketku dan mengulurkan tangannya untukku. Aku tertawa bahagia, saat ia
menggenggam tanganku erat.
“Sama-sama, thanks
juga ya lo udah mau nyempatin waktu buat nonton sparing gue”
“Sama-sama” jawabnya mengendurkan genggamannya dan melepaskan
tanganku.
“Pulang sekolah, gue mau minta tolong temani beli gitar.
Bisa?” pintanya.
“Bisa, kebetulan gue juga mau beli gitar.”
“O ya? ya udah, kita bareng ya?”
Sesampainya
di tempat, ia mencoba menggenjreng-genjrengkan gitarnya di depanku. Setelah lama memilih akhirnya kami membeli
jenis gitar yang sama. Dan saat itu, kami tidak langsung pulang, melainkan
mengisi perut kami yang keroncongan di sebuah cafe di mall tersebut.
Saat pertama memasuki cafe itu, lagu A thousand years pun sempat terdengar di
telingaku.
“Lagu ini bagus ya?”
ucapnya.
“Iya, banget!”
“Ada kenangan sama lagu ini ya?” tanyanya.
“Nggak kok, isinya romantis, dan gue suka.”
“Owh, terus sama lagunya Ten2Five
masih suka juga?” ia masih ingat lagu itu.
“Suka dong!”
“Kalau sama lagu itu pasti ada kenangannya, kenangannya waktu
gue pilih lagu itu buat featuring
Nesa pas Pensi. Iya kan? ngaku!”
“Hahaha, iya Ki.”
Begitu indahnya saat itu, kami tertawa, bahagia di tengah
putaran lagu yang menambah indahnya suasana. Saat itu aku memohon pada Tuhan.
“Tuhan ... jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku”. Sulit sekali bagiku
menatap matanya yang tajam itu. Sulit sekali. Tapi inilah cinta. Sulit di terka
dan mudah di rasakan. Perasaan yang seumur hidupku belum pernah terjadi. Hanya
waktu yang dapat mengungkapkan semuanya. Setiap malam aku sering bahagia, aku
sering tersenyum seperti manuasia bodoh yang mengharapkan cinta dari manusia
lain yang tak pernah memberikan cintanya untukku. Aku selalu tersenyum sendiri
saat melihat gitar baruku. Setiap saat aku jalani hari dengan kebahagiaan yang
tiada tara sejak mengenalnya. Terlebih, sejak perceraian kedua orangtuaku,
semangat hidupku mulai pupus. Dan kehadirannyalah yang mampu menghidupkan
kembali lampu hariku. Sebulan
berlalu, gitar itu sempat terkena air hujan. Dan seperti pertanda Rizky akan
menjauhiku, Gitar itu sempat rusak. Dan Ardilah yang membantuku untuk
memperbaiki gitarku yang rusak itu. Harapanku, Rizkylah yang harusnya ada di
sini membantuku. Namun, ia jauh, ia jauh dari harapan yang seharusnya. Aku
mulai muak dengan semua itu. Nilai ujian semesterku pun mulai turun drastis,
dan Rizky memang benar-benar tidak peduli lagi dengaku yang mulai kehilangan
semangat. Dan saat-saat aku akan melupakannya untuk seterusnya, ia kembali
mendekatiku seperti akan mengungkapkan semua isi hatinya yang tersimpan rapi
untukku. Namun, bagiku itu percuma, untuk apa ia memberiku sesuatu yang
seharusnya aku dapatkan itu dari dulu? Rupanya, Tuhan tahu semuanya, aku
terlalu egois dan Rizky kecewa, Rizky marah, Rizky benar-benar hilang. Dan
Tuhan, menyabut nyawanya saat aku mulai merindukannya. Aku harap, ketika aku
berada di dunia barunya, aku akan segera memulihkan luka dan mencintainya lagi seperti
seharusnya. Aku janji, aku tak akan membuatnya kecewa lagi. Akhir itu, aku
sudah tak bisa meneteskan air mata. Aku sudah tak bisa menangis hanya karena
kehilangan Rizky.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar