Rabu, 04 Juli 2012

^ADA YANG NGGAK BERES DENGAN KITA^


“De, ayah dirawat di rumah sakit” kata kakaku Putra. Hari ini aku sangat merasa bersalah karena kemarin aku menentang kemauan ayah agar aku berhenti dari ekskul basketku. Aku hanya tinggal bertiga bersama ayah dan kakaku Putra yang kemarin genap berusia dua puluh tahun, sedangkan ibuku telah meninggal dunia sejak usiaku balita karena sakit keras. Tak ada yang bisa kujelaskan lagi saat ini, karena begitu sibuknya aku menemani ayah dirawat disebuah rumah sakit di kotaku, ketakutanku semakin bertambah karena rasa bersalahku.
De gantian temenin ayah sana !” kata ka Putra padaku yang baru saja pulang sekolah
Aduh kak, aku lagi banyak tugas di sekolah !” jawabku
Makanya jangan ngurusin ekskul yang gak penting! gue lebih banyak tugasnya daripada lo, udah sana ke rumah sakit, kasihan itu ayah enggak ada yang nemenin”.
Dengan membawa martabak kesukaan ayah, sore ini aku bergegas untuk menemuinya. Sesampainya di tempat, untuk pertamakalinya aku melihat ayah terbaring lemah di ranjang rawatnya, begitu sangat merasa bersalahnya aku jika tidak menemaninya malam ini, terlebih pasien di samping ayah juga tidak ada yang menemani.
Pah, kemana aja si?? pokoknya Deni mau pindah dari ruangan ini? sejak kapan coba papa tempatin Deni di tempat sempit kayak gini??!!” suara pasien sebelah yang sangat tidak sopan itu sangat mengganguku dan ayah yang sedang tidur.

Maaf, telephonenya bisa pelan enggak? ayah saya lagi istirahat” pintaku selembut mungkin. Pasien itu hanya diam dan benar-benar tidak mempedulikanku.
Hallo Alan? Lo kapan mau ke sininya?”
Iya ntar malem gua kesana, udah ya gua lagi sama Mika. Bye Deni !!” sepertinya ia baru menelphone temannya. Percakapan-percakapan yang sangat membosankan sering kudengar dari pasien itu, M.Deni Irawan, 17th. Itu adalah sedikit identitas yang dapat kukenali dari papan nama di ranjangnya. Ayahpun terbangun dari tidurnya yang kurasa tak nyenyak karena suara berisik dari pasien seusiaku itu.
Ayah makan ya? sebelum minum obat kan ayah harus makan dulu” ucapku pada ayah.
Iya de, kakakmu mana?” tanya ayah.
Malam ini yang nemenin ayah Prima dulu yah, besok baru deh kak Putra, katanya si kak Putra lagi banyak tugas di kampus”
Owh jangan Prima dong, besok kan Prima harus  sekolah. Ayah sendiri juga enggak apa-apa kok, kan ada tetangga nih pasien sebelah” kata ayah sedikit memanjakanku.
Tapi kan tetangga sebelah juga enggak ada yang jagain yah.” bisikku
Gak apa-apa, ayah udah lumayan baikan kok. Masa si udah dirawat tiga hari enggak baik-baik juga!”
Ya udah deh, terserah ayah aja, hehehe” tapi bagaimanapun aku harus bermalam di rumah sakit untuk menemani ayah, meskipun paginya kau harus kesekolah lagi.
            Tepat pukul 20:00 WIB ayah memintaku untuk membeli bubur ayam di kantin Rumah Sakit. Sekembalinya aku dari membeli bubur di kantin, di dalam ruang inap ayah begitu tampak ramai, tiga remaja susiaku datang untuk menjenguk Deni, dan ketiga-tiganya adalah laki-laki.
Ternyata bisa sakit juga ya lo Den? hahaha” ejek salah seorang temannya yang berbadan jumbo.
Hahha, terus kata dokter lo udah boleh pulang kapan?” tanya seorang temannya lagi yang rasanya kemarin Deni telephone, Alan.
Gue juga enggak tahu, mana bokap enggak ngurusin banget lagi !” jawab Deni sok tengil.
Sabar aja Den, walaupun lo enggak ada yang jagain dan ngurusin kalau ada orang baik juga pasti simpati kok sama lo” kata seorang temannya lagi yang bergigi behel sambil melirikku.
Hahahaha bisa aja lo Den, tahu aja lo ada yang gituan!” sambung Alan lagi seperti sedang melirik ke arahku. Entah ada apa perasaanku mulai benar menduga jika mereka sedang membicarakanku setengah menyindir. Setelah satu jam lebih mereka baru meninggalkan ruangan dan berpamitan pada ayah dan aku,
Om, titip temen saya ya Om, kasian tuh om enggak ada yang nemenin” ucap bergigi behel itu pada ayah sambil bersalaman dan diikuti yang lain seperti mengharapkan sesuatu. Sedangkan Deni hanya cengar-cengir membuatku sangat kesal.
Iya iya. Hati-hati ya di jalan” balas ayah. Setelah mereka pergi hanya ada aku, ayah, Deni, dan beberapa suster serta perawat yang bolak-balik untuk menensi darah ayah dan Deni. Setelah kupikir-pikir kasihan juga Deni, tidak ada yang menemaninya disaat dia sakit seperti ini. Apalagi berdasarkan cerita ayah tadi, ia sudah dua hari ini dirawat karena kecelakaan, tetapi tidak ada satu keluarganyapun yang menjenguknya. Tengah malam, tepatnya pukul 00:01 WIB kudengar suara selimut yang mulai bergeser dari tubuh seseorang yang dingin, ternyata Deni, entah mau kemana dia, kalau saja aku tak ingat dengan kata-kata ayah tadi, aku pasti masa bodo dengannya. Akupun menghampirinya yang sibuk dengan infusnya.
Mau kemana?” tanyaku. Dia hanya diam dan terus sibuk dengan infusnya yang terlihat mati.
Mau gue tolongin enggak?” tanyaku lagi.
Kalau mau nolongin orang enggak usah pake acara nawar-nawarin gitu!” balasnya jutek.
Ya udah sekarang lo mau kemana? Mau pipis? gue anter. Ayo!” kataku lagi menuntunnya berjalan.
Udah enggak usah, gue bisa sendiri kok!” jawabnya melepas tanganku dari pundaknya. Sepertinya aku sudah mulai naik darah seperempat centi karenanya. Lalu aku biarkan ia berjalan sendiri seperti orang mabuk, naasnya ia terjatuh. Aku sangat terkejut melihatnya.
Ya Allah ya Allah, lo gak apa-apa kan? aduh lo belagu sih! gak mau gue tolongin !” kataku kesal dan coba membangunkannya dari jatuh.
Gue mau ke toilet!.” ujarnya setengah ngos-ngosan. Lalu aku antarkan ia ke toilet,  dengan gugupnya pintu toilet ia kunci. Ada yang aneh dengannya, karena sudah lumayan lama aku menunggunya keluar dari toilet, tetapi ia tak kunjung keluar. Ku ketuk pintu toilet itu. Benar-benar  tak ada suara dan gerak apapun di dalam, aku sangat mengkhawatirkannya karena takut terjadi sesuatu padanya. Pikiranku sudah tak karuan dan benar-benar berantakkan.
“Heii Deniii ... Deni lo ngapain si kok lama banget?” tanyaku gugup sambil mengetuk pintu. Aku begitu cemas dan hampir kupanggil seisi rumah sakit untuk mendobrak pintu itu. Aku panggil ia berulang kali namun masih tak ada jawaban, namun kali ini....
“Deni .. lo enggak apa-apa kan?! Hallo???” panggilku lagi
Lo itu berisik banget ya! gimana gue mau pipis kalau lo terus manggilin gue kayak dihutan?!” bentak Deni keluar dengan menampakkan kepalanya saja.
Ya tapi lo jawab dong panggilan gue !” balasku kesal.
 Ini benar-benar hal yang sangat menyebalkan sekaligus sangat tak masuk akal jika hanya buang air kecil saja sampai berjam-jam tak dapat keluar. Setelah empat puluh lima menit aku menunggunya di depan toilet, akhirnya iapun keluar dengan wajah tengilnya.
Udah sana lo tidur!, cewe kok jam segini belum tidur !” ucapnya membuatku tambah kesal.
Gue enggak tidur itu karena nolongin lo tau’ !!” Bentakku
Ya udah, thanks ya? gue mau tidur. Jangan ganggu gue !” balasnya tanpa dosa.
Aku masih tak percaya dan berdiri di depannya yang sudah terbaring dan memejamkan mata. Seperti melihatku masih berdiri didepannya, iapun kembali membuka matanya
Ngapain lo masih di sini? Perasaan, gue udah terimakasih deh sama lo, udah sana tidur!” katanya lagi. Akupun kembali dekat ayah dan tidur, meskipun darahku mulai naik turun karena Deni.
Paginya kak Putra sudah menjemputku untuk kembali beraktifitas sekolah seperti biasa. Di kelas, aku begitu merasakan kantuk yang tak tertahan, hingga konsentrasiku kali ini benar-benar hilang. Tak ada satupun mata pelajaran yang dapat kunikmati hari ini. Rasanya ini adalah efek dari kejadian semalam yang membuatku berantakan dan menjadi orang yang sangat bodoh karena Deni, kejadian menyebalkan itu benar-benar tak hilang dari otakku. Nanti siang aku harus merelakan absen ekskulku terisi C karena harus menemani ayah lagi di rumah sakit. Tapi sedikit senang rasanya karena baru saja aku mendapat kabar dari kak Putra kalau keadaan ayah sudah membaik. Ketika aku kembali kerumah sakit untuk ayah, disana aku kembali bertemu dengan Alan dan kawan-kawan Deni yang masih berseragam sekolah putih abu-abu sama sepertiku. Mereka seperti sedang asik ngobrol sambil ketawa-ketiwi,  tetapi sampainya menginjakkan kaki indahku di ruangan itu, mereka diam menyepi dan semua mata tertuju padaku, terutama Deni yang melihatku sambil mengusap mukanya yang penuh jerawat.
Yah, kata kak Putra besok ayah sudah boleh pulang ya?” tanyaku pada ayah yang sedang makan siang.
Katanya si begitu ..”
Syukur deh yah kalau gitu. Hehehe”
Eh Den, katanya lo besok mau maksain pulang ya??” Tanya teman Deni yang berbadan jumbo itu setengah teriak kearahku dan ayah.
Owh, besok Deni mau pulang?” sambar ayah membuka gorden Deni
Emmm anu om, gak juga kok. Heeee” jawab Deni gugup dan melirik kearah temannya yang berbadan jumbo tadi.
Wah, enak ya om kalau sudah boleh pulang” sambung Alan melirikku dan Deni. Ayah hanya tersenyum melihatku, aku semakin curiga dengan tingkah semua lelaki yang ada di ruangan ini, atau apakah sebenarnya ayah tahu apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Deni? Aku benar-benar tak mengerti, atau mungkin aku memang terlalu pede  karena ulah Deni yang membuatku menjadi konyol?, hari ini ayah banyak bercerita padaku tentang Deni, Deni adalah putra tunggal dari seorang pengusaha di Surabaya, dulu ia tinggal bersama neneknya di Jakarta karena ibunya meninggal dunia, tapi sekarang ia tinggal bersama ayahnya yang tak pasti kapan akan pulang dan menemuinya di sini, asal muasal ia dirawat di ruangan yang tak selayaknya ia huni inipun menjadi sebuah tema yang besar dalam hidupnya, kemehan adalah hidup Deni, namun sejak ditinggalkan oleh ibu dan neneknya kini ia tak berarti apa-apa lagi dengan kemehan yang selalu memanjakannya dimanapun ia berada. Ayahnya sengaja menempatkannya di ruangan yang pas-pasan untuk dua orang pasien ini karena sebab, yaitu tak ada yang menemani Deni jika ditempatkan di ruangan yang mewah. Dan tak ada yang menolong jika terjadi sesuatu padanya, namun jika Deni ditempatkan di sini sudah tentu akan ada orang yang selalu menjaganya saat sakit seperti ini. Mungkin saja dalam beberapa waktu ini selain aku menjaga ayah yang sedang sakit, aku juga sekaligus merangkap menjadi wonder woman untuk Deni, karena tak mungkin sekali rasanya kak Putra yang berbaik hati dan sabar membantu Deni yang egonya tingkat dewa. Kasihan sekali Deni, tak ada yang perduli padanya, mungkin hanya segelintir teman-temannya saja yang akan selalu membuatnya tertawa bahagia.
Pagi yang sangat cerah, hari ini adalah hari libur, saat aku mendorong kursi roda ayah di taman rumah sakit, aku melihat Deni bersama seorang gadis seusiaku sedang  berjalan berdua menitih Deni untuk pulih berjalan dari kecelakaannya, mereka terlihat sangat romantis dan bahagia. Aku sempat bertanya-tanya siapa gadis itu? Tapi untuk apa aku harus tahu, karena itu bukanlah urusanku. Tak kutampakkan wajah usangku pada mereka. Aku mencoba focus pada ayah yang sudah difonis baik oleh dokter. Aku tak perlu repot-repot lagi untuk jadi wonder woman Deni yang datang tiba-tiba dan seperti sudah kenal lama dengannya. Siang harinya,Deni tampak sendiri lagi di ruangan ini.
 “Prima??” Deni memanggilku yang sedang merapikan gorden sekat ruangan ayah dengannya dengan suara lembut.
Lo tahu nama gue? ada apa Den?” dengan pedenya aku menghampiri.
Dari abang lo. Bokap lo besok pulang ya?” tanyanya seperti tak ingin kutinggalkan
Iya, memangnya kenapa?”
Yaaa.. berarti besok gue kesepian ya?” keluhnya sedih beracting didepanku.
Bukannya semalem temen lo yang gendut itu bilang kalau hari ini lo mau pulang?“
Owh, itu namanya Bobby, dia emang suka ngawur. hehehe. Enggak kok gue belum boleh pulang”
“Terus berarti lo enggak suka kalau bokap gue sembuh dong?”
Ya enggak gitu juga si, tapi kan gue gimana? hehehe”
Lo baik atau pura-pura baik si? kemarin lo bentak-bentak gue? terus sekarang lo baikin gue, kenapa lo?” tanyaku blak-blakan.
Iya, gue mau ngucapin makasih banget sama lo selama  gue disini, gue jadi nyaman aja karena lo, tadinya gue pikir mana mungkin gue bakal betah dirawat di ruangan yang kayak gini? tapi ternyata gue betah juga, hahaha” ucapnya sedikit membuatku melayang dan hampir tersenyum.
Iya sama-sama” jawabku meninggalkannya keluar ruangan.
Emm eh Prima, sebelum lo besok pulang, ada yang mau lo omongin gak sama gue?” tanyanya pede dan membuatku berpikir tentang unek-unekku.
Gak ada” jawabku singkat dan sok cuek.
Owh. Gitu? Ya udah, kalau ada yang mau lo omongin, omongin aja ok.” ucapnya lagi seperti memaksaku untuk menanyakan sesuatu padanya. Sepanjang perjalanan menebus obat diapotek aku terus memikirkannya dan berandai-andai jika besok akan terjadi sesuatu antara aku dengannya.
Haripun berganti begitu cepat dan penuh cerita, aku dan kak Putra sibuk menyiapkan segala sesuatunya untuk kepulangan ayah kerumah, aku sibuk membereskan barang-barang ayah diruangan itu, sedangkan kak Putra yang membawa ayah ke mobil untuk dibawa pulang, ayah sempat berpamitan pada Deni untuk pulang duluan sekaligus menasihati Deni agar minum obat yang teratur dan jangan telat makan. Saat aku sedang membereskan semua barang-barang ayah di ruangan itu, Deni terus melihat kearahku, karena hanya ada aku dan Deni di ruangan itu, bahkan ia sempat memintaku untuk mengganti channel televisi dengan remot control yang berada di ranjang ayah.
“Prima, thanks ya buat semuanya?”ucapnya saat akan aku tinggal. Begitu beratnya aku melangkahkan kaki ini. Aku hanya diam melihat Deni tersenyum padaku.
Jadi, enggak ada yang mau lo tanyain ya kegue?” tanyanya. Sebenarnya aku ingin sekali menanyakan siapa gadis yang pagi itu bersamanya, tapi tak pantas sekali aku menanyakan itu padanya yang sedang sakit.
Kalau ada yang mau ditanyain atau lo mau buat pernyataan kegue, lo ngomong aja” katanya lagi hingga membuatku yakin kalau Deni menyimpan suatu perasaan yang sama denganku.
Enggak ada, kalau lo mau buat satu pernyataan atau pertanyaan kegue boleh kok” balasku kikuk dan salah tingkah.
Ok, gue mau Tanya sesuatu sama lo” katanya sok iyes. Jantungku mulai terasa berhenti dan darahku mulai keruh mendengar kata-kata itu.
Lo suka enggak sama gue?” tanyanya membuatku terkejut dan harus melebarkan mata dan telingaku. Aku hampir diam beberapa menit untuk menjawabnya atau tidak
Emmm … iya, gue suka sama lo” jawabku jujur sejujurnya  sesuai dengan isi hatiku.
Hahahaha ... thanks ya Prim” ucapnya setengah membuatku mati gaya. Aku pikir dia juga akan mengungkapkan perasaannya padaku. Kalau sudah begini, aku begitu yakin kalau gadis itu adalah kekasihnya. Terimaksih M.Deni Irawan, pasien yang paling menyebalkan dan  sok tengil di depanku. Aku harus meninggalkanmu di sini sendiri, meskipun sebenarnya aku masih ingin di sini. Kalaupun kita jodoh, aku yakin kita pasti akan bertemu lagi, handphoneku sejak tadi sudah bergetar karena kak Putra menelephoneku untuk segera. Sepertinya Tuhan telah meringankan kakiku untuk melangkah dari sini. Dan aku akan bersenang-senang kembali dengan keluargaku, ayah dan kak Putra. Dan seharusnya aku bersyukur karena ayah sudah sembuh dari sakitnya, dan seharusnya aku tak perlu merasa galau seperti ini karena Deni yang tak jelas perasaannya padaku. Yang harus kulakukan untuk Deni adalah semoga cepat sembuh dan berbahagia dengan ayahnya yang sangat menyayanginya lebih dari yang ia tahu. Get well soon Deni J
                                                                       

Created by: Hasniar Rahmawati
                                                                                  [Kamis, 05 Juli 2012]


2 komentar:

Unknown mengatakan...

Niar. Seruuuu..
Skali kali bikin kisah nyata kehidupan cinta dirimu dooong..

Unknown mengatakan...

hahahaha,, terimaksih Lisa :D

iya iya sedang disimpan kok,tapi masih secret :P hihihi