Rabu, 06 April 2016

BAGAIMANA DENGANKU?

Mata itu tajam. Tajam sekali, seperti seekor elang yang tahu mangsanya dan kemudian menyergap dari atas. Denyut nadi seakan berhenti dan detak jantungpun seperti bergolak dan seisi organ tubuhku ingin lari saja. Aku masih diam dengan menggigil. Aku tidak kedinginan, namun hanya takut dengan keadaan yang begitu memaksa. Hanya satu kesalahanku kali ini, namun satu masalah yang tidak kusengaja ini akan membuatku hancur dalam hitungan detik. Kebuasannya membuatku takut untuk berbagi, berbagi apapun itu. Entah batin, cerita, tawa atau apalah itu bahkan senyumpun aku tak bisa. Semuanya hamper kupendam sendiri, adapun tempat berbagi itu hanyalah ilusi dan teman-teman saja yang tak mungkin kupercaya penuh. Atau bahkan hanya jadi bahan tertawaan mereka saja dan atau malah menjadi momok yang menyeramkan.
Pagi itu, aku hanya bersiap bangun pagi kemudian memulai aktifitasku dengan baik, dan sebelunya aku hanya berdoa “Tuhan … semoga hari ini aku mendapatkan hal baik apapun itu. Semoga hariku kini indah dengan diawali pagi yang indah pula.” Kutebar senyum sembari menata aktifitas. Bahkan embunpun kala itu masih sanggup menyelinap demi aku yang haus bahagia. Namun, kau tahu apa yang terjadi??


Sekali lagi. Hari ini aku hanya ingin bahagia dengan mengawali pagi ini dengan indah. Namun … semuanya harus aku pasrahkan lagi dengan hal yang tak pernah kusangka akan seperti ini jadinya. Mata tajam itu kembali beraksi dengan sejuta pertanyaan “apa lagi salahku” bukankah semua sudah kulakukan dengan baik petang tadi? Aku hanya bisa menunduk dan berlinangan air mata. Aku hanya bisa itu. Bahkan aku ingin kembali masuk ruang kosong kemudian mengisak kembali namun tak sanggup. Jika itu yang aku lakukan hanya akan membuang waktu saja. Kemudian, kurevisi doaku “Jika pagi ini aku tak dapat bahagia di istanaku, aku berharap semoga aku bahagia diluar sana, Tuhanku”
                Kemudian aku berlari. Aku berlari dengan hal yang tak mungkin bisa mengertiku. Kau tahu rasanya seperti apa? Aku tak seperti mereka yang bisa tertawa kemudian sekedar mencicipi sarapan yang terhidang dimeja makan. Tidak!


Aku hanya manusia yang ingin bahagia, kemudian berpelukan dengan insane sedarah denganku. Hanya itu saja. Dalam hatiku hanya sanggup mengatakan "Sabar, Bersyukur"  O:)






Dok. Serang-Kamis, 07 April 2016 
12.00 WIB 

Tidak ada komentar: