DAN
ENTAHLAH ...
Oleh
: Raniar Abbas / Hasniar Rahmawati
Minggu,
27 Januari 2013
Namaku
Sarah, aku adalah sahabat Andin Syafira, yang sejak sebulan lalu telah
meninggal dunia karena Kanker. Ia gagal mengikuti lomba lukisnya yang sudah ia
persiapkan sematang mungkin hanya karena sakit keras hingga mengharuskannya
koma selama seminggu di Rumah Sakit. Aku kagum dengan apa yang dilakukan Andin
setahun lalu. Ia sangat menghargai arti apa pun. Bahkan sakit hati harus ia
terima hanya untuk membuat sahabatnya yang lain bahagia. Riska, wanita cantik
yang ia kenalkan padaku saat pertama menjadi murid baru di kelasnya. Bukan
hanya Riska yang ia kenalkan padaku, tetapi juga seorang lelaki yang nampaknya
ia sukai, namanya Yoga. Semuanya ia ceritakan padaku. Dulu, ia sempat menyukai
Yoga. Ia sempat hancur berantakan saat tahu Riska menyukai Yoga sudah lama.
Namun, semuanya ia anggap hanya mimpi buruk yang tak akan pernah terjadi. Ia
pernah mengatakan padaku,
“Sesuatu
yang sempurna itu tidak indah, karena sesuatu yang sempurna itu tidak akan
membuat kita selalu berusaha untuk menjadi yang lebih baik” aku selalu ingat
dengan kata-kata itu. Entahlah, semenjak aku mengenalnya semua hidupku terasa
sangat berarti. Saat itu aku menjadi murid baru di sekolahnya, aku selalu melihatnya
bersama Riska. Dan dari persahabatan mereka, aku ingin lebih mengenal sosoknya
yang amat polos dan apa adanya. Ia mempunyai hobi yang sama dengan kakaku, yaitu
melukis. Oleh karena itu, setiap aku melihatnya, aku selalu teringat kakaku Tiara
yang saat ini sedang menjalanai study-nya
di Jogyakarta. Dulu, aku adalah seorang siswi yang suka tawuran, bolos sekolah,
dan sangat brutal. Oleh karena itu, orangtuaku memintaku untuk pindah sekolah.
Dan akhirnya aku bertemu dengan Andin dan Riska di sekolah baruku. Tapi,
setelah tahu apa yang membuatnya separah itu, aku sempat menjauhi Riska. Namun,
ia tidak suka dengan apa yang aku lakukan.
“Aku
yang salah, kalau memang dari dulu aku suka sama Yoga, harusnya aku bilang. Dan
Riska nggak akan dekat lagi dengan Yoga. Tapi semuanya udah terlambat Sar, Yoga
udah suka duluan sama Riska. Aku nggak mau buat Riska kecewa dan benci sama
aku” kata-kata itu ia ucapkan saat sedang dirawat di sebuah rumah sakit kanker
di Jakarta. Bahkan, saat itu aku hampir debat dengannya hanya karena hal yang
membuatku begitu tidak ikhlas. Tetapi saat Riska tahu jika selama ini Andin
menyukai Yoga, Riska hanya tersenyum tak percaya. Sebab, selama ini yang
menyukai Andin adalah Ari, sahabat Yoga yang tak lain adalah seseorang yang aku
suka. Bahkan, Ari sempat menyembunyikan pos
card foto 3x4 Andin saat persyaratan lomba lukis Andin tertinggal di sebuah
cafe. Namun, Ari berpura-pura tidak
tahu menahu tentang hal itu, hanya bantuan Yogalah yang ia andalkan untuk
selalu dekat dengan Andin. Bukan hanya itu, pertemuan Andin dan Ari pun sangat
terkesan romantis. Saat itu, Andin sedang melukis di sebuah perkebunan teh,
tiba-tiba Ari memotretnya tanpa sepengetahuan Andin. Andin sempat marah dan bete hingga mengharuskannya segera pulang.
Dan semenjak Andin meninggal, Ari sangat terlihat kesepian tanpa kawan. Ia selalu murung dan seperti menyesali
sesuatu yang tak ia ungkapkan pada Andin. Apa yang membuatku begitu tak nyaman
dengan hal ini? aku begitu bodoh telah berani menyukai seseorang yang sedang
merindukan sahabatku. Aku sempat melihat Riska menangis saat memandang foto
Andin bersama teman-teman kelas yang terpajang rapi di depan kelas. Sepertinya
Riska juga menyesali apa yang telah ia lakukan untuk sahabat terbaiknya. Walaupun
sampai saat ini hubungannya dengan Yoga masih berjalan lancar, tetapi aku
selalu melihat rona haru yang lekat dalam wajahnya. Saat acara perpisahan SMA
sebulan lalu pun, begitu banyak airmata yang tumpah saat nama Andin Syafira disebut
dalam Best Student University. Andin
mendapat tiga beasiswa ke 2 Universitas ternama di Indonesia dan 1 Universitas
ternama di Melbreun, Australia.
Semenjak kelulusan SMA kemarin, aku sepi. Bukan hanya sepi karena kehilangan
Andin, namun juga sepi karena ketidakhadiran orangtuaku dalam acara perpisahan
sekolah. Mungkin hanya buku diary Andin yang masih menemaniku untuk
meneruskan hari.
Aku
lupa dengan cerita cinta Riska dan Yoga. Toh
mereka pun sudah tidak satu kampus denganku. Hanya Ari yang masih ada di
pikiranku. Mungkin bukan hanya saat ini, tapi untuk seterusnya. Ia masih
terlihat murung dan tak karuan, ia hanya fokus pada hobinya yang sama denganku,
yaitu fotograp. Suatu saat, aku tak
sengaja bertemu dengannya dalam acara fotografer
of paint yang diadakan di kampusku. Dalam acara ini, banyak sekali
fotografer-fotografer yang berpartisipasi dalam memamerkan buah karya mereka.
Termasuk aku dan Ari.
“Ikut
event ini juga ya?” tanyanya padaku
saat aku sedang memotret karyanya. Ia membuatku
terkejut bukan kepalang.
“Menurut
lo gambar gue gimana?” tanyanya seperti meminta pendapat.
“Bagus,
makanya gue berhenti di gambar ini” jawabku senyum.
“Owh,
thanks. Gambar lo yang mana?”
tanyanya mulai berjalan ke kiri dengan mengalungkan kamera Cannon-nya di leher.
“Ini
gambar gue” tunjukku pada sebuah gambar hati yang aku dapatkan dari diary Andin.
“Kayaknya
gue pernah lihat tulisan ini deh!” ucapnya. Aku sudah tahu apa yang ada dalam
benaknya, aku yakin ia pasti sudah mengira kalau tulisan di sekitar gambar hati
itu adalah tulisan Andin.
“Emang
tulisan siapa?” tanyaku memastikan.
“Hahaha,
gue inget-inget lupa.” ia langsung menyerah seperti ingin hilang ingatan
tentang Andin.
“Gue
tahu cerita lo kok. Be patient. Lo
nggak sendiri, masih banyak orang yang perduli sama lo” Aku coba mengusap
pundaknya, layaknya sahabat dekat yang selalu ada.
“Thanks” Ia coba tersenyum. Kadang
hari-hariku selalu dihiasi olehnya, tapi kini sepertinya aku harus lebih bijak
dalam menentukan sikapku. Aku tahu, meski pun Andin sudah tidak ada lagi di
sini, mungkin perasaan Ari masih tetap untuknya. Aku akan berusaha menetralkan
perasaanku. Layaknya sebuah daun yang baru jatuh dari rantingnya karena layu,
aku terus tersenyum sebisa mungkin untuk Ari.
Sebulan berlalu, masa haru dan duka
terasa hilang dalam hidupku. Tetapi, aku masih melihat Ari murung. Ia tak
pernah tersenyum sejak kehilangan Andin. Mungkin ia kecewa pada waktu yang tak
pernah melihat perasaannya bahagia. Siang ini, mendung nampak jauh. Ia pergi
bersama kenangan. “Ari?” Batinku. Ia sedang mengarah padaku.
“Hi
Sar?” sapanya padaku.
“Hi
juga” balasku. Perasaanku kembali tumbuh untuknya, dan rasa itu hanyalah
sepenggal tangisan masa lalu yang pernah aku hadirkan untuknya.
“Ntar
siang cari angle yang bagus yuk? Dan
habis itu, kita makan di cafe. Seru
tuh kayaknya! Mau nggak?”
“Oke,
i do!” jawabku senang.
“Gue
tunggu di depan gerbang kampus jam 3 ya? bye!”
ia pergi meninggalkanku. Harum parfumnya masih tertinggal di sini, aku tak
percaya Ari bisa seceria itu padaku. Tak biasanya ia seperti ini. Tuhan, semoga
ini bukan mimpi.
Jam 3 sore ini, aku pergi bersamanya di suatu
tempat yang sangat indah. Sebelumnya, aku tak pernah melihat tempat seindah
ini. Mungkin bukan hanya indah, tapi romantis. Namun entah kenapa, aku langsung
teringat Andin. Aku baru sadar, ini adalah tempat pertemuan awal Andin dan Ari.
Ini adalah tempat yang seharusnya membuatku menangis.
“Eh,
gue mau ambil gambar lo di sini. Bagus kan angle-nya?”
tanyanya sambil memotretku.
“Bagus
kok, gue juga suka tempat ini.”
“Iya,
lo harus suka tempat ini. Haha” setelah aku dan ia puas tertawa di tempat
kenangannya, ia langsung mengajakku ke sebuah cafe. Dan entahlah, tiba-tiba langkahku terhenti saat Ari memilih
lokasi duduk di sini. Ini adalah tempat duduk Andin saat tidak sengaja
meninggalkan formulir lukisnya dan juga novel Harry Potter-nya – The chamber Of Secret. Tepat di samping dinding
kaca, yang jika hujan akan terasa pilu. Dan Ari memesan secangkir moccachino hangat. Sedangkan aku memesan
lemon tea untuk menyegarkan panasnya
terik matahari yang sedari tadi menyinari tubuhku.
“Kenapa
si kita harus duduk di sini? Di sini kan panas, sinar mataharinya tembus dari
kaca ini. Dan kenapa juga lo pesan moccachino
hangat? Ini kan panas, aneh banget si!” aku mulai kesal dan tak mau
berlama-lama di sini.
“Di
sini kita bisa lihat tempat yang tadi kita kunjungi. Tuh, bagus kan?” ia
menunjuk tempat itu. Aku hanya menggelengkan kepala dan menyandarkan tubuhku di
diniding kaca.
“Ri,
gue bukan Andin!” ucapku perlahan. Ia diam. Dan mencoba untuk menghadirkan
tawanya yang sangat palsu di hadapanku.
“Gue
harus pulang sekarang!” aku pun meninggalkannya sendiri dengan senyumnya yang
masih merekah untuk Andin. Dalam setiap hembusan angin yang selalu menemani
langkahku, tanpa kusadari, sudah terlalu lama aku tak pernah menjatuhkan air
mata seperti ini. dan aku pun tak pernah mendapatkan sesuatu hal yang sangat
menyakitkan seperti ini.
Kini,
aku tahu bagaimana sakitnya Andin saat itu. Tapi, mungkin aku lebih sakit
darinya. Tiada yang mencintaiku lagi, dan tiada yang harus aku harapkan lagi
kecuali melupakan semua kenangan Andin dan Ari. Aku sudah terlalu jauh
melangkah, andai saja waktu dapat menghentikan sandiwara ini, mungkin saat ini
aku pasti akan sangat bahagia dalam hidupku. Saat itu, aku mulai terpuruk. Aku
hanya tak mengerti mengapa Ari tak pernah berusaha untuk mencintaiku. Suasana
indah sudah lama tak pernah aku ciptakan lagi. Hanya ada aku dan bintang yang selalu
setia menemani cerahnya dunia. Lebih baik aku lupa dan tidak memaksakan mengapa
aku diciptakan dengan liku yang begitu indah. Aku yakin, semua orang iri
padaku, semua orang ingin sepertiku yang memiliki cerita indah dalam hidup.
Dan, entahlah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar