
“De, ayah
dirawat di rumah sakit” kata
kakaku Putra. Hari
ini aku sangat merasa bersalah karena kemarin aku menentang kemauan ayah agar
aku berhenti dari ekskul basketku. Aku
hanya tinggal bertiga bersama ayah dan kakaku Putra yang kemarin genap berusia
dua puluh tahun, sedangkan ibuku telah meninggal dunia sejak usiaku balita
karena sakit keras. Tak ada yang bisa kujelaskan lagi saat ini, karena
begitu sibuknya aku menemani ayah dirawat disebuah rumah sakit di kotaku, ketakutanku
semakin bertambah karena rasa bersalahku.
“De gantian
temenin ayah sana !” kata ka Putra padaku yang baru saja pulang sekolah
“Aduh kak, aku lagi
banyak tugas di sekolah
!” jawabku
“Makanya
jangan ngurusin ekskul yang gak
penting! gue lebih banyak tugasnya daripada lo, udah sana
ke rumah
sakit, kasihan
itu ayah enggak ada
yang nemenin”.
Dengan membawa martabak
kesukaan ayah, sore
ini aku bergegas untuk menemuinya. Sesampainya di tempat,
untuk pertamakalinya aku melihat ayah terbaring lemah di ranjang
rawatnya, begitu
sangat merasa bersalahnya aku jika tidak menemaninya malam ini, terlebih
pasien di samping
ayah juga tidak ada yang menemani.
“Pah, kemana aja
si?? pokoknya
Deni mau pindah dari ruangan ini? sejak kapan coba papa
tempatin Deni di tempat
sempit kayak gini??!!” suara pasien sebelah yang sangat tidak sopan itu sangat
mengganguku dan ayah yang sedang tidur.
“Maaf, telephonenya bisa
pelan enggak? ayah saya
lagi istirahat” pintaku selembut mungkin. Pasien itu hanya diam dan
benar-benar tidak mempedulikanku.
“Hallo
Alan? Lo kapan mau ke sininya?”
“Iya ntar
malem gua kesana, udah
ya gua lagi sama Mika. Bye
Deni !!” sepertinya ia baru menelphone temannya. Percakapan-percakapan
yang sangat membosankan sering kudengar dari pasien itu, M.Deni
Irawan, 17th.
Itu adalah sedikit identitas yang dapat kukenali dari papan nama di ranjangnya.
Ayahpun terbangun dari tidurnya yang kurasa tak nyenyak karena suara berisik
dari pasien seusiaku itu.
“Ayah makan
ya? sebelum
minum obat kan ayah harus makan dulu” ucapku pada
ayah.
“Iya de,
kakakmu mana?” tanya
ayah.
“Malam ini
yang nemenin ayah Prima dulu yah, besok baru deh kak Putra, katanya si
kak Putra lagi banyak tugas di kampus”
“Owh jangan
Prima dong, besok kan Prima harus
sekolah. Ayah sendiri juga enggak apa-apa kok, kan ada
tetangga nih pasien sebelah” kata ayah sedikit memanjakanku.
“Tapi kan
tetangga sebelah juga enggak
ada yang jagain yah.” bisikku
“Gak apa-apa, ayah udah
lumayan baikan kok. Masa si udah dirawat tiga hari enggak
baik-baik juga!”
“Ya udah deh, terserah
ayah aja, hehehe”
tapi
bagaimanapun aku harus bermalam di rumah sakit
untuk menemani ayah, meskipun
paginya kau harus kesekolah lagi.
Tepat pukul 20:00 WIB ayah memintaku untuk membeli bubur
ayam di kantin
Rumah Sakit.
Sekembalinya aku dari membeli bubur di kantin, di dalam ruang
inap ayah begitu tampak ramai, tiga remaja susiaku datang
untuk menjenguk Deni, dan ketiga-tiganya adalah
laki-laki.
“Ternyata
bisa sakit juga ya lo Den? hahaha” ejek
salah seorang temannya yang berbadan jumbo.
“Hahha, terus kata
dokter lo udah boleh pulang kapan?” tanya seorang temannya lagi
yang rasanya kemarin Deni telephone, Alan.
“Gue juga enggak tahu,
mana bokap enggak
ngurusin banget lagi !” jawab Deni sok tengil.
“Sabar aja
Den, walaupun
lo enggak ada
yang jagain dan ngurusin kalau ada orang baik juga pasti simpati kok sama lo”
kata seorang temannya lagi yang bergigi behel sambil melirikku.
“Hahahaha
bisa aja lo Den, tahu
aja lo ada yang gituan!” sambung
Alan lagi seperti sedang melirik ke arahku.
Entah ada apa perasaanku mulai benar menduga jika mereka sedang membicarakanku
setengah menyindir. Setelah satu jam lebih mereka baru meninggalkan ruangan dan
berpamitan pada ayah dan aku,
“Om, titip temen
saya ya Om, kasian
tuh om enggak ada
yang nemenin” ucap bergigi behel itu pada ayah sambil bersalaman dan diikuti
yang lain seperti mengharapkan sesuatu. Sedangkan Deni hanya cengar-cengir
membuatku sangat kesal.
“Iya iya.
Hati-hati ya di jalan”
balas ayah. Setelah
mereka pergi hanya ada aku, ayah, Deni, dan
beberapa suster serta perawat yang bolak-balik untuk menensi darah ayah dan
Deni. Setelah kupikir-pikir kasihan juga Deni, tidak ada
yang menemaninya disaat dia sakit seperti ini. Apalagi berdasarkan cerita ayah
tadi, ia
sudah dua hari ini dirawat karena kecelakaan, tetapi tidak ada satu
keluarganyapun yang menjenguknya. Tengah malam, tepatnya
pukul 00:01 WIB kudengar suara selimut yang mulai bergeser dari tubuh seseorang
yang dingin, ternyata Deni, entah mau kemana dia, kalau saja aku
tak ingat dengan kata-kata ayah tadi, aku pasti
masa bodo dengannya. Akupun menghampirinya yang sibuk dengan infusnya.
“Mau kemana?”
tanyaku. Dia hanya diam dan terus sibuk dengan infusnya yang terlihat mati.
“Mau gue
tolongin enggak?”
tanyaku lagi.
“Kalau mau
nolongin orang enggak
usah pake acara nawar-nawarin gitu!” balasnya jutek.
“Ya udah sekarang
lo mau kemana? Mau pipis? gue
anter. Ayo!” kataku lagi menuntunnya berjalan.
“Udah enggak usah, gue bisa
sendiri kok!” jawabnya melepas tanganku dari pundaknya. Sepertinya aku sudah
mulai naik darah seperempat centi karenanya. Lalu aku biarkan ia berjalan
sendiri seperti orang mabuk, naasnya ia terjatuh. Aku sangat terkejut melihatnya.
“Ya Allah ya
Allah, lo gak apa-apa kan? aduh lo belagu sih! gak mau gue
tolongin !” kataku kesal dan coba membangunkannya dari jatuh.
“Gue mau ke toilet!.” ujarnya
setengah ngos-ngosan. Lalu aku antarkan ia ke toilet, dengan
gugupnya pintu toilet ia kunci. Ada yang aneh dengannya, karena sudah
lumayan lama aku menunggunya keluar dari toilet, tetapi ia
tak kunjung keluar. Ku ketuk pintu toilet itu. Benar-benar tak
ada suara dan gerak apapun di dalam, aku sangat
mengkhawatirkannya karena takut terjadi sesuatu padanya. Pikiranku sudah tak
karuan dan benar-benar berantakkan.
“Heii Deniii ... Deni lo
ngapain si kok lama banget?” tanyaku gugup sambil mengetuk pintu. Aku begitu
cemas dan hampir kupanggil seisi rumah sakit untuk mendobrak pintu itu. Aku
panggil ia berulang kali namun masih tak ada jawaban, namun kali ini....
“Deni .. lo enggak apa-apa
kan?! Hallo???” panggilku lagi
“Lo itu
berisik banget ya!
gimana gue
mau pipis kalau lo terus manggilin gue kayak dihutan?!” bentak Deni keluar
dengan menampakkan kepalanya saja.
“Ya tapi lo
jawab dong panggilan gue !” balasku kesal.
Ini benar-benar hal yang sangat menyebalkan
sekaligus sangat tak masuk akal jika hanya buang air kecil saja sampai
berjam-jam tak dapat keluar. Setelah empat puluh lima menit aku menunggunya di depan
toilet, akhirnya
iapun keluar dengan wajah tengilnya.
“Udah sana lo
tidur!, cewe kok
jam segini belum tidur !” ucapnya membuatku tambah kesal.
“Gue enggak tidur
itu karena nolongin lo tau’ !!” Bentakku
“Ya udah, thanks ya? gue mau tidur. Jangan
ganggu gue !” balasnya tanpa dosa.
Aku masih tak percaya dan
berdiri di depannya
yang sudah terbaring dan memejamkan mata. Seperti melihatku masih berdiri
didepannya, iapun
kembali membuka matanya
“Ngapain lo
masih di sini?
Perasaan, gue udah
terimakasih deh sama lo, udah
sana tidur!” katanya lagi. Akupun kembali dekat ayah dan tidur, meskipun
darahku mulai naik turun karena Deni.
Paginya
kak Putra sudah menjemputku untuk kembali beraktifitas sekolah seperti biasa.
Di kelas, aku begitu
merasakan kantuk yang tak tertahan, hingga
konsentrasiku kali ini benar-benar hilang. Tak ada satupun mata pelajaran yang
dapat kunikmati hari ini. Rasanya ini adalah efek dari kejadian semalam yang
membuatku berantakan dan menjadi orang yang sangat bodoh karena Deni, kejadian
menyebalkan itu benar-benar tak hilang dari otakku. Nanti siang aku harus
merelakan absen ekskulku terisi C karena harus menemani ayah lagi di rumah
sakit. Tapi sedikit senang rasanya karena baru saja aku mendapat kabar dari kak
Putra kalau keadaan ayah sudah membaik. Ketika aku kembali kerumah sakit untuk
ayah, disana aku kembali bertemu dengan Alan dan kawan-kawan Deni yang
masih berseragam sekolah putih abu-abu sama sepertiku. Mereka seperti sedang
asik ngobrol sambil ketawa-ketiwi, tetapi sampainya menginjakkan kaki
indahku di ruangan
itu, mereka diam menyepi dan semua mata tertuju padaku, terutama
Deni yang melihatku sambil mengusap mukanya yang penuh jerawat.
“Yah, kata
kak Putra besok ayah sudah
boleh pulang ya?” tanyaku pada ayah yang sedang makan siang.
“Katanya si
begitu ..”
“Syukur deh
yah kalau gitu. Hehehe”
“Eh Den,
katanya lo besok mau maksain pulang ya??” Tanya teman Deni yang berbadan jumbo
itu setengah teriak kearahku dan ayah.
“Owh, besok
Deni mau pulang?” sambar ayah membuka gorden Deni
“Emmm anu om,
gak juga kok.
Heeee” jawab Deni gugup dan melirik kearah temannya yang berbadan
jumbo tadi.
“Wah, enak ya om
kalau sudah boleh
pulang” sambung Alan melirikku dan Deni. Ayah hanya tersenyum melihatku, aku
semakin curiga dengan tingkah semua lelaki yang ada di ruangan
ini, atau apakah sebenarnya ayah tahu apa yang sebenarnya terjadi antara aku
dan Deni? Aku benar-benar tak mengerti, atau
mungkin aku memang terlalu pede karena
ulah Deni yang membuatku menjadi konyol?, hari ini ayah banyak bercerita padaku
tentang Deni, Deni adalah putra tunggal dari seorang pengusaha di Surabaya,
dulu ia tinggal bersama neneknya di Jakarta
karena ibunya meninggal dunia, tapi sekarang ia tinggal bersama ayahnya yang
tak pasti kapan akan pulang dan menemuinya di sini, asal muasal
ia dirawat di ruangan
yang tak selayaknya ia huni inipun menjadi sebuah tema yang besar dalam
hidupnya, kemehan adalah hidup Deni, namun sejak ditinggalkan oleh ibu dan
neneknya kini ia tak berarti apa-apa lagi dengan kemehan yang selalu
memanjakannya dimanapun ia berada. Ayahnya sengaja menempatkannya di ruangan
yang pas-pasan untuk dua orang pasien ini karena sebab, yaitu tak ada yang
menemani Deni jika ditempatkan di ruangan yang mewah. Dan tak
ada yang menolong jika terjadi sesuatu padanya, namun jika Deni ditempatkan di sini sudah
tentu akan ada orang yang selalu menjaganya saat sakit seperti ini. Mungkin
saja dalam beberapa waktu ini selain aku menjaga ayah yang sedang sakit, aku
juga sekaligus merangkap menjadi wonder
woman untuk Deni, karena tak mungkin sekali rasanya kak Putra yang berbaik
hati dan sabar membantu Deni yang egonya tingkat dewa. Kasihan sekali Deni, tak
ada yang perduli padanya, mungkin hanya segelintir teman-temannya saja yang
akan selalu membuatnya tertawa bahagia.
Pagi
yang sangat cerah, hari ini adalah hari libur, saat aku
mendorong kursi roda ayah di taman rumah sakit, aku
melihat Deni bersama seorang gadis seusiaku sedang berjalan
berdua menitih Deni untuk pulih berjalan dari kecelakaannya, mereka
terlihat sangat romantis dan bahagia. Aku sempat bertanya-tanya siapa gadis
itu? Tapi untuk apa aku harus tahu, karena itu
bukanlah urusanku. Tak kutampakkan wajah usangku pada mereka. Aku mencoba focus
pada ayah yang sudah difonis baik oleh dokter. Aku tak perlu repot-repot lagi
untuk jadi wonder woman Deni yang
datang tiba-tiba dan seperti sudah kenal lama dengannya. Siang harinya,Deni
tampak sendiri lagi di ruangan ini.
“Prima??” Deni memanggilku yang sedang
merapikan gorden sekat ruangan ayah dengannya dengan suara lembut.
“Lo tahu nama gue?
ada apa Den?” dengan pedenya aku menghampiri.
“Dari abang
lo. Bokap
lo besok pulang ya?” tanyanya seperti tak ingin kutinggalkan
“Iya,
memangnya kenapa?”
“Yaaa..
berarti besok gue kesepian ya?” keluhnya sedih beracting didepanku.
“Bukannya
semalem temen lo yang gendut itu bilang kalau hari ini lo mau pulang?“
“Owh, itu namanya
Bobby, dia
emang suka ngawur. hehehe.
Enggak kok gue
belum boleh pulang”
“Terus berarti lo enggak suka
kalau bokap gue sembuh dong?”
“Ya enggak gitu
juga si, tapi kan gue gimana? hehehe”
“Lo baik atau
pura-pura baik si? kemarin
lo bentak-bentak gue? terus sekarang lo baikin
gue, kenapa
lo?” tanyaku blak-blakan.
“Iya, gue mau
ngucapin makasih
banget sama lo selama gue disini, gue
jadi nyaman aja karena lo, tadinya gue pikir mana mungkin gue bakal betah
dirawat di ruangan
yang kayak gini? tapi
ternyata gue betah juga, hahaha” ucapnya sedikit membuatku melayang dan hampir
tersenyum.
“Iya sama-sama”
jawabku meninggalkannya keluar ruangan.
“Emm eh
Prima, sebelum lo besok pulang, ada yang mau lo omongin gak sama gue?” tanyanya
pede dan membuatku berpikir tentang unek-unekku.
“Gak ada”
jawabku singkat dan sok cuek.
“Owh. Gitu?
Ya udah, kalau
ada yang mau lo omongin, omongin aja ok.” ucapnya lagi
seperti memaksaku untuk menanyakan sesuatu padanya. Sepanjang perjalanan
menebus obat diapotek aku terus memikirkannya dan berandai-andai jika besok
akan terjadi sesuatu antara aku dengannya.
Haripun
berganti begitu cepat dan penuh cerita, aku dan kak Putra sibuk menyiapkan
segala sesuatunya untuk kepulangan ayah kerumah, aku sibuk membereskan
barang-barang ayah diruangan itu, sedangkan kak Putra yang membawa ayah ke mobil untuk
dibawa pulang, ayah sempat berpamitan pada Deni untuk pulang duluan sekaligus
menasihati Deni agar minum obat yang teratur dan jangan telat makan. Saat aku sedang
membereskan semua barang-barang ayah di ruangan
itu, Deni
terus melihat kearahku, karena hanya ada aku dan
Deni di ruangan
itu, bahkan ia sempat memintaku untuk mengganti channel televisi dengan remot
control yang berada di ranjang ayah.
“Prima, thanks ya buat semuanya?”ucapnya
saat akan aku tinggal. Begitu beratnya aku melangkahkan kaki ini. Aku hanya
diam melihat Deni tersenyum padaku.
“Jadi, enggak ada
yang mau lo tanyain ya kegue?” tanyanya. Sebenarnya aku ingin sekali
menanyakan siapa gadis yang pagi itu bersamanya, tapi tak
pantas sekali aku menanyakan itu padanya yang sedang sakit.
“Kalau ada
yang mau ditanyain atau lo mau buat pernyataan kegue, lo ngomong aja” katanya
lagi hingga membuatku yakin kalau Deni menyimpan suatu perasaan yang sama
denganku.
“Enggak ada,
kalau lo mau buat satu pernyataan atau pertanyaan kegue boleh kok” balasku
kikuk dan salah tingkah.
“Ok, gue mau
Tanya sesuatu sama lo” katanya sok iyes. Jantungku mulai terasa berhenti dan
darahku mulai keruh mendengar kata-kata itu.
“Lo suka enggak sama
gue?” tanyanya membuatku terkejut dan harus melebarkan mata dan telingaku. Aku
hampir diam beberapa menit untuk menjawabnya atau tidak
“Emmm … iya, gue
suka sama lo” jawabku jujur sejujurnya
sesuai dengan isi hatiku.
“Hahahaha ... thanks
ya Prim” ucapnya setengah membuatku mati gaya. Aku pikir dia juga akan
mengungkapkan perasaannya padaku. Kalau sudah begini, aku begitu yakin kalau
gadis itu adalah kekasihnya. Terimaksih M.Deni Irawan, pasien yang paling
menyebalkan dan sok tengil di depanku.
Aku harus meninggalkanmu di sini sendiri, meskipun
sebenarnya aku masih ingin di sini. Kalaupun kita jodoh,
aku yakin kita pasti akan bertemu lagi, handphoneku sejak tadi sudah bergetar
karena kak Putra menelephoneku untuk
segera. Sepertinya Tuhan
telah meringankan kakiku untuk melangkah dari sini. Dan aku akan
bersenang-senang kembali dengan keluargaku, ayah dan kak Putra. Dan seharusnya
aku bersyukur karena ayah sudah sembuh dari sakitnya, dan seharusnya aku tak
perlu merasa galau seperti ini karena Deni yang tak jelas perasaannya padaku.
Yang harus kulakukan untuk Deni adalah semoga cepat sembuh dan berbahagia dengan
ayahnya yang sangat menyayanginya lebih dari yang ia tahu. Get well soon Deni J
Created
by: Hasniar Rahmawati
[Kamis, 05 Juli 2012]
2 komentar:
Niar. Seruuuu..
Skali kali bikin kisah nyata kehidupan cinta dirimu dooong..
hahahaha,, terimaksih Lisa :D
iya iya sedang disimpan kok,tapi masih secret :P hihihi
Posting Komentar