Begitu sibuknya Bayu mencari sesuatu
dengan ditemani sebingkai foto
wanita cantik yang ada dipikirannya sejak tiga tahun lalu yang membuatnya
begitu semangat. Bayu sedang mencari tumpukan tugas yang diberikan dosennya dua
hari yang lalu yang harus ia kerjakan malam ini sesuai target. Bayu begitu
semangat mencari tugas-tugas itu sampai larut malam namun tak ia temukan juga.
Ia lupa meletakkan tumpukan tugas berupa makalah itu dimana. Kalau bukan karena
Desy, wanita
difoto itu, rasanya tak
mungkin Bayu sesemangat ini mencari tugas itu, walaupun ia harus merelakan
absen melihat pertandingan team
kesayangannya di Tv
sport malam ini. Waktu benar-benar
larut malam, ia harus segera membaringkan tubuhnya dan berhenti mencari tugas
yang rencananya harus dikumpulkan dua hari lagi. Posisi tidurnya kali ini diawali dengan kedua tangan di bawah
kepala. Kebiasaan yang selalu hadir diwaktu malam, ia harus
mendengarkan lagu-lagu favoritnya di ipod, dengan headphone yang mengelilingi setengah
lingkaran kepala dikedua telinga hingga pagi kembali menyambutnya. Suatu
kebiasaan yang selalu mendapat protes dari Desy, teman-teman, dan
terutama ibunya yang selalu memperhatikannya. Dan waktunya menikmati lagu-lagu cadas yang mengantarnya tidur dan
bermimpi indah bersama Desy.
Paginya, ia menanyakan
keberadaan tumpukan tugasnya pada ibu yang sudah menunggu untuk sarapan
bersama. Sepertinya pagi ini ia harus benar-benar memahami apa yang ia dengar, ia harus
mengikhlaskan tumpukan tugasnya hilang dibawa pemulung yang biasa mapir
kerumahnya setiap hari. Ibunya sering mengumpulkan kertas-kertas, botol-botol
yang sudah tidak terpakai untuk para pemulung. “Belajar beramal
dengan perbuatan kecil.”
Ujar ibunya.
Miris memang apa yang Bayu dengar saat sarapan menyambutnya,
”Makanya, kalau narok apa-apa jangan sembarangan, mana ibu
tahu kalau itu masih terpakai, orang naroknya di dapur dekat gudang, lagian juga
kalau ada tugas itu langsung dikerjakan, jangan
ditunda-tunda !” ujar ibu sedikit memarahinya.
“Tapi kan ibu
bisa tanya dulu sama Bayu, itu masih terpakai atau enggak !” ucap
Bayu kesal.
Ibu
hanya menggelengkan kepala dan menatap wajah tengilnya. Ia sudah tidak
berselera lagi untuk sarapan masakan yang dianggapnya masakan paling enak di dunia, yaitu
masakan ibunya. Dan ia pun langsung berpamitan berangkat kuliah menaiki bus
yang biasa ia tumpangi. Sesampainya di kampus, ia disambut
baik oleh mendung yang sepertinya memberi kesempatan untuknya berlari agar ia tak menjatuhkan air yang akan
membuatnya sakit dan akan membuat Desy menghawatirkanya. Di kelas, barulah
hujan mengguyur bumi dan atap-atap berteduh. Bayu tersenyum karena mensyukuri
apa yang telah terjadi. Desy, ada satu hal yang ingin ia tanyakan padanya hari
ini. Sebuah kalimat pertanyaan yang lama telah Bayu dengar mengenai
kesehatannya yang semakin memburuk. “Apakah dia masih ingin mengucapkan satu
kata saja untukku ?” batin Bayu cemas. Desy tampak layu di sudut kelas
dengan sweater
tebal penutup
tubuhnya yang terhempas angin. Dan Bayu membiarkan Desy sendiri dulu, Bayu hanya
tertunduk diam saat menapaki lantai yang mengimajinasikan setiap kotaknya
terdiri atas berbagai perasaan dan pertanyaan yang ingin ia sampaikan dan
tanyakan lagi pada Desy.
Malam ini Bayu terkesan menjadi
seseorang yang sangat luar biasa dalam ketenagannya, ia menjadi
sosok leleki
dewasa yang harus imbang dengan gundah yang setiap saat menghampiri diwaktu
Desy kembali padanya saat tiga tahun lalu hilang karena ia tinggalkan. Ia sibuk
dalam sebuah ketenangan mengerjakan tugas makalah yang hilang dua hari lalu dan
kembali ia dapatkan dari Desy yang akhirnya masih ingin mengenalnya lagi. Handphonenya berbunyi my princess calling dan tanpa berpikir
panjang, Bayu
langsung mengangkat panggilan itu.
“Lagi
ngerjain tugas ya?” tanya
Desy dengan suara parau di udara.
“Iya, lo juga
pasti lagi ngerjain juga kan?” tanya
Bayu balik.
“Emm ... gue udah
selesai dari dua hari yang lalu, makanya soal makalahnya gue
kasih ke lo.”
“Owh ... haha, emm thanks ya lo mau minjemin gue tugas
makalahnya.”
“Emm, iya
sama-sama, ya udah kalau gitu lo lanjutin lagi ya tugasnya, bye ... ”
“Emm iya iya, bye ... ” dengan
terpaksanya mengakhiri telephone dari Desy,
tiba-tiba ibu datang menasihatinya lagi.
“Kalau lagi
belajar, jangan
sambil telfonan. Dan kalau mengawali
atau mengakhiri telfon, jangan kayak orang barat ‘bye
bye’, pake
salam dong, katanya muslim ... ”
“Iya Buuuuuu….!!”
Balas Bayu.
Dan ibu pun
pergi.
Sayang
sekali ibu tidak tahu jika telephone tadi
adalah penambah semangatnya untuk belajar. Hal yang jarang terjadi selama Bayu
dan Desy bersatu kembali. Dan kini semangat
Bayu bertambah dan terus bertambah karena Desy memberinya energy yang luar biasa
melalui kata-katanya agar ia terus berpikir. Dua jam berlalu, tapi Bayu
belum merasakan kantuk sama sekali hingga tugas selesai pun Bayu
belum merasakan kantuk. Bayu membuka handphonenya
yang terdapat satu pesan baru dari my
princess-have a
nice dream ... diakhiri
dengan senyuman. Bayu ikut tersenyum membaca pesan yang sangat ia tunggu itu.
Meskipun ia belum merasakan kantuk, namun kata-kata itu mengantarnya untuk
bermimpi indah dengan Desy tanpa headphone
ipod yang biasanya hanya membantunya untuk mengingat Desy.
Keesokan hari di kampus, dengan
lincahnya Bayu melaporkan hasil kerjanya pada Desy sambil mengembalikan soal
makalah Desy. Dengan
harapan Desy dapat memujinya karena dapat mengerjakan tugas, tak seperti
SMP setiap mendapatkan tugas tak pernah ia kerjakan dan membuat Desy marah
padanya.
“Tugas gue
udah selesai, thanks
ya!” Ucapnya
mengembalikan soal tugas makalah Desy di kelas.
“Lain kali, kalau ada
tugas lagi, buruan
dikerjain.” Balas Desy menasihatinya seperti nasihat ibu.
“Iya ... iya ... ” balasnya
meninggalkan Desy.
“Mau kemana
lo?” tanya Desy
seakan tak ingin
ia tinggalkan.
“Pulang!”.
“Kok pulang? ini kan
baru jam sepuluh? biasanya lo nonton futsal dulu.”
“Katanya
kalau ada tugas harus cepet-cepet dikerjain, ya udah gue
mau pulang ngerjain tugas yang dikasih bu Mira tadi.” Jawabnya polos.
“Ya tapi enggak gitu juga kali!, cepet-cepet banget,” tambah
Desy sok cuek.
“Kenapa si lo
enggak mau
ngomong langsung kalau sebenernya lo
masih kangen sama gue?” batin Bayu kesal dan melanjutkan langkahnya meninggalkan
Desy. Sesampainya di rumah, Bayu tak
lagi ceroboh menyimpan tugasnya. Kali ini ia langsung mengerjakan sesuai petuah Desy. Ketika ia sedang sibuk
mencari bollpoint di laci meja
belajarnya, ia
menemukan selembar surat dari Desy untuknya semasa SMP dulu, Bayu dan
Desy dipertemukan saat Masa
Orientasi Siswa. Ia
masih ingat benar apa yang seharusnya tidak ia lakukan, memutuskan Desy hanya
karena merasa tak mempedulikannya. tidak pernah jalan berdua, tidak
pernah kemana-mana, kalau
bertemu hanya di sekolah
saja, dan jika libur datang, galau bersiap menyambutnya. Kalaupun mereka pernah
berdua, itu pun adalah
untuk alasan belajar bersama. Itulah masa-masa SMP mereka yang sempat terhapus
oleh zaman. Bayu
terus membaca surat itu berulang-ulang, Desy memang sedikit berbeda saat
ditinggalkan ibunya untuk selama-lamanya. Ia terkesan cuek, diam, dan tak
bersemangat. Tapi entahlah ...
hanya Tuhan yang
tahu itu, hingga
mereka dipertemukan kembali seperti dua sisi mata uang yang berbeda. Meskipun
dulu orangtua Desy tidak mengizinkannya untuk mengenal lelaki lebih dekat. Tapi
Bayu yakin suatu saat nanti orangtuanya akan mengizinkan, seperti saat
ini yang telah menganggap Desy sebagai wanita dewasa. Dan saat itu Bayu yakin
mereka akan dipertemukan lagi jika tiba waktunya seperti saat ini.
Bukan hanya sekali dua kali Bayu
selalu aktif melaporkan dan memperlihatkan hasil pekerjaannya pada Desy, tapi kali
ini iapun memperlihatkan hasil kerjanya.
“Tugas
gue selesai semua, hebat
kan gue?” lapornya menunjukkan tugas pada Desy yang sedang asik mengutak-atik handphone.
“Coba gue
liat.” Ucap Desy menarik bukunya dan memeriksanya. Desy meliriknya seakan
memastikan apakah Bayu sedang memandangnya atau tidak.
“Bener
semua kan?” Tanya Bayu pede.
“Kok tumben
lo ngerjain tugas? enggak
kayak dulu, lo
enggak pernah
ngerjain!” Tanya
Desy.
“Sekarang kan
gue udah tahu
yang mana yang bener yang mana yang salah.” Jawab Bayu sok iyes.
“Jadi ceritanya
sekarang udah dewasa nih?” tanya
Desy meledek.
“Iya gitu deh!, kan
sekarang udah ada yang boleh punya pacar juga!” sindir Bayu setengah meledek
Desy.
“Hahaha apaan
si lo!, nyindir-nyindir”
ulas Desy tertawa geli.
“Hahaha. Des, kok sms gue
lo delete semua si?” Tanya Bayu saat
beralih mengutak-atik handphone Desy.
“Bukan cuma punya
lo kok, tapi
semua message gue delete” jawab Desy
berwajah pucat.
“Iya tapi
kenapa?” tanya
Bayu sidikit ada keganjalan.
“Yaaaa ... gue pengen
sesuatu yang baru aja. Gak mau save
message banyak-banyak.” Jawab Desy seperti tak masuk akal tanpa alasan.
Bayu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala mendengar penjelasan Desy.
“Emmm ... ya udah,
terus gimana tugas gue? Sama kayak lo kan?” tanya Bayu lagi memastikan.
“Iya, sama kok.”
Jawab Desy singkat mengembalikan buku Bayu dan meminta handphonenya yang sedang
Bayu pegang.
“Des, besok jalan
yuk? kayaknya
udah lama banget kita enggak
jalan.” Ajak Bayu
“Emm, semenjak
gue udah enggak
dirawat lagi, gue belum boleh keluar rumah sama papa, katanya
harus banyak-banyak istirahat di rumah”.
Dua
minggu yang lalu, sebelum Bayu kembali padanya, Desy memang sakit dan dirawat
di rumah
sakit. Tapi Bayu
tak menanyakan perihal sakitnya. Sebenarnya ada satu pernyataan yang tak pernah
hilang di pikiran
Bayu semenjak SMP hingga saat ini. Selalu itu yang jadi masalah. Begitu banyak
hal yang membuatnya harus bertanya saat Desy
kembali lagi padanya. Ia tak
ingin kehilangan Desy lagi untuk kesekian kalinya, cukup
dulu Bayu merasa kehilangannya.
“Lo harus
banyak istirahat ya Des!,”
tak banyak kata yang harus Bayu ucapkan saat ini, hanya beberapa
pertanyaan yang membuatnya takut kehilangan Desy saja. Desy tersenyum dan
kembali memanggilnya saat ia hendak pergi ke kantin bersama
teman-temannya.
“Bayu ..., sorry ya?” ucap Desy
lirih dan merasa tak enak hati. Bayu hanya tersenyum dan kembali melangkah.
Bayu mengerti keadaan ini, seiring berjalannya waktu
yang semakin menghapuskan Desy dari dunia, Bayu terus
belajar untuk menerima semua yang akan terjadi saat Desy kembali. Berhari-hari, berminggu-minggu
sampai berbulan-bulan, Bayu tak
akan pernah berani menanyakan hal yang akan buat dunia terasa gelap.
Pagi ini mendung di bumi barat
kembali menyambut Bayu dengan perasaan yang tak biasa, semua mata
berkaca-kaca dan sampai menangis berlinangan air mata di penghujung
dagu. Riko, sahabatnya
membawanya disebuah rumah sakit, dan di sana Bayu dibawa
disuatu ruangan yang membuatnya semakin takut dengan keadaan Desy yang semakin
memburuk.
“Desy ... !!”
gumamnya masih tak sadar.
“Desy ... !!!!”
gumamnya lagi hampir sanggup meneteskan airmata. Riko mengusap pundaknya. Ia menghampiri Desy, sosok
wanita istimewa yang terbaring kaku di samping Kak
Rama, kakak
kandung Bayu yang sempat menyukai Desy. Rama adalah kakak Bayu yang lama terpisah karena
perceraian kedua orang tuanya. Kak Rama langsung memeluknya dan membisikkan
Desy telah tiada. Bayu hanya diam dan sakit melihat semuanya,
“Bayu, Desy terserang
kanker.” Ucap ayah Desy yang tiba-tiba menghampiri Bayu yang sedang menatap
Desy kaku dan mengusap pundaknya.
“Iya om”
balas Bayu tertunduk seperti merasa bersalah.
“Ini bukan
salah Kamu, justru om berterimakasih sama kamu. Desy senang menghabiskan sisa
waktunya sama kamu, dia
kembali bersemangat karena adanya kamu lagi dalam hidupnya.” Lalu ayah Desy pun memeluknya
erat. Rupanya Desy telah memberi isyarat pada Bayu untuk tak meninggalkannya
saat terakhir menasihatinya agar tak pernah merasa kehilangannya lagi. Bayu
begitu menyesal telah meninggalkan Desy sendiri saat itu. Seindah-indahnya
perasaannya, Bayu terus belajar dari pengalaman-pengalaman yang membuat
sinarnya terang karena sosok Desy. Bayu tak ingin redup sama sekali, Bayu harus
bisa membuktikan pada ibunya yang menjanda dan keluarganya jika ia benar-benar telah
menjadi lelaki dewasa yang mampu menjaga diri dan nama baik keluarga. Meskipun Bayu
tak pernah menjatuhkan airmatanya walau sesedih apapun itu, tapi kali
ini airmatanya jatuh karena Desy meninggalkannya lagi. Dan kini Desy tak mungkin
bisa kembali, Desy
telah pergi untuk menempati tempat yang Tuhan telah sediakan untuknya
di Surga. Bayu selalu berharap agar Desy tetap kembali di hatinya dan
tak akan pernah hilang. Saat Desy kembali untuknya, tak ada terasa beban yang
Bayu pikul dengan perihnya luka perceraian orangtuanya hingga hampir menelantarkannya
dan Rama, kakaknya.
Tapi kini ... luka itu
kembali hadir dan akan tetap menjadi satu hal yang sangat ia benci dalam
hidupnya. Ia tahu Tuhan telah memberinya
kesempatan untuk kembali menjaga orang yang ia cintai. Kini kasih sayang ibu
begitu dirasakan olehnya, biarkan Desy pergi. Kini
wanita istimewa bukanlah Desy lagi, melainkan
ibunya yang selalu menjaganya sepanjang masa. “Terimakasih Tuhan..” ucap Bayu.
Created
by: Hasniar Rahmawati
[
Jum’at, 25 Mei 2012 ]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar