Rabu, 04 Juli 2012

^SEKEMBALI DIRINYA^

Begitu sibuknya Bayu mencari sesuatu dengan ditemani sebingkai foto wanita cantik yang ada dipikirannya sejak tiga tahun lalu yang membuatnya begitu semangat. Bayu sedang mencari tumpukan tugas yang diberikan dosennya dua hari yang lalu yang harus ia kerjakan malam ini sesuai target. Bayu begitu semangat mencari tugas-tugas itu sampai larut malam namun tak ia temukan juga. Ia lupa meletakkan tumpukan tugas berupa makalah itu dimana. Kalau bukan karena Desy, wanita difoto itu, rasanya tak mungkin Bayu sesemangat ini mencari tugas itu, walaupun ia harus merelakan absen melihat pertandingan team kesayangannya di Tv sport malam ini. Waktu benar-benar larut malam, ia harus segera membaringkan tubuhnya dan berhenti mencari tugas yang rencananya harus dikumpulkan dua hari lagi. Posisi tidurnya kali ini  diawali dengan kedua tangan di bawah kepala. Kebiasaan yang selalu hadir diwaktu malam, ia harus mendengarkan lagu-lagu favoritnya di ipod, dengan headphone yang mengelilingi setengah lingkaran kepala dikedua telinga hingga pagi kembali menyambutnya. Suatu kebiasaan yang selalu mendapat protes dari Desy, teman-teman, dan terutama ibunya yang selalu memperhatikannya. Dan waktunya menikmati lagu-lagu cadas yang mengantarnya tidur dan bermimpi indah bersama Desy.

Paginya, ia menanyakan keberadaan tumpukan tugasnya pada ibu yang sudah menunggu untuk sarapan bersama. Sepertinya pagi ini ia harus benar-benar memahami apa yang ia dengar, ia harus mengikhlaskan tumpukan tugasnya hilang dibawa pemulung yang biasa mapir kerumahnya setiap hari. Ibunya sering mengumpulkan kertas-kertas, botol-botol yang sudah tidak terpakai untuk para pemulung. “Belajar beramal dengan perbuatan kecil.Ujar ibunya. Miris memang apa yang Bayu dengar saat sarapan menyambutnya,
Makanya, kalau narok apa-apa jangan sembarangan, mana ibu tahu kalau itu masih terpakai, orang naroknya di dapur dekat gudang, lagian juga kalau ada tugas itu langsung dikerjakan, jangan ditunda-tunda !” ujar ibu sedikit memarahinya.
Tapi kan ibu bisa tanya dulu sama Bayu, itu masih terpakai atau enggak !” ucap Bayu kesal.
Ibu hanya menggelengkan kepala dan menatap wajah tengilnya. Ia sudah tidak berselera lagi untuk sarapan masakan yang dianggapnya masakan paling enak di dunia, yaitu masakan ibunya. Dan ia pun langsung berpamitan berangkat kuliah menaiki bus yang biasa  ia tumpangi. Sesampainya di kampus, ia disambut baik oleh mendung yang sepertinya memberi kesempatan untuknya  berlari agar ia tak menjatuhkan air yang akan membuatnya sakit dan akan membuat Desy menghawatirkanya. Di kelas, barulah hujan mengguyur bumi dan atap-atap berteduh. Bayu tersenyum karena mensyukuri apa yang telah terjadi. Desy, ada satu hal yang ingin ia tanyakan padanya hari ini. Sebuah kalimat pertanyaan yang lama telah Bayu dengar mengenai kesehatannya yang semakin memburuk. “Apakah dia masih ingin mengucapkan satu kata saja untukku ?” batin Bayu cemas. Desy tampak layu di sudut kelas dengan sweater tebal penutup tubuhnya yang terhempas angin. Dan Bayu membiarkan Desy sendiri dulu, Bayu hanya tertunduk diam saat menapaki lantai yang mengimajinasikan setiap kotaknya terdiri atas berbagai perasaan dan pertanyaan yang ingin ia sampaikan dan tanyakan lagi pada Desy.
            Malam ini Bayu terkesan menjadi seseorang yang sangat luar biasa dalam ketenagannya, ia menjadi sosok leleki dewasa yang harus imbang dengan gundah yang setiap saat menghampiri diwaktu Desy kembali padanya saat tiga tahun lalu hilang karena ia tinggalkan. Ia sibuk dalam sebuah ketenangan mengerjakan tugas makalah yang hilang dua hari lalu dan kembali ia dapatkan dari Desy yang akhirnya masih ingin mengenalnya lagi. Handphonenya berbunyi my princess calling dan tanpa berpikir panjang, Bayu langsung mengangkat panggilan itu.
Lagi ngerjain tugas ya?” tanya Desy dengan suara parau di udara.
Iya, lo juga pasti lagi ngerjain juga kan?” tanya Bayu balik.
Emm ... gue udah selesai dari dua hari yang lalu, makanya soal makalahnya gue kasih ke lo.
Owh ... haha, emm thanks ya lo mau minjemin gue tugas makalahnya.”
Emm, iya sama-sama, ya udah kalau gitu lo lanjutin lagi ya tugasnya, bye ...
Emm iya iya, bye ... ” dengan terpaksanya mengakhiri telephone dari Desy, tiba-tiba ibu datang menasihatinya lagi.
Kalau lagi belajar, jangan sambil telfonan. Dan  kalau mengawali atau mengakhiri telfon, jangan kayak orang barat bye bye, pake salam dong, katanya muslim ...
Iya Buuuuuu….!!” Balas Bayu. Dan ibu pun pergi.
Sayang sekali ibu tidak tahu jika telephone tadi adalah penambah semangatnya untuk belajar. Hal yang jarang terjadi selama Bayu dan Desy bersatu kembali. Dan kini  semangat Bayu bertambah dan terus bertambah karena Desy memberinya energy yang luar biasa melalui kata-katanya agar ia terus berpikir. Dua jam berlalu, tapi Bayu belum merasakan kantuk sama sekali hingga tugas selesai pun Bayu belum merasakan kantuk. Bayu membuka handphonenya yang terdapat satu pesan baru dari my princess-have a nice dream ... diakhiri dengan senyuman. Bayu ikut tersenyum membaca pesan yang sangat ia tunggu itu. Meskipun ia belum merasakan kantuk, namun kata-kata itu mengantarnya untuk bermimpi indah dengan Desy tanpa headphone ipod yang biasanya hanya membantunya untuk mengingat Desy.
            Keesokan hari di kampus, dengan lincahnya Bayu melaporkan hasil kerjanya pada Desy sambil mengembalikan soal makalah Desy. Dengan harapan Desy dapat memujinya karena dapat mengerjakan tugas, tak seperti SMP setiap mendapatkan tugas tak pernah ia kerjakan dan membuat Desy marah padanya.
Tugas gue udah selesai, thanks ya!” Ucapnya mengembalikan soal tugas makalah Desy di kelas.
Lain kali, kalau ada tugas lagi, buruan dikerjain.” Balas Desy menasihatinya seperti nasihat ibu.
Iya ... iya ... ” balasnya meninggalkan Desy.
Mau kemana lo?” tanya Desy seakan tak ingin ia tinggalkan.
Pulang!”.
Kok pulang? ini kan baru jam sepuluh? biasanya lo nonton futsal dulu.
Katanya kalau ada tugas harus cepet-cepet dikerjain, ya udah gue mau pulang ngerjain tugas yang dikasih bu Mira tadi.Jawabnya polos.
Ya tapi enggak gitu juga kali!, cepet-cepet banget,” tambah Desy sok cuek.
Kenapa si lo enggak mau ngomong langsung kalau sebenernya  lo masih kangen sama gue?” batin Bayu kesal dan melanjutkan langkahnya meninggalkan Desy. Sesampainya di rumah, Bayu tak lagi ceroboh menyimpan tugasnya. Kali ini ia langsung mengerjakan sesuai petuah Desy. Ketika ia sedang sibuk mencari bollpoint di laci meja belajarnya, ia menemukan selembar surat dari Desy untuknya semasa SMP dulu, Bayu dan Desy dipertemukan saat Masa Orientasi Siswa. Ia masih ingat benar apa yang seharusnya tidak ia lakukan, memutuskan Desy hanya karena merasa tak mempedulikannya. tidak pernah jalan berdua, tidak pernah kemana-mana, kalau bertemu hanya di sekolah saja, dan jika libur datang, galau bersiap menyambutnya. Kalaupun mereka pernah berdua, itu pun adalah untuk alasan belajar bersama. Itulah masa-masa SMP mereka yang sempat terhapus oleh zaman. Bayu terus membaca surat itu berulang-ulang, Desy memang sedikit berbeda saat ditinggalkan ibunya untuk selama-lamanya. Ia terkesan cuek, diam, dan tak bersemangat. Tapi entahlah ... hanya Tuhan yang tahu itu, hingga mereka dipertemukan kembali seperti dua sisi mata uang yang berbeda. Meskipun dulu orangtua Desy tidak mengizinkannya untuk mengenal lelaki lebih dekat. Tapi Bayu yakin suatu saat nanti orangtuanya akan mengizinkan, seperti saat ini yang telah menganggap Desy sebagai wanita dewasa. Dan saat itu Bayu yakin mereka akan dipertemukan lagi jika tiba waktunya seperti saat ini.
            Bukan hanya sekali dua kali Bayu selalu aktif melaporkan dan memperlihatkan  hasil pekerjaannya pada Desy, tapi kali ini iapun memperlihatkan hasil kerjanya.
“Tugas gue selesai semua, hebat kan gue?” lapornya menunjukkan tugas pada Desy yang sedang asik mengutak-atik handphone.
Coba gue liat.” Ucap Desy menarik bukunya dan memeriksanya. Desy meliriknya seakan memastikan apakah Bayu sedang memandangnya atau tidak.
“Bener semua kan?” Tanya Bayu pede.
Kok tumben lo ngerjain tugas? enggak kayak dulu, lo enggak pernah ngerjain!” Tanya Desy.
Sekarang kan gue udah tahu yang mana yang bener yang mana yang salah.” Jawab Bayu sok iyes.
Jadi ceritanya sekarang udah dewasa nih?” tanya Desy meledek.
Iya gitu deh!, kan sekarang udah ada yang boleh punya pacar juga!” sindir Bayu setengah meledek Desy.
Hahaha apaan si lo!, nyindir-nyindir” ulas Desy tertawa geli.
Hahaha. Des, kok sms gue lo delete semua si?” Tanya Bayu saat beralih mengutak-atik handphone Desy.
Bukan cuma punya lo kok, tapi semua message gue deletejawab Desy berwajah pucat.
Iya tapi kenapa?” tanya Bayu sidikit ada keganjalan.
Yaaaa ... gue pengen sesuatu yang baru aja. Gak mau save message banyak-banyak.” Jawab Desy seperti tak masuk akal tanpa alasan. Bayu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala mendengar penjelasan Desy.
Emmm ... ya udah, terus gimana tugas gue? Sama kayak lo kan?” tanya Bayu lagi memastikan.
Iya, sama kok.” Jawab Desy singkat mengembalikan buku Bayu dan meminta handphonenya yang sedang  Bayu pegang.
“Des, besok jalan yuk? kayaknya udah lama banget kita enggak jalan.” Ajak Bayu
“Emm, semenjak gue udah enggak dirawat lagi, gue belum boleh keluar rumah sama papa, katanya harus banyak-banyak istirahat di rumah”.
Dua minggu yang lalu, sebelum Bayu kembali padanya, Desy memang sakit dan dirawat di rumah sakit. Tapi Bayu tak menanyakan perihal sakitnya. Sebenarnya ada satu pernyataan yang tak pernah hilang di pikiran Bayu semenjak SMP hingga saat ini. Selalu itu yang jadi masalah. Begitu banyak hal yang membuatnya harus bertanya saat Desy  kembali lagi padanya. Ia  tak ingin kehilangan Desy lagi untuk kesekian kalinya, cukup dulu Bayu merasa kehilangannya.
Lo harus banyak istirahat ya Des!,” tak banyak kata yang harus Bayu ucapkan saat ini, hanya beberapa pertanyaan yang membuatnya takut kehilangan Desy saja. Desy tersenyum dan kembali memanggilnya saat ia hendak pergi ke kantin bersama teman-temannya.
“Bayu ..., sorry ya?” ucap Desy lirih dan merasa tak enak hati. Bayu hanya tersenyum dan kembali melangkah. Bayu mengerti keadaan ini, seiring berjalannya waktu yang semakin menghapuskan Desy dari dunia, Bayu terus belajar untuk menerima semua yang akan terjadi saat Desy kembali. Berhari-hari, berminggu-minggu sampai berbulan-bulan, Bayu tak akan pernah berani menanyakan hal yang akan buat dunia terasa gelap.
            Pagi ini mendung di bumi barat kembali menyambut Bayu dengan perasaan yang tak biasa, semua mata berkaca-kaca dan sampai menangis berlinangan air mata di penghujung dagu. Riko, sahabatnya membawanya disebuah rumah sakit, dan di sana Bayu dibawa disuatu ruangan yang membuatnya semakin takut dengan keadaan Desy yang semakin memburuk.
“Desy ... !!” gumamnya masih tak sadar.
“Desy ... !!!!” gumamnya lagi hampir sanggup meneteskan airmata. Riko mengusap pundaknya. Ia  menghampiri Desy, sosok wanita istimewa yang terbaring kaku di samping Kak Rama, kakak kandung Bayu yang sempat menyukai Desy. Rama adalah  kakak Bayu yang lama terpisah karena perceraian kedua orang tuanya. Kak Rama langsung memeluknya dan membisikkan Desy telah tiada. Bayu hanya diam dan sakit melihat semuanya,
“Bayu, Desy terserang kanker.” Ucap ayah Desy yang tiba-tiba menghampiri Bayu yang sedang menatap Desy kaku dan mengusap pundaknya.
Iya om” balas Bayu tertunduk seperti merasa bersalah.
Ini bukan salah Kamu, justru om berterimakasih sama kamu. Desy senang menghabiskan sisa waktunya sama kamu, dia kembali bersemangat karena adanya kamu lagi dalam hidupnya.” Lalu ayah Desy pun memeluknya erat. Rupanya Desy telah memberi isyarat pada Bayu untuk tak meninggalkannya saat terakhir menasihatinya agar tak pernah merasa kehilangannya lagi. Bayu begitu menyesal telah meninggalkan Desy sendiri saat itu. Seindah-indahnya perasaannya, Bayu terus belajar dari pengalaman-pengalaman yang membuat sinarnya terang karena sosok Desy. Bayu tak ingin redup sama sekali, Bayu harus bisa membuktikan pada ibunya yang menjanda dan keluarganya jika ia benar-benar telah menjadi lelaki dewasa yang mampu menjaga diri dan nama baik keluarga. Meskipun Bayu tak pernah menjatuhkan airmatanya walau sesedih apapun itu, tapi kali ini airmatanya jatuh karena Desy meninggalkannya lagi. Dan kini Desy tak mungkin bisa kembali, Desy telah pergi untuk menempati tempat yang Tuhan telah sediakan untuknya di Surga. Bayu selalu berharap agar Desy tetap kembali di hatinya dan tak akan pernah hilang. Saat Desy kembali untuknya, tak ada terasa beban yang Bayu pikul dengan perihnya luka perceraian orangtuanya hingga hampir menelantarkannya dan Rama, kakaknya. Tapi kini ... luka itu kembali hadir dan akan tetap menjadi satu hal yang sangat ia benci dalam hidupnya.  Ia tahu Tuhan telah memberinya kesempatan untuk kembali menjaga orang yang ia cintai. Kini kasih sayang ibu begitu dirasakan olehnya, biarkan Desy pergi. Kini wanita istimewa bukanlah Desy lagi, melainkan ibunya yang selalu menjaganya sepanjang masa. “Terimakasih Tuhan..” ucap Bayu.

                                                                        Created by: Hasniar Rahmawati
                                                                                    [ Jum’at, 25 Mei 2012 ]
                                                                       
           
           
           



Tidak ada komentar: