Mata
itu tajam. Tajam sekali, seperti seekor elang yang tahu mangsanya dan kemudian
menyergap dari atas. Denyut nadi seakan berhenti dan detak jantungpun seperti
bergolak dan seisi organ tubuhku ingin lari saja. Aku masih diam dengan
menggigil. Aku tidak kedinginan, namun hanya takut dengan keadaan yang begitu
memaksa. Hanya satu kesalahanku kali ini, namun satu masalah yang tidak
kusengaja ini akan membuatku hancur dalam hitungan detik. Kebuasannya membuatku
takut untuk berbagi, berbagi apapun itu. Entah batin, cerita, tawa atau apalah
itu bahkan senyumpun aku tak bisa. Semuanya hamper kupendam sendiri, adapun
tempat berbagi itu hanyalah ilusi dan teman-teman saja yang tak mungkin
kupercaya penuh. Atau bahkan hanya jadi bahan tertawaan mereka saja dan atau
malah menjadi momok yang menyeramkan.
Pagi itu, aku hanya bersiap bangun
pagi kemudian memulai aktifitasku dengan baik, dan sebelunya aku hanya berdoa
“Tuhan … semoga hari ini aku mendapatkan hal baik apapun itu. Semoga hariku
kini indah dengan diawali pagi yang indah pula.” Kutebar senyum sembari menata
aktifitas. Bahkan embunpun kala itu masih sanggup menyelinap demi aku yang haus
bahagia. Namun, kau tahu apa yang terjadi??
Sekali lagi. Hari ini aku hanya ingin bahagia dengan
mengawali pagi ini dengan indah. Namun … semuanya harus aku pasrahkan lagi
dengan hal yang tak pernah kusangka akan seperti ini jadinya. Mata tajam itu
kembali beraksi dengan sejuta pertanyaan “apa lagi salahku” bukankah semua
sudah kulakukan dengan baik petang tadi? Aku hanya bisa menunduk dan
berlinangan air mata. Aku hanya bisa itu. Bahkan aku ingin kembali masuk ruang
kosong kemudian mengisak kembali namun tak sanggup. Jika itu yang aku lakukan
hanya akan membuang waktu saja. Kemudian, kurevisi doaku “Jika pagi ini aku tak
dapat bahagia di istanaku, aku berharap semoga aku bahagia diluar sana,
Tuhanku”
Kemudian
aku berlari. Aku berlari dengan hal yang tak mungkin bisa mengertiku. Kau tahu
rasanya seperti apa? Aku tak seperti mereka yang bisa tertawa kemudian sekedar
mencicipi sarapan yang terhidang dimeja makan. Tidak!
Aku hanya
manusia yang ingin bahagia, kemudian berpelukan dengan insane sedarah denganku.
Hanya itu saja. Dalam hatiku hanya sanggup mengatakan "Sabar, Bersyukur" O:)
Dok. Serang-Kamis, 07 April 2016
12.00 WIB

Tidak ada komentar:
Posting Komentar