Jumat, 09 Agustus 2013

^DAN ENTAHLAH ... ^

DAN ENTAHLAH ...
Oleh : Raniar Abbas / Hasniar Rahmawati
Minggu, 27 Januari 2013

Namaku Sarah, aku adalah sahabat Andin Syafira, yang sejak sebulan lalu telah meninggal dunia karena Kanker. Ia gagal mengikuti lomba lukisnya yang sudah ia persiapkan sematang mungkin hanya karena sakit keras hingga mengharuskannya koma selama seminggu di Rumah Sakit. Aku kagum dengan apa yang dilakukan Andin setahun lalu. Ia sangat menghargai arti apa pun. Bahkan sakit hati harus ia terima hanya untuk membuat sahabatnya yang lain bahagia. Riska, wanita cantik yang ia kenalkan padaku saat pertama menjadi murid baru di kelasnya. Bukan hanya Riska yang ia kenalkan padaku, tetapi juga seorang lelaki yang nampaknya ia sukai, namanya Yoga. Semuanya ia ceritakan padaku. Dulu, ia sempat menyukai Yoga. Ia sempat hancur berantakan saat tahu Riska menyukai Yoga sudah lama. Namun, semuanya ia anggap hanya mimpi buruk yang tak akan pernah terjadi. Ia pernah mengatakan padaku,

“Sesuatu yang sempurna itu tidak indah, karena sesuatu yang sempurna itu tidak akan membuat kita selalu berusaha untuk menjadi yang lebih baik” aku selalu ingat dengan kata-kata itu. Entahlah, semenjak aku mengenalnya semua hidupku terasa sangat berarti. Saat itu aku menjadi murid baru di sekolahnya, aku selalu melihatnya bersama Riska. Dan dari persahabatan mereka, aku ingin lebih mengenal sosoknya yang amat polos dan apa adanya. Ia mempunyai hobi yang sama dengan kakaku, yaitu melukis. Oleh karena itu, setiap aku melihatnya, aku selalu teringat kakaku Tiara yang saat ini sedang menjalanai study­-nya di Jogyakarta. Dulu, aku adalah seorang siswi yang suka tawuran, bolos sekolah, dan sangat brutal. Oleh karena itu, orangtuaku memintaku untuk pindah sekolah. Dan akhirnya aku bertemu dengan Andin dan Riska di sekolah baruku. Tapi, setelah tahu apa yang membuatnya separah itu, aku sempat menjauhi Riska. Namun, ia tidak suka dengan apa yang aku lakukan.
“Aku yang salah, kalau memang dari dulu aku suka sama Yoga, harusnya aku bilang. Dan Riska nggak akan dekat lagi dengan Yoga. Tapi semuanya udah terlambat Sar, Yoga udah suka duluan sama Riska. Aku nggak mau buat Riska kecewa dan benci sama aku” kata-kata itu ia ucapkan saat sedang dirawat di sebuah rumah sakit kanker di Jakarta. Bahkan, saat itu aku hampir debat dengannya hanya karena hal yang membuatku begitu tidak ikhlas. Tetapi saat Riska tahu jika selama ini Andin menyukai Yoga, Riska hanya tersenyum tak percaya. Sebab, selama ini yang menyukai Andin adalah Ari, sahabat Yoga yang tak lain adalah seseorang yang aku suka. Bahkan, Ari sempat menyembunyikan pos card foto 3x4 Andin saat persyaratan lomba lukis Andin tertinggal di sebuah cafe. Namun, Ari berpura-pura tidak tahu menahu tentang hal itu, hanya bantuan Yogalah yang ia andalkan untuk selalu dekat dengan Andin. Bukan hanya itu, pertemuan Andin dan Ari pun sangat terkesan romantis. Saat itu, Andin sedang melukis di sebuah perkebunan teh, tiba-tiba Ari memotretnya tanpa sepengetahuan Andin. Andin sempat marah dan bete hingga mengharuskannya segera pulang. Dan semenjak Andin meninggal, Ari sangat terlihat kesepian tanpa  kawan. Ia selalu murung dan seperti menyesali sesuatu yang tak ia ungkapkan pada Andin. Apa yang membuatku begitu tak nyaman dengan hal ini? aku begitu bodoh telah berani menyukai seseorang yang sedang merindukan sahabatku. Aku sempat melihat Riska menangis saat memandang foto Andin bersama teman-teman kelas yang terpajang rapi di depan kelas. Sepertinya Riska juga menyesali apa yang telah ia lakukan untuk sahabat terbaiknya. Walaupun sampai saat ini hubungannya dengan Yoga masih berjalan lancar, tetapi aku selalu melihat rona haru yang lekat dalam wajahnya. Saat acara perpisahan SMA sebulan lalu pun, begitu banyak airmata yang tumpah saat nama Andin Syafira disebut dalam Best Student University. Andin mendapat tiga beasiswa ke 2 Universitas ternama di Indonesia dan 1 Universitas ternama di Melbreun, Australia. Semenjak kelulusan SMA kemarin, aku sepi. Bukan hanya sepi karena kehilangan Andin, namun juga sepi karena ketidakhadiran orangtuaku dalam acara perpisahan sekolah.  Mungkin hanya buku diary Andin yang masih menemaniku untuk meneruskan hari.
Aku lupa dengan cerita cinta Riska dan Yoga. Toh mereka pun sudah tidak satu kampus denganku. Hanya Ari yang masih ada di pikiranku. Mungkin bukan hanya saat ini, tapi untuk seterusnya. Ia masih terlihat murung dan tak karuan, ia hanya fokus pada hobinya yang sama denganku, yaitu fotograp. Suatu saat, aku tak sengaja bertemu dengannya dalam acara fotografer of paint yang diadakan di kampusku. Dalam acara ini, banyak sekali fotografer-fotografer yang berpartisipasi dalam memamerkan buah karya mereka. Termasuk aku dan Ari.
“Ikut event ini juga ya?” tanyanya padaku saat aku sedang memotret karyanya. Ia  membuatku terkejut bukan kepalang.
“Menurut lo gambar gue gimana?” tanyanya seperti meminta pendapat.
“Bagus, makanya gue berhenti di gambar ini” jawabku senyum.
“Owh, thanks. Gambar lo yang mana?” tanyanya mulai berjalan ke kiri dengan mengalungkan kamera Cannon-nya di leher.
“Ini gambar gue” tunjukku pada sebuah gambar hati yang aku dapatkan dari diary Andin.
“Kayaknya gue pernah lihat tulisan ini deh!” ucapnya. Aku sudah tahu apa yang ada dalam benaknya, aku yakin ia pasti sudah mengira kalau tulisan di sekitar gambar hati itu adalah tulisan Andin.
“Emang tulisan siapa?” tanyaku memastikan.
“Hahaha, gue inget-inget lupa.” ia langsung menyerah seperti ingin hilang ingatan tentang Andin.
“Gue tahu cerita lo kok. Be patient. Lo nggak sendiri, masih banyak orang yang perduli sama lo” Aku coba mengusap pundaknya, layaknya sahabat dekat yang selalu ada.
Thanks” Ia coba tersenyum. Kadang hari-hariku selalu dihiasi olehnya, tapi kini sepertinya aku harus lebih bijak dalam menentukan sikapku. Aku tahu, meski pun Andin sudah tidak ada lagi di sini, mungkin perasaan Ari masih tetap untuknya. Aku akan berusaha menetralkan perasaanku. Layaknya sebuah daun yang baru jatuh dari rantingnya karena layu, aku terus tersenyum sebisa mungkin untuk Ari.
            Sebulan berlalu, masa haru dan duka terasa hilang dalam hidupku. Tetapi, aku masih melihat Ari murung. Ia tak pernah tersenyum sejak kehilangan Andin. Mungkin ia kecewa pada waktu yang tak pernah melihat perasaannya bahagia. Siang ini, mendung nampak jauh. Ia pergi bersama kenangan. “Ari?” Batinku. Ia sedang mengarah padaku.
“Hi Sar?” sapanya padaku.
“Hi juga” balasku. Perasaanku kembali tumbuh untuknya, dan rasa itu hanyalah sepenggal tangisan masa lalu yang pernah aku hadirkan untuknya.
“Ntar siang cari angle yang bagus yuk? Dan habis itu, kita makan di cafe. Seru tuh kayaknya! Mau nggak?”
“Oke, i do!” jawabku senang.
“Gue tunggu di depan gerbang kampus jam 3 ya? bye!” ia pergi meninggalkanku. Harum parfumnya masih tertinggal di sini, aku tak percaya Ari bisa seceria itu padaku. Tak biasanya ia seperti ini. Tuhan, semoga ini bukan mimpi.
 Jam 3 sore ini, aku pergi bersamanya di suatu tempat yang sangat indah. Sebelumnya, aku tak pernah melihat tempat seindah ini. Mungkin bukan hanya indah, tapi romantis. Namun entah kenapa, aku langsung teringat Andin. Aku baru sadar, ini adalah tempat pertemuan awal Andin dan Ari. Ini adalah tempat yang seharusnya membuatku menangis.
“Eh, gue mau ambil gambar lo di sini. Bagus kan angle-nya?” tanyanya sambil memotretku.
“Bagus kok, gue juga suka tempat ini.”
“Iya, lo harus suka tempat ini. Haha” setelah aku dan ia puas tertawa di tempat kenangannya, ia langsung mengajakku ke sebuah cafe. Dan entahlah, tiba-tiba langkahku terhenti saat Ari memilih lokasi duduk di sini. Ini adalah tempat duduk Andin saat tidak sengaja meninggalkan formulir lukisnya dan juga novel Harry Potter-nya – The chamber Of Secret. Tepat di samping dinding kaca, yang jika hujan akan terasa pilu. Dan Ari memesan secangkir moccachino hangat. Sedangkan aku memesan lemon tea untuk menyegarkan panasnya terik matahari yang sedari tadi menyinari tubuhku.
“Kenapa si kita harus duduk di sini? Di sini kan panas, sinar mataharinya tembus dari kaca ini. Dan kenapa juga lo pesan moccachino hangat? Ini kan panas, aneh banget si!” aku mulai kesal dan tak mau berlama-lama di sini.
“Di sini kita bisa lihat tempat yang tadi kita kunjungi. Tuh, bagus kan?” ia menunjuk tempat itu. Aku hanya menggelengkan kepala dan menyandarkan tubuhku di diniding kaca.
“Ri, gue bukan Andin!” ucapku perlahan. Ia diam. Dan mencoba untuk menghadirkan tawanya yang sangat palsu di hadapanku.
“Gue harus pulang sekarang!” aku pun meninggalkannya sendiri dengan senyumnya yang masih merekah untuk Andin. Dalam setiap hembusan angin yang selalu menemani langkahku, tanpa kusadari, sudah terlalu lama aku tak pernah menjatuhkan air mata seperti ini. dan aku pun tak pernah mendapatkan sesuatu hal yang sangat menyakitkan seperti ini.
Kini, aku tahu bagaimana sakitnya Andin saat itu. Tapi, mungkin aku lebih sakit darinya. Tiada yang mencintaiku lagi, dan tiada yang harus aku harapkan lagi kecuali melupakan semua kenangan Andin dan Ari. Aku sudah terlalu jauh melangkah, andai saja waktu dapat menghentikan sandiwara ini, mungkin saat ini aku pasti akan sangat bahagia dalam hidupku. Saat itu, aku mulai terpuruk. Aku hanya tak mengerti mengapa Ari tak pernah berusaha untuk mencintaiku. Suasana indah sudah lama tak pernah aku ciptakan lagi. Hanya ada aku dan bintang yang selalu setia menemani cerahnya dunia. Lebih baik aku lupa dan tidak memaksakan mengapa aku diciptakan dengan liku yang begitu indah. Aku yakin, semua orang iri padaku, semua orang ingin sepertiku yang memiliki cerita indah dalam hidup. Dan, entahlah.












Tidak ada komentar: