Semua tugas
telah aku tuntaskan siang tadi
sepulang kuliah.
Kini aku bisa bersantai
ria menikmati hangatnya teh
buatan Mama di kamarku yang bernuansa Hello Kity.
Posisiku kali ini adalah tiduran santai
sembari melihat satu persatu album kenangan. Aku membuka satu persatu lembar
album itu yang berisikan foto-fotoku dulu hingga sekarang. Setelah cukup lama
membulak-balik lembar demi lembar album, kini tanganku terhenti dan mataku
fokus pada satu titik. Fotoku dengan seorang anak laki-laki sedang bersepeda di
depan rumah.
Entah kenapa aku
tertawa sekencang mungkin. Sudah lama sekali aku tidak melihat tetanggaku yang
satu itu. Dulu, badannya gendut dan sering diejeki oleh teman-temannya dengan sebutan karung gandum.
Ke manakah
gerangan? Namanya Dion, tepatnya
M. Dion Nitikusuma. Ia
adalah tetangga sekaligus sahabat masa
kecilku, dan sekarang sudah
pindah ke Jakarta. Kami berpisah
saat usia kami 9 tahun. Entah
bagaimana ia saat ini. Aku sudah kehilangan kontaknya, tapi sepertinya Mama
masih menyimpan nomer orangtuanya. Ah,
rindu sekali rasanya dengan sahabatku
itu. Kulihat rumah mewah di depan sana, kugeser gorden dan aku duduk di tepian
kasur sambil mendekap foto itu begitu
hangat. Aku bergegas menuju Mama dan Papa yang
sedang asyik menonton film di ruang keluarga.
“Ma, aku kangen banget deh sama keluarga
om Niti” laporku pada Mama.
Mama dan Papa yang sedang asyik
menonton konsentrasinya buyar dengan kehadiranku. Mama dan Papa seperti terheran dengan perkataanku.
Dan mereka saling pandang sambil mengelus rambut panjangku. Biasanya Mama dan
Papa langsung melakukan hal yang aku inginkan, apapun itu. Maklumlah aku adalah
anak semata wayang mereka. Dan aku sangat berharap, mereka dapat mengajakku
untuk bertemu dengan keluarga Nitikusuma.
Malam
ini, aku sibuk dengan kerjaan baruku mencari Dion. Bagaimanapun aku harus
bertemu dengan Dion karena sebentar lagi teman-teman
lulusan SD AL-Azhar Kota Serang
akan menggelar reunian. Rasanya tepat sekali kalau aku mengajak Dion untuk
reunian kalau ia pulang ke Serang nanti. Kucari
nama Dion di facebook. Aku menemukan facebook
dan twitter M.Dion Nitikusuma, Jakarta. Aku sangat yakin
ini adalah Dion tetanggaku yang dulu sering bersepeda denganku sampai larut
malam dan lupa mandi. Aku
langsung meng-addfriend facebooknya
dan ku follow twitternya.
Entah kenapa
baru kali ini aku
kembali teringat Dion yang sudah 10 tahun ini kulupakan. Saat aku stalking fotonya, sayang sekali Dion
tidak memakai foto sendiri melainkan foto pemain sepak bola dari club Real Madrid. Dari dulu Dion memang tidak suka
menampakkan diri, mungkin karena tidak pede atau hal lain. Kutunggu konfirmasi
darinya sampai larut malam hingga
aku tertidur di depan laptopku, namun tak pernah ada notifications darinya. Sungguh menyebalkan.
Seminggu
berlalu, Mama dan Papa mengajakku untuk bertemu dengan kawan lamanya di Bandung. Untungnya minggu ini
aku memang libur kuliah, sehingga aku dapat mengikuti kemauan Mama dan Papa.
Sepanjang perjalanan, aku masih terbayang Dion yang sampai saat ini belum juga
mengonfirmasi facebook
dan twitterku.
Beberapa
jam kemudian, kami sampai ke tempat
tujuan. Kami menuju ke sebuah villa. Sungguh
melelahkan perjalanan kali ini. Cuaca pagi ini sangat cerah dan tak ingin aku
lewatkan begitu saja. Mama dan Papa
memang tahu apa yang aku mau diliburan kali ini. Satu jam kemudian, dua mobil
datang menghampiri kami. Ternyata di dalam kedua mobil tersebut ada 3
keluarga yang akan berlibur dengan kami di tempat ini. Ada satu
keluarga yang sampai saat ini masih aku ingat. Keluarga Tante Arin dan Om Niti. Ya, mereka
adalah keluarga Nitikusuma. Dan kini akhirnya aku bertemu Dion. Tubuhnya atletis dan
ia sangat tampan. Dan akhirnya kami menginap dalam satu villa yang sangat
besar.
Pesta malam dimulai. Hidangan jagung
bakar dan juga buah nanas
siap dinikmati. Dinginnya malam semakin hilang dengan hangatnya suasana
kekeluargaan malam ini. Aku
benar-benar senang dengan liburan kali ini. Apa lagi dari jauh sana
seperti ada seseorang memakai sweater
yang juga sedang memantauku dengan kopi panasnya. Lagu-lagu lawas kembali dinyanyikan oleh
keluarga-keluarga itu. Lagu kemesraan milik Iwan
Fals dinyanyikan oleh Om Niti dan Tante Arin dengan iringan gitar Papa.
Suasana semakin
menjadi ramai.
Aku dan
Dion terhanyut dalam suasana nostalgia ala-ala kepala 4 ini. Kadang dari jauh
kami saling pandang dan saling menggelengkan kepala sambil tertawa melihat
keseruan mereka. Malam
ini kami sudah sempat bertukar pin bbm untuk komunikasi. Kami sepakat, besok pagi
kami akan lari pagi mengitari kawasan puncak
perkebunan teh ini. Sebenarnya kami
ingin sekali untuk bersepeda seperti masa kecil dulu, tapi karena sepedanya
tidak ada maka solusinya adalah lari pagi.
Matahari belum
menampakkan wujudnya, namun Dion sudah membangunkanku untuk segera bergegas.
Akupun bersiap. Dalam
setiap kesempatan kami tertawa bersama dan berteriak untuk melepas dinginnya
pagi dan menembus embun. Berhektar-hektar perkebunan teh bisa terlihat dari
sepanjang perjalanan kami. Sungguh menyenangkan. Di tengah perjalanan kami
menemukan kedai kopi dengan pemandangan yang sangat indah. Kami berhenti dan
menikmati hangatnya kopi di
atas puncak ini. Duduk diatas batu besar kami asyik
menikmati secangkir kopi panas.
“Terus kapan lo
mau main ke Serang lagi?” tanyaku. Namun Dion seperti enggan menjawab karena alasan sibuk
kuliah, skripsi dan lain-lain. setelah lama kami ngobrol, ia
mengajakku untuk kembali ke villa.
Padahal aku ingin sekali berlama-lama ditempat ini. Sepanjang perjalanan kami
sambil mengobrolkan tentang kuliah kami yang hampir semester akhir. Benar-benar
belum pernah terfikirkan aku dan Dion akan seperti ini lagi. Bisa jalan-jalan lagi seperti masa
kecil kami, ya walaupun bukan bersepeda
tapi aku sangat menikmati perjalanan dan bisa
menikmati liburan bersama. Matahari sudah mulai menampakkan diri layaknya
menari bahagia melihat kebersamaanku dengan sahabat kecilku.
Sudah dua hari
ini kami berlibur. Perjalanan yang cukup melelahkan sudah kami lalui dan kini
saatnya kami berpisah. Aku masih fokus pada Dion sahabatku yang entah kenapa
saat ini seperti hadir di dalam
hati.
“Saatnya kita
semua berpisah!!
Mungkin nanti ketemuannya bisa diatur lagi next
hollyday.” Om Niti menutup liburan.
“Iya, semoga
nanti kita sesering mungkin ketemu ya Jeng,” timpal Mama pada yang lain.
“Beberapa bulan
lagi juga Dion mau wisuda, kalau bisa dateng ya? masih di Bandung juga kok” kata Tante Arin.
“Wah, pasti senang ni Dion dihadiri
oleh banyak keluarga. Apalagi sama Nadine” tambah
tante Arin lagi. Ada satu nama
yang seperti tak salah aku dengar. Siapa Nadine? Pacar Dion? Aku langsung
mengarah pada Dion yang terlihat sumringah mendengar nama itu. Entah kenapa
setelah mendengar kalimat tadi rasanya aku ingin cepat mengakhiri bincang-bincang
kali ini. Aku ingin masuk dalam mobil dan merengkuk kesal. Iya, mungkin aku
salah jika menyukai sahabat kecilku itu. Tetapi
bagaimanapun aku sangat berterimakasih pada orangtuaku yang sudah mempertemukan
kembali dengan sahabt kecilku. Dan liburanpun berakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar